Tak Bisa Pulang, WNA Asal Thailand Ini Jadi 'Gelandangan' di Namrole
Mo, WNA asal Thailand ditemukan di Kota Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Pria 50 tahun ini sudah berada di Bursel selama lima bulan.

Frederik Simaela/Ambon Ekspres
Admin
16 Oct 2022 21:34 WIT

Tak Bisa Pulang, WNA Asal Thailand Ini Jadi 'Gelandangan' di Namrole

NAMROLE,AT.-  Seorang Warga Negara Asing ( WNA) asal Thailand  bernama Mo ( 50) jadi gelandangan di Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai nelayan.

Nelayan asal Desa Sangkaphen, Kota Chema,  hampir lima bulan berdomisili di kota Namrole. Mo datang ke Maluku  bersama 17 rekannya untuk dipekerjakan sebagai nelayan. 

Namun, setelah beberapa bulan bekerja, Mo bersama salah satu rekannya dipecat oleh pihak perusahaan yang membawa mereka ke Maluku karena tidak pandai melaksanakan tugas sebagai nelayan. 

Setelah menganggur, Mo diajak seorang anggota TNI ke Namrole, ibu kota Kabupaten Buru Selatan untuk menggarap lahan miliknya. Namun setelah tiba di Namrole, pekerjaan yang dijanjikan oknum TNi itu tak kunjung diberikan. 

Tak ada lahan untuk bertani. Saat di Namrole Mo tinggal di Markas Kodim  persiapan Bursel.  "Saya di Namrole sudah 5 bulan. Yang bawa saya ke sini itu anggota TNI. Tujuannya untuk menggarap lahan milik oknum TNi itu," ujar Mo kepada sejumlah wartawan di alun-alun Kota Namrole, Sabtu ( 15/10).

Karena tak mendapat pekerjaan tetap, Mo melakoni pekerjaan apapun, termasuk pengecoran bangunan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
"Saya ikut kerja bangunan. Tapi karena di sini hujan hampir beberapa bulan terkahir sehingga pekerjaan itu tidak lancar," tutur
Mo.

Untuk menyambung hidup, Mo beralih profesi sebagai buruh pikul di Pasar Namrole. Dari hasil kerjaan itu, upah yang diterima digunakan untuk membeli makanan.

"Di pasar itu kan ada warga datang membawa hasil - hasil kebun. Saya tawarkan jasa untuk memikulnya dan dibayar," kisahnya.

Mo mengaku punya keinginan untuk pulang ke Negara asalnya Thailand. Hanya saja, biayanya sangat besar. 

" Saya sudah mencoba untuk kumpul uang untuk membeli tiket. Namun karena biaya hidup,  uang tersebut akhirnya digunakan untuk makan dan minum serta biaya lainnya," terangnya. 

Mo berharap ada bantuan dan uluran tangan dari siapa saja untuk membantu biaya pulang ke Thailand. " Biaya kembali ke kampung halaman kurang lebih Rp 6 juta. Biaya itu harus didapat dari mana. Butuh kerja keras dan juga ukuran tangan orang lain," ujarnya dengan bahasa Indonesia aktif.

Tetap Waspa

Diberitakan sebelumnya,  Kepala Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Maluku ( Kemenkuham)  Maluku, Dedi Asnedi mengatakan, hingga akhir September tahun ini tidak ada WNA di Bursel. Namun, ia meminta Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) tetap waslada dan terus memantau.

“Kita tetap perlu mewaspadai kemungkinan adanya WNA lain yang mengunjungi daerah Buru Selatan baik itu di sektor wisata, perkebunan, maupun kegiatan lain yang mungkin diketahui para anggota Tim Pengawasan Orang Asing Kabupaten Buru Selatan dan Kecamatan Se-Kabupaten Buru Selatan,” ujar Asnedi dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi dan Pembahasan Timpora Kabupaten Buru Selatan dan Kecamatan Se-Kabupaten Buru Selatan, Kamis (6/10).

Tingkat kerawanan yang akan timbul kata Asnedi, diantaranya dari segi penyalahgunaan izin tinggal pekerja asing.

“Isu dewasa ini mengenai maraknya tenaga kerja asing yang patut kita awasi bersama-sama, dan itu juga harus dilakukan di Buru Selatan,” ujarnya.

Asnedi mengajak semua orang bersama-sama saling bahu membahu mengawasi kegiatan orang asing di wilayah kerja, sehingga dapat mengantisipasi hal-hal negatif yang kemungkinan bisa terjadi.

“Kita harapkan pula pengawasan yang kita laksanakan memenuhi kaidah-kaidah aturan yang berlaku tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Buru Selatan, namun juga dapat meningkatkan investasi di Kabupaten Buru Selatan,” tandas Asnedi. (ESI)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai