MTsN 1 Malteng Kekurangan Guru Bahasa Arab, Amin : Kami Tetap Pertahankan Honorer
La Amin, S.Pd, Kepala Sekolah MTsN 1 Maluku Tengah.
FaizalLestaluhu
21 May 2026 20:14 WIT

MTsN 1 Malteng Kekurangan Guru Bahasa Arab, Amin : Kami Tetap Pertahankan Honorer

AMBON,AT- Kekurangan tenaga pengajar mulai menjadi persoalan serius di sejumlah sekolah negeri di bawah naungan Kementerian Agama Maluku Tengah (Kemenag Malteng). Di tengah bertambahnya guru yang memasuki masa pensiun, sekolah kini harus memutar otak agar proses belajar mengajar tetap berjalan optimal.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh MTsN 1 Maluku Tengah. Sekolah dengan 26 rombongan belajar itu kini menghadapi ancaman kekurangan guru di beberapa mata pelajaran inti. 

La Amin,S.Pd, Kepala MTsN 1 Maluku Tengah menerangkan, kebutuhan guru di sekolahnya masih sangat tinggi.

"Jumlah guru di sekolah ini  ada 47  terdiri dari ASN 36 orang,  PPPK 6 orang dan tenaga honorer 5 orang, " terang Amin kepada media ini di ruang kerjanya, Kamis (21/5).

Amin melanjutkan, pihaknya sudah mengajukan ke Kemenag Malteng terkait kendala yang mereka hadapi (kekurangan guru). Apalagi ada beberapa guru yang akan masuk masa pensiun. 

"Bulan depan, ada guru yang memasuki masa pensiun. Jadi harus ada tambahan guru untuk bisa mengabdi di sekolah ini, terkhusus Guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab," pintanya. 

Kata Amin, kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada mata pelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

"Tenaga pengajar untuk Bahasa Arab, itu hanya 1 orang saja, padahal yang harus dibutuhkan minimal 3 guru. Sedangkan untuk guru Bahasa Indonesia hanya 3 orang, yang harus dibutuhkan minimal 5 guru. Sementara kelas atau rombongan belajar ada 26,” katanya.

Di tengah keterbatasan tersebut, kata Amin, pihak sekolah tetap memerlukan guru honorer. Meski ada aturan baru bahwa tidak lagi mengangkat guru Honorer karena tidak ada lagi alokasi anggaran untuk pembayaran hak mereka, namun pihak sekolah tetap berupaya mencari sumber pendanaan alternatif agar para guru tersebut tetap memperoleh penghasilan.

“Memang dari aturan tidak boleh, karena kebijakan dana BOS yang kini tidak lagi bisa digunakan untuk membayar gaji guru honorer.  Akan tetapi tetap kami upayakan bagaimana supaya mereka tetap bisa mengajar dan tetap dapat uang bulanan,” jelasnya. 

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, imbuh Amin, pihak sekolah tetap berusaha menjaga kualitas pendidikan. Salah satu program yang akan dilaksanakan yaitu program kelas tahfiz yang memerlukan guru khusus penghafal Al-Quran. 

"Untuk guru tahfiz, pembiayaan akan dilakukan melalui dukungan orang tua siswa dan komite karena program tersebut akan menjadi kelas unggulan khusus, " demikian Amin. (Cal)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai