AMBON,AT-Presiden Joko Widodo resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke XVII, di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (4/6) kemarin.
Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Kemudian Penjabat Gubernur Kalimantan Timur Akmal Malik, Wali Kota Balikpapan Rahmad dan Ketua Dewan Pengurus APEKSI Eri Cahyad. Kegiatan ini juga dihadiri seluruh peserta APEKSI yang merupakan para walikota di Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Negara menegaskan pentingnya persiapan yang matang dalam menghadapi tantangan di mana pada tahun 2045 mendatang 70 persen penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di perkotaan.
"Sudah sering saya sampaikan bahwa di tahun 2045, 70 persen penduduk kita ini akan ada di perkotaan. Kalau dunia di tahun 2050? 80 persen penduduk dunia akan di perkotaan. Apa yang akan terjadi? Beban kota akan menjadi sangat berat," ujar Presiden Jokowi.
Menurut Presiden, rencana kota yang detail untuk setiap kota di Indonesia penting dilakukan. Hal tersebut agar fenomena seperti di Eropa atau Amerika, di mana kota-kota menjadi mencekam akibat tingginya tingkat pengangguran dan jumlah orang yang menjadi tunawisma, tidak terjadi di Indonesia.
Oleh sebab itu, Presiden turut menekankan pentingnya mempersiapkan transportasi massal di setiap kota di Indonesia. Presiden Jokowi menyebut bahwa saat ini terdapat alternatif pembangunan transportasi massal, salah satunya adalah ART (autonomous rapid transit).
"Tidak pakai rel, pakai magnet. Bisa 3 gerbong, 2 gerbong, 3 gerbong atau 1 gerbong ya ini jauh lebih murah. Nanti kalau ada yang APBD-nya memiliki kemampuan tolong berhubungan dengan Pak Menteri Perhubungan. Bisa bagi-bagi 50-50, APBD 50 persen, APBN 50 persen misalnya," ucap Presiden.
Di sisi lain, Presiden Jokowi juga menekankan bahwa kota masa depan bukanlah sekadar kota modern dengan gedung pencakar langit yang tinggi, melainkan kota yang ramah terhadap pejalan kaki, penyandang disabilitas, pesepeda, dan lingkungan.
Selain itu, penghijauan kota turut menjadi salah satu fokus utama untuk menciptakan kota yang sejuk dan nyaman.
"Sekali lagi kota masa depan yang diidamkan adalah kota yang green city, yang smart city, yang creativite city, yang liveable dan lovable,"pungkas Presiden.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Walikota Ambon, Dominggus Nicodemus Kaya yang diwawancarai media mengaku, semua yang menjadi arahan Presiden tetap diprioritaskan Pemerintah Kota Ambon.
Menyoal terhadap apa saja isu yang dibawa oleh Pemkot Ambon pada Rakernas kali ini, ia mengaku, masalah klasik yang perlu menjadi atensi pihaknya adalah mengenai penanganan sampah.
"Atensi yang dibawa Kota Ambon dalam rakernas ini sendiri, kita memang masih menunggu besok pelaksanaannya. Di situ akan ada pleno-pleno, baik itu soal lingkungan hidup, soal ekonomi tapi juga soal politik dan Ideologi menghadapi Pilkada. Nanti kita akan ada disana," paparnya.
"Kalau kita punya komitmen dari Ambon, berkeinginan kalau soal lingkungan hidup berarti masalahnya ada di sampah. Sebab mengenai masalah ini kita butuh dukungan dari pemerintah pusat,"sambungnya.
Menurutnya, guna mengatasi masalah sampah di Ambon, tidak mungkin bergerak sendiri, ada dana-dana DAK, dan dana khusus yang disiapkan untuk lingkungan hidup.
Sehingga kota-kota yang membutuhkan tindakan-tindakan seperti yang diarahkan oleh Presiden bahwa kota-kota di Indonesia harus menjadi tempat yang ramah bagi pejalan kaki, kaum disabilitas, pengguna sepeda, perempuan, dan anak-anak.
"Misalnya sampah, kalau ada dapat bantuan anggarannya maka akan diprioritaskan untuk infrastruktur seperti penataan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta penambahan armada yang besar misalnya truk maupun Tosa, termasuk juga tenaga pembersih," ungkapnya.
Ditambahkan Kaya, untuk mewujudkan semua yang ditekankan Presiden terutama membuat kota menjadi tempat yang ramah bagi semua orang, maka yang harus diperhatikan pertama adalah persoalan kebersihan.
"Yang pertama adalah kebersihan, makanya masalah penanganan sampah menjadi prioritas atau atensi kita untuk dibahas di Rakernas. Walaupun waktu saya singkat dalam jabatan Pj Walikota, tapi setidaknya harus ada pondasi-pondasi yang dibangun dulu untuk membuat kota menjadi hijau, bersih serta aman dan nyaman bagi semua orang," tutupnya.(Nal)
Dapatkan sekarang