AMBON, AT.--Peneliti lingkungan dari Universitas Pattimura, Dr Yustinus Male mengatakan air sungai Anahoni di Kabupaten Buru yang berwarna biru merupakan reaksi zat Sianida (HCN) dengan zat sulfida besi dengan rumus kimia FeS2 (besi(II) disulfida. Reaksi zat bisa menyebabkan kematian biota air dan membahayakan tubuh manusia.
"Kalau sungai biru seperti itu menandakan penggunaan sianida sangat berlebihan di area tambang. Ada dua kemungkinan. Pertama, karena musim hujan, air rendaman sianida itu meluap, atau rendaman bocor," kata Male saat dihubungi Ambonterkini.id, Sabtu (6/8).
Dia menjelaskan, awalnya, kandungan emas berasosiasi dengan sulfida besi atau pirit (Pyrite) membentuk emas semu atau emas tipuan (urat emas) yang melimpah di area tambang. Para penambang biasanya menggunakan petunjuk urat emas tersebut untuk mencari emas.
"Penggunaan sianida yang sudah melebihi ambang batas. Senyawa biru itu sangat beracun bagi hewan air. Hewan yang bernafas dengan insang, nanti sangat rusak insangnya. Kalau manusia, tentu ada efeknya, gatal-gatal dan sebagainya kalau mandi atau mengonsumsi air itu,"papar Male yang melakukan banyak penelitian di lokasi tambang Gunung Botak di Buru.
Male bersama timnya melakukan penelitian terakhir pada Oktober 2021 yang menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri di rambut penduduk sekitar Teluk Kayeli sudah tinggi.
"Kandungan merkuri di rambut penduduk di teluk Kayeli sudah sangat melebihi ambang batas. Ukuran di tubuh tinggi, indikatornya di rambut. Tapi yang sedang terjadi di sungai Anahoni saat ini, adalah akibat reaksi penyatuan senyawa besi dengan sianida. Kalau merkuri dampaknya jangka panjang,"jelasnya.
Dosen di Fakultas Matetmatika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unpatti, itu mengaku, telah mempresentasikan hal penelitiannya tentangan kandungan merkuri di sejumlah instansi, termasuk mantan Bupati Buru Ramli Umasugi Termasuk merekomendasikan sejumlah hal penting terkait pengelolaan tambang emas di Gunung Botak.
"Saya sudah merekomendasikan ke pemda. Harus ada teknologinya, antara bisa dijadikan WTR (Wilayah Tambang Rakyat) bagi rakyat, IUP (Izin Usaha Pertambangan) bagi perusahaan yang besar, atau harus ada koperasi, ada dokumen lingkungannya. Tapi itu tidak terjadi. Yang terjadi justru uncontrol (tidak terkontrol) di bawah itu. Dibiarkan tanpa kendali,"pungkasnya.
Sungai Biru
Diberitakan sebelumnya, masyarakat sekitar sungai Anahoni dan Wamsait, Kabupaten Buru dihebohkan dengan air sungai yang berubah warna menjadi biru. Diduga, dua sangai tersebut telah tercemar bahan berbahaya dan beracun atau B3 termasuk merkuri akibat aktivitas tambang emas ilegal di Gunung Botak.
Kejadian ini dibagikan Lilitan Ohorella di laman facebooknya, Sabtu (6/8) malam. Dua sungai berubah warna, bermuarah ke Teluk Kayeli dan Teluk Namlea, Kabupaten Buru.
"Keajaiban dunia di tanah Bupolo (Buru), tepatnya di Gunung Botak. Di sana ada sungai yang airnya berwarna biru, yang mengalir dari puncak gunung turun ke kali Anahoni dan kali Wamsaid. Kali Anahoni bermuara langsung ke laut di teluk Kayeli, dan kali Wamsaid airnya ada yang mampir ke sawah-sawah irigasi teknis sebelum tumpah juga ke laut di teluk Namlea. Mari kita nikmati keajaiban dunia hasil olahan perusak lingkungan yang memasok bahan berbahaya beracun (B3), Cn dan Kotis,"tulis Lili.
Video air sungai berubah warna ini telah beredar sejak Jumat (5/8) kemarin. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Kabupaten Buru. (tb)
Dapatkan sekarang