AMBON,AT.—Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) fokus memberantang stunting. Pasalnya, stunting di daerah ini masih cukup tinggi, namun belum ada penanganan secara tepat.
Batasan prevelensi stunting menurut World Health Organization (WHO) adalah sebesar 20 persen. Kabupaten Kepulauan Tanimbar memiliki prevelensi balita stunting berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 adalah 25,1 persen.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan angka stunting di Kepulauan Tanimbar, masih sangat tinggi sehingga membutuhkan kerja keras semua pihak baik Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Desa, individu, kelompok/komunitas, dan swasta. Pemkab KKT melaksanakan rapat koordinasi monitoring dan evalulasi pengendalian percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Rabu (9/11).
"Pemda akan terus berkomitmen menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai program prioritas di KKT. Karena sesuai amanat Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 mengharuskan Pemda Tanimbar harus berupaya menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, sert meningkatkan akses air minum dan sanitasi,"kata Penjabat Bupati Kepulauan Tanimbar, Daniel E. Indey yang dibacakan Sekretaris Daerah, Ruben Moriolkosu.
Indey berharap, seluruh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di tingkat kabupaten sampai di desa serta para mitra kerja berperan aktif agar kegiatan percepatan penanganan stunting terintegrasi secara utuh dan menyeluruh.
"Tingkat prevalensi balita stunting Kabupaten Kepulauan Tanimbar masih tinggi dan oleh karena itu harus kita atasi bersama," pungkasnya. (MAL)
Dapatkan sekarang