AMBON,AT-Industri sepakbola Maluku seperti berjalan stagnan dalam beberapa waktu terakhir. Kegagalan tim sepakbola menembus PON maupun naik level ke liga 2 merupakan 'Pekerjaan Rumah' yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
Berkaca dari provinsi lain di Indonesia, sepakbola Maluku terasa sangat jauh tertinggal. Jangankan berbicara tentang prestasi, infrastruktur juga masih jauh dari yang diharapkan.
Menurut Samad "Oka" Umarella, Pengamat Olahrag Maluku bahwa, lambatnya pembangunan infrastruktur bisa jadi asal mula keterpurukan prestasi. Masalah mendasar yang berada di hulu tak pernah diselesaikan oleh para pemangku kepentingan di negeri ini.
“Tim tidak akan bisa bagus kalau tidak ada kompetisi bagus. Kompetisi yang bagus tidak akan bisa bagus kalau youth development tidak memadai. Tetapi bagaimana itu bisa bagus kalau tidak ada infrastruktur? Artinya, prestasi dari sebuah tim itu harus ditopang dengan infrastruktur yang memadai. Itu kuncinya, " tutur Samad kepada media ini Ambon, Selasa (19/5).
Mantan pemain tim Virgin Ambon ini melanjutkan , potensi sepakbola di Maluku terlebih usia muda sangat luar biasa. Sayang, masih banyak unsur yang hingga kini masih jauh dari perhatian pemerintah.
" Salah satunya adalah sarana dan prasarana (Sarpras) yang belum memadai, " nilai dia.
"Hingga saat ini, kompetisi sepakbola resmi PSSI lebih banyak dilaksanakan di Lapangan Lease Kodaeral IX Ambon. Hal ini disebabkan kualitas Stadion Mandala Remaja di Karang Panjang tidak layak untuk menjadi tempat digelarnya sebuah kompetisi," sambung Samad.
Sebagai pengelolah lapangan tersebut, Alumni Unpatti ini berharap, Pemprov dapat merevitalisasi beberapa fasilitas olahraga sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebab, pelaku sepakbola tidak dapat bekerja sendiri tanpa ada campur tangan dari pemerintah daerah.
"Pemerintah yang memiliki kewenangan dan kebijakan. Olehnya itu, harus ada dukungan dan kolaborasi yang terintegrasi untuk memajukan sepakbola di Bumi Seribu Pulau," katanya.
Kata Samad, sepakbola tidak bisa dibicarakan secara spasial, karena ada banyak unsur yang perlu diperhatikan seperti kepelatihan. Makanya, dibutuhkan pelatih yang memiliki kemampuan sehingga dapat melatih para pemain sesuai dengan filosofi sepakbola Indonesia.
"Unsur lainnya adalah perangkat pertandingan yang terdiri dari pengawas pertandingan, dan wasit sebagai penengah di lapangan. Dimana baik atau tidaknya sebuah pertandingan sangat ditentukan oleh kualitas wasit di lapangan," jelas Samad.
Intinya, imbuh Samad, untuk mengembalikan kejayaan sepakbola Maluku, maka semua unsur harus saling dukung, baik itu pemerintah, swasta hingga para pelaku sepakbola itu sendiri.
"Semoga ke depan prestasi sepakbola Maluku di kancah nasional bisa lebih meningkat lagi, " demikian Samad. (Cal)
Dapatkan sekarang