NAMROLE,AT-Angka Stunting di Kabupaten Buru Selatan yang pada tahun 2023 turun menjadi 35,5 persen kembali mengalami peningkatan pada tahun 2024. Tahun 2024 kemarin angka stunting di Kabupaten dengan julukan Lolik Lalen Fedak Fena itu kembali bergerak naik menjadi 39,7 persen.
"Untuk angka stunting di Bursel dia kembali mengalami fluktuasi karena ada yang turun tetapi ada juga yang mengalami kenaikan. Dimana stunting di Bursel tahun 2021 angka berada pada angka 39,1 persen, tahun 2022 naik menjadi 41,6 persen, tahun 2023 turun lagi 35,5 persen dan pada tahun 2024 kemarin naik lagi menjadi 39, 7 persen . Angka ini merupakan angka yang tertinggi di Provinsi Maluku dan dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia lewat Survei Status Gizi Indonesia ( SSGI). Demikian hal ini dikatakan Wakil Bupati Buru Selatan Gerson Elieser Selsily dalam arahannya saat memberikan materi dalam kegiatan Rapat Fasilitasi Tim Perceoatab Penurunan Stunting Kabupaten Buru Selatan Tahun 2025 yang berlangsung di aula lantai II Kantor Bupati Buru Selatan, kemarin
Selsily yang juga ketua TPPS Kabupaten Buru Selatan ini menegaskan, ada beberapa faktor yang menjadi pemasalahan tingginya angka stunting, yakni realisasi kegiatan tidak sesuai dengan target yang ditetapkan. Lemahnya sistim pengawasan yang memastikan kegiatan berjalan dengan maksimal. Stekholder terintegrasi , serta minimnya pengetahuan para pelaku tentang stunting.
"Ini faktor- faktor yang menyebabkan tingginya angka stunting di Buru Selatan," akuinya.
Untuk menurunkan angka stunting, kata Selsily maka ada langkah strategis yang harus dilakukan diantaranya gerak cepat dalam rangka penurunan angka stunting.
Penertiban program dan penguatan pengawasan, perkuat kolaborasi stecholder. Berantas stunting, edukasi gizi dan literasi masyarakat, serta pemberdayaan keluarga dan komunitas.
"Di Buru Selatan ini ada 11 desa lokus stunting yang harus menjadi perhatian dari TPPS yakni, desa Pasir Putih, desa Nanali, Desa Air tenate, Desa Sekat, Desa Waewali, Desa Waemulang, Desa Waekatin, Desa Lena, Desa Siwar, dan Desa Wali," sebutnya.
Guna menurunkan angka stunting, maka harus ada kerjasama dari semua pihak temasuk kepala desa dan pimpinan Puskemas yang ada pada setiap kecamatan dalam wilayah Kabupaten Buru Selatan.
"Untuk hal ini juga butuh keseriusan dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ( DKPPKB). Dinas ini harus menjadi ujung tombak dalam penurunan angka stunting di Buru Selatan," tegasnya.
Berdasarkan langkah - langkah strategis dan berbagai program yang akan dilakukan oleh TPPS dan dukungan dari semua stakholder maka target penurunan angka stunting di Kabupaten Buru Selatan tahun pada tahun 2025, pada angka 35 persen, tahun 2026 31,5 persen, tahun 2027 28 persen, tahun 2028, 24,5 persen, tahun 2029, 21 persen. Saya sangat optimis apa yang kita targetkan itu bisa tercapai tutupnya.
Untuk diketahui kegiatan Rapat Fasilitasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Buru Selatan Tahun 2025 dikuti oleh Pimpinan OPD yang berkaitan langsung dengan masalah stunting, camat, kepala desa yang menjadi lokus stunting. Hadir pulua Asisten II Rahmad Dasuki dan sejumlah staf ahli Bupati. (Edy)
Dapatkan sekarang