Penderita HIV-AIDS Tidak Menunggu Mati
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy memaparkan jumlah kasus HIV-AIDS di Ambon selama periode Januari hingga Juni 2023 dan upaya penanganan pada Pertemuan Pemangku Kepentingan Terkait HIV di Tingkat Kabupaten di Hotel Golden Palace, Kota Ambon, Rabu (5/7).

TAJUDIN BUANO / AMBON EKSPRES
Admin
06 Jul 2023 10:44 WIT

Penderita HIV-AIDS Tidak Menunggu Mati

AMBON,AT.--Jumlah penderita HIV (human immunodeficency virus) di Kota Ambon semakin bertambah. Namun, harapan hidup para penderita dapat diperpanjang lewat pengobatan yang tepat dan teratur. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, drg. Wendy Pelupessy mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Ambon per Januari hingga Juni 2023, terdapat 174 kasus baru HIV di kota ini. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil skrining terhadap 10.047 orang di 34 fasilitas kesehatan pemeriksa, baik puskesmas, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swastam maupun klinik dan balai dan laboratorium kesehatan. 

Data tersebut juga menunjukkan, laki-kaki yang paling banyak terpapar yakni 118, dan perempuan 56. Kemudian, golongan umur di bawah 4 tahun sebanyak 4 orang, 5-19 tahun 21 orang, 20-24 tahun sebanyak 37 orang, dan  25-49 (usia produktif) sebanyak 116 orang. 

Sedangkan penderita AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan stadium akhir dari HIV sebanyak 8 orang. Yang terdiri dari laki-laki 5 orang, dan perempuan 3 orang, dengan rentang usia 15-19 tahun sebanyak 1 orang, 20-24 tahun 1 orang, dan 25-49 sebanyak 6 orang. 

“Jumlah orang dites yang baru 10.047, tentu masih jauh dari target. Kota Ambon itu diberi target 30.000 orang selama satu tahun. Jadi, perlu ada kolabarasi yang intens lagi,”kata Wendy saat menyampaikan materi pada Pertemuan Pemangku Kepentingan Terkait HIV di Tingkat Kabupaten yang dilaksanakan Yayasan Pelangi Maluku (YPM) di Hotel Golden Palace, Kota Ambon, Rabu (5/7).

Semakin banyak orang yang diketahui tertular HIV dan AIDS, kata Wendy, justru baik bagi upaya penanganan. Sebab, jika orang yang terpapar tapi tidak teridenfikasi lewat proses skrining sangat berpotensi menularkan kepada orang dalam jumlah lebih banyak.
“Bayangkan jumlah ini (174) yang terpapar ketika pulang ke rumah menularkan ke istri lalu hamil, maka anaknya berpotensi kena HIV juga. Kalau satu orang menularkan ke 10 orang saja, maka sudah 1.700 kasus. Lalu, kita mau tinggal diam. Jadi apa kota kita ini ke depan,”ungkapnya. 

Menurut Wendy, harapan hidup penyintas HIV-AIDS dapat diperpanjang jika ditangani secara maksimal lewat pengobatan rutin. Dengan kata lain, penderita tidak menunggu vonis mati dari dokter, tapi tetap bertahan menghadapi virus tersebut. 

Dikatakan, strategi yang selama ini dilakukan Dinkes Kota Ambon adalah dengan konsep STOP yakni Suluh (95 persen masyarakat paham HIV), Temukan (95 persen ODHA/Orang Dengan HIV-AIDS tahu statusnya), Obati (95 persen ODHA mendapat terapi obat ARV/antiretroviral), dan Pertahankan (95 persen ODHA yang ART/Retro Viral Treatment tidak terdeteksi  virusnya). 

Hingga saat belum ada angka pasti berapa tahun orang dengan HIV bisa bertahan hidup. Namun dikutip dari berbagai sumber, dalam kasus infeksi HIV yang tidak diobati, angka kematian secara keseluruhan mencapai lebih dari 90 persen. Waktu rata-rata dari infeksi hingga kematian adalah delapan hingga sepuluh tahun. 
    
Namun, ada banyak faktor yang memengaruhi kelangsungan hidup, yaitu gen, kesehatan mental, penyalahgunaan obat atau alkohol, superinfeksi dengan varian HIV yang lain, nutrisi, usia dan perawatan.

Dengan meningkatnya penggunaan terapi antiretroviral (ART) dan pengenalan rejimen antivirus yang lebih baik, kelangsungan hidup ODHIV telah meningkat dari waktu ke waktu. Meski ini belum bisa menyamai dengan kelangsungan hidup individu yang tidak terinfeksi. 

Sedangkan pengidap AIDS rata-rata hanya bertahan hidup selama tiga tahun. “Semakin banyak HIV yang kita temukan, itu artinya baik. Karena kalau para penderita ini melakukan pengobatam rutin, maka harapan hidupnya masih panjang. Bisa sehat, bekerja seperti orang lain pada umumnya. Mereka bisa bertahan hidup 10 sampai 20 tahun. Tetapi kalau AIDS, maka tunggu waktu saja,”papar Wendy. 

Pentingnya Kolaborasi

Pada kesempatan itu pula, Wendy mamaparkan data kumulatif sejak 1994 hingga 2023, terdapat 1.179 orang di Kota Ambon terpapar HIV dan 8 orang AIDS. Yang meninggal dunia 762 orang. 

Dia menegaskan, pemerintah tidak akan mampu berjalan sendiri untuk mencegah penularan HIV-AIDS maupun mengobadi penderita. Perlu kolaborasi semua pemangku kepentingan, termasuk lembaga swadaya masyarakat maupun media massa agar target zero HIV-AIDS pada 2030 dapat tercapai. 

Dinkes Kota Ambon, lanjut dia, bekerja sama dengan YPM untuk menggandeng Puskesmas dalam wilayah kerja dinas Kesehatan Kota Ambon untuk melakukan  mobile di populasi kunci/khusus maupun umum. Sedangkan dengan INSET untuk melakukan pendampingan dan penguatan terhadap ODHIV yang akan melakukan pengobatan maupun yang LFU.

“Kita harus melakukan pendekatan dan pendampingan yang memang lebih banyak dilakukan YPM dan INSET. Selain skrining, lebih juga melakukan pengobatan,”ungkapnya. 

Dia menambahkan, tes molekuler untuk tahu mengetahui kekebalan tubuh orang dengan HIV hanya bisa dilakukan di Kota Ambon, yakni di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Haulussy, Puskesmas Waihaong dan Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Maluku. 

Sedangkan untuk  fasilitas pelayanan kesehatan yang pernah menemukan dan melakukan konseling bagi penderita HIV adalah sebanyak 34 di luar puskesmas yang melaporkan. Kemudian rumah sakit pemerintah dan swasta, klinik dan balai kesehatan lainnya.

Sedangkan untuk pengobatan di PDP sebanyak 16 pusat pelayanan. Terdiri dari 6 Puskesmas yakni Puskesmas Waehaong, Karpan, Rijali, Benteng, Poka dan Passo, delapan rumah sakit yakni RSUD Haulussy, RS Sumber Hidup, RSUP Leimena, RS Siloam, Rs Bhayangkara, RS Al-Fatah, RS Hative, dan RS J.A.Latumeten, serta dua klinik atau balai, yaitu Kilik Candela dan BKPM. 

Dikatakan, melakukan tes HIV/AIDS kepada masyarakat yang ingin berobat, merupakan salah satu cara untuk memutus mata rantai penularan HIV. Oleh itu, dia mendorong lebih banyak fasilitas kesehatan melalukan tes terhadap pasien. “Ketika kita tahu orang terkena HIV, kita lakukan pengobatan untuk memutus mata rantai HIV,”paparnya. 

Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Kota Ambon, Frederika Latupapua mengatakan, perlu sosialiasi juga di lingkungan rumah ibadah, sekolah, perguruan tinggi dengan menggandeng media massa untuk publikasi dan edukasi kepada masyarakat. Bahkan, jika memungkinkamn HIV-AIDS  bisa masuk dalam salah satu mata pelajaran atau mata kuliah. 

“Jadi, menurut saya, harus fokus juga pada pencegahan. Terutama dari sisi mental. Kita harus jaga anak-anak kita,”jelasnya. 

DPRD Kota Ambon sesuai tupoksi pengawasan, anggaran dan legislasi,  kata dia, tetap berupaya bersama pemerintah Kota Ambon dan pemangku kepentingan lain untuk penanganan HIV-AIDS. Perlu ada Peraturan Daerah (Perda) atau minimal Peraturan Walikota (Perwali) agar penangannya bisa maksimal. 

Frederika juga mengungkapkan, pihaknya terus mendorong agar anggaran penanganan penyakit menular, termasuk HIV dinaikkan. Sebab, pencegahan maupun pengobatan tidak dapat dilakukan secara maksimal dengan anggaran yang terbatas. 

“Anggaran untuk penanganan HIV dan penyakit menular lainnya dalam APBD kalau tidak salah hanya 200 juta. Ini sangat kecil. Untuk penanganan HIV/AIDS saja, anggaran itu tidak cukup. Setelah melalui kajian dan usulan anggaran yang disampaikan DPRD, sekarang naik menjadi Rp500 juta,”pungkasnya. 

Stop Stigma dan Diskriminasi

Direktur Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Karamoy mengatakan, sejak Januari hingga Juni 2023, pihaknya telah menjangakau 1.697orang laki-laki seks laki-laki (LSL) untuk dites HIV. Yang berhasil melakukan tes 1.217 orang, dan positif HIV sebanyak 23 orang. 

Sedangkan perempuan seks perempuan (PSP) yang dijangkau sebanyak 629, tapi yang tes hanya 364, dan positif 1 orang/kasus. Untuk menjangkau ribuan orang tersebut, YPM melakukan mobile testing setiap bulan. 

“Selain itu, kami juga bikin Focus Group Discussion (FGD) bagi sekitar 20 orang untuk memberikan pemahaman dan kemudian mereka akhirnya mau tes. Kita ajak mereka untuk memberitahu teman mereka agar dites juga, dengan memberikan alamat dan lainnya,”papar dia. 

Rosa menjelaskan, setidaknya ada tiga penyabab orang kena HIV-AIDS, yakni ganti-ganti pasangan seksual, dari ibu positif tertular kepada bayi, dan jarum suntik yang tidak steril ketika digunakan. “Pencegahannya puasa seks, setia untuk satu pasangan saja, pakai kondom bagi yang berisiko, tidak mengonumsi narkoba, dan edukasi,”jelasnya. 

Dia menambahkan, berdasarkan pengalamannya selama 23 tahun menggeluti HIV-AIDS, yang membuat kebanyakan orang belum melalukan tes secara mandiri maupun saat didatangi langsung di komunitas dan rumah ke rumah karena masih kuatnya stigmatisasi dan diskriminasi. Stigma bisa berupa ganti-ganti pasangan dan lainnya. 

“Karena ketika kita mau tes HIV, orang sudah berkesimpulan dan menstigma bahwa kita suka ganti-ganti pasangan seks. Padahal, tujuan tes itu untuk mengetahui secara rutin kondisi kesehatan tubuh kita terhadap HIV. Nah, harusnya biasa saja. Menurut saya berdasarkan kajian yang saya lakukan bertahun-tahun, diskriminasi terhadap penderita maupun yang bersiko masih cukup tinggi,”pungkasnya. (TAB)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai