AMBON,AT-Industri sepakbola Maluku seperti berjalan stagnan dalam beberapa waktu terakhir. Kegagalan tim asal Bumi Seribu Pulau untuk naik level ke kompetisi Liga 2 merupakan dampak lanjutan dari buruknya pembangunan sepakbola di Maluku. Ini 'Pekerjaan Rumah' yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
Berkaca dari provinsi lain di Indonesia, sepakbola Maluku terasa sangat jauh tertinggal. Jangankan berbicara tentang prestasi, infrastruktur juga masih jauh dari yang diharapkan.
Bisa jadi, lambatnya pembangunan infrastruktur merupakan asal mula keterpurukan prestasi. Masalah mendasar yang berada di hulu tak pernah diselesaikan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini.
Problem yang tak pernah tertangani itu menjadi keresahan bagi sosok Sofyan Lestaluhu. Sang nakhoda Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) Maluku itu merasa gemas dengan situasi yang terhampar di depan mata.
“Tim tidak akan bisa bagus kalau tidak ada kompetisi bagus. Kompetisi yang bagus tidak akan bisa bagus kalau youth development tidak memadai. Tetapi bagaimana itu bisa bagus kalau tidak ada infrastruktur? Artinya, prestasi dari sebuah tim itu harus ditopang dengan infrastruktur yang memadai. Itu kuncinya, " ungkapnya.
Menurut Sofyan, potensi sepakbola di Maluku terlebih usia muda sangat luar biasa. Sayang, masih banyak unsur yang hingga kini masih jauh dari perhatian pemerintah. Salah satunya adalah sarana dan prasarana (Sarpras) yang belum memadai.
"Hingga saat ini, kompetisi sepakbola resmi PSSI lebih banyak dilaksanakan di Lapangan Lease Lantamal IX Ambon. Hal ini disebabkan kualitas Stadion Mandala Remaja di Karang Panjang tidak layak untuk menjadi tempat digelarnya sebuah kompetisi," jelasnya.
Sebagai pengelolah lapangan tersebut, Alumni UKI Jakarta ini berharap, Pemprov dapat merevitalisasi beberapa fasilitas olahraga sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebab, pelaku sepakbola tidak dapat bekerja sendiri tanpa ada campur tangan dari pemerintah daerah.
"Pemerintah yang memiliki kewenangan dan kebijakan. Olehnya itu, kami sangat membutuhkan dukungan dan kolaborasi yang terintegrasi untuk memajukan sepakbola di Maluku," kata Sofyan.
Menurut Sofyan, sepakbola tidak bisa dibicarakan secara spasial, karena ada banyak unsur yang perlu diperhatikan seperti kepelatihan. Makanya, dibutuhkan pelatih yang memiliki kemampuan sehingga dapat melatih para pemain sesuai dengan filosofi sepakbola Indonesia.
"Unsur lainnya adalah perangkat pertandingan yang terdiri dari pengawas pertandingan, dan wasit sebagai penengah di lapangan. Dimana baik atau tidaknya sebuah pertandingan sangat ditentukan oleh kualitas wasit di lapangan," jelas Sofyan saat menjadi narasumber dalam pogram perdana Ameks Sporty yang disiarkan Radio Ameks 92,5 FM, Rabu (20/9) .
MALUKU TOREHKAN SEJARAH EMAS
Tim sepakbola Maluku U-15, pernah mencatat sejarah gemilang dalam dunia sepakbola nasional. Sebut saja, tim Sepakbola Maluku U-15 yang menjadi juara Piala Medco U-15 medio 2006 silam.
"Tim usia muda Maluku pernah menorehkan sejarah manis saat pasukan binaan Sani Tawainella (Alm) berhasil membawa pulang trophy Piala Medco usia menaklukkan tim DKI Jakarta yang berkesudahan 5-4 lewat drama adu penalti, " kenang Sofyan.
Bagi Sofyan, pelaku sepakbola merupakan aset bagi daerah. Karena itu, pengembangan sepakbola di Maluku perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Seluruh tim di Maluku sediri, tutur Sofyan, masih berkutat di kompetisi sepakbola Liga 3 dan kompetisi amatir untuk usia 17 tahun (U-17), U-15 tahun dan U-13.
"Asprov yang merupakan perpanjangan tangan dari PSSI tidak pernah berhenti melaksanakan kompetisi untuk Liga 3 maupun kompetisi Piala Soeratin yang merupakan urat nadi dari sepakbola khusus usia muda, " jelasnya.
Selain kompetisi, lanjut mantan Sekjen Asprov PSSI Maluku ini, kursus kepelatihan bagi pelatih masih terus dilakukan dan sampai saat ini sudah menghasilkan kurang lebih 250 orang pelatih yang berlisensi D, C maupun berlisensi B.
"Untuk program kepelatihan sendiri, Asprov pernah bekerjasama dengan pihak GIZ dari Jerman dan program ini sudah dilakukan sebanyak enam kali, " ungkapnya.
Sayangnya, imbuh Sofyan, meskipun jumlah pelatih sudah memadai namun hingga saat ini belum didukung dengan jumlah wasit. Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Asprov PSSI Maluku agar ke depannya jumlah wasit dan pelatih bisa berbanding lurus.
"Untuk menjawab masalah tersebut, kita berharap agar kedepannya mantan -mantan pemain atau siapa saja yang memiliki potensi agar sebisa mungkin dapat mendaftar menjadi wasit. Prinsipnya, ke depan kami akan membuka kesempatan kursus wasit pemula yang dimulai dari lisensi C3," tutup suami dari Maya Marasabessy ini.(DS)
Dapatkan sekarang