AMBON, AT — Empat pemuda asal Negeri Liang sukses melaksanakan penyelaman perdana dalam aksi transplantasi karang. Kegiatan ini merupakan bagian dari Project Liang, sebuah inisiatif yang digagas oleh Jala Ina sejak tahun 2024.
Dalam aksi perdana tersebut, sebanyak 60 bibit karang berhasil ditanam di perairan Negeri Liang.
Selain menanam bibit baru, para pemuda ini juga melakukan monitoring terhadap karang-karang yang telah ditanam pada program Jala Ina sebelumnya.
Keempat pemuda tersebut adalah Munir Wael, Virbal Samual, Sri Dewi Maharani, dan Wirda Opier. Saat ini, mereka telah mengantongi sertifikasi selam open water setelah mengikuti serangkaian pelatihan yang difasilitasi oleh Sekolah Jaga Kepulauan (SEJALAN), termasuk pelatihan selam ilmiah.
Penyelaman perdana ini menjadi langkah awal keterlibatan aktif generasi muda Negeri Liang dalam memulihkan dan melestarikan ekosistem laut.
Fokus utama mereka adalah memperbaiki terumbu karang yang rusak akibat praktik penangkapan ikan menggunakan bom (destructive fishing).
Salah satu pemuda, Virbal Samual, mengaku terharu sekaligus bangga bisa terlibat langsung dalam menjaga ekosistem laut di kampung halamannya.
Menurut Virbal, pengalaman mengikuti pelatihan hingga mengeksekusi transplantasi karang telah memberikan cara pandang baru baginya.
Ia mengaku sempat terkejut saat melihat langsung parahnya kerusakan bawah laut di desanya.
“Kemarin pas lihat akang (itu), beta (saya) hati ancor (hancur)! Beta seng (tidak) sangka karang rusak bagitu (seperti itu). Karena itu, beta deng tamang-tamang (saya dan teman-teman) su (sudah) bertekad par (untuk) terus belajar supaya katong (kita) bisa jaga ekosistem karang di katong pung (kita punya) kampung,” ujar Virbal dengan dialek khas Ambon.
Sentimen serupa disampaikan oleh Wirda Opier. Ia menilai keterlibatan anak muda dalam aksi konservasi ini menjadi refleksi penting untuk membuka mata masyarakat mengenai kondisi riil laut Negeri Liang.
“Selama ini katong hanya lihat laut sebagai tempat cari ikan dan tempat wisata. Tapi sekarang katong lebih paham kalau terumbu karang harus dijaga supaya laut tetap hidup untuk generasi berikut,” kata Wirda.
Sejak digulirkan pada tahun 2024, Project Liang fokus pada pemulihan ekosistem terumbu karang di wilayah tersebut.
Program ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Pemerintah Negeri Liang sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga wilayah pesisir.

Direktur Eksekutif Jala Ina, M. Yusuf Sangadji, menegaskan bahwa keberlanjutan Project Liang sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, khususnya generasi muda.
“Keberhasilan Project Liang bergantung pada partisipasi dan kesadaran kolektif masyarakat Liang untuk menjaga ruang hidup mereka. Pemuda harus terlibat karena merekalah yang akan merasakan dampaknya di masa depan jika ekosistem ini rusak. Terlibat langsung adalah keharusan untuk melindungi ruang hidup mereka sejak dini,” tegas Yusuf.
Melalui program ini, pemuda Negeri Liang didorong menjadi motor penggerak utama dalam pelestarian wilayah pesisir berbasis komunitas.
Mereka tidak hanya dibekali kemampuan teknis seperti penyelaman, selam ilmiah, dan transplantasi karang, tetapi juga diperkuat secara konseptual mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Ke depan, para pemuda yang tergabung dalam komunitas Sahabat Pante ini akan aktif mengampanyekan serta mengadvokasi pemulihan ekosistem di Negeri Liang.
Komunitas ini diharapkan mampu menyebarkan virus kesadaran kepada masyarakat luas demi menjaga laut yang berkelanjutan. (tab)
Dapatkan sekarang