NAMROLE,AT-Kabupaten Buru Selatan merupakan satu-satunya kabupaten di Maluku yang angka stuntingnya sangat tinggi. Angka itu berada di 41,6 persen. Olehnya itu untuk menurunkan angka tersebut maka perlu dilakukan program-program yang menyentuh masyarakat terutama mereka yang bersentuhan langsung dengan masalah stunting. Hal ini disampaikan Andre Soulisa, Siswa Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklat) PIM III Tahun 2023.
Menurutnya, program itu harus didukung oleh semua stakeholder yang ada baik itu pemerintah daerah, Tim Percepatan Penurunan Angka Stunting (TPPS) Kabupaten Buru Selatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Organsiasi Masyarakat (Ormas), Ogansiasi Kepemudaan (OKP) dan stakeholder lainnya.
“Kita juga butuh dukungan dari stakeholder yang ada. Minimal stakeholder di internal pemerintah daerah supaya ada inovasi dan program yang bisa dilakukan dengan tujuan untuk memberabntas sekaligus menurunkan angka stunting ,” ujar Souilsa.
Soulisa mengungkapkan, jika dalam aktivitas kehidupan sehari-hari mendapatkan anak yang kurang gizi, bisa disampaikan ke petugas kesehatan terdekat atau Puskemas untuk segera dilakukan tindakan penanganan sehingga bisa menekan angka stunting.
“Memang angka stunting yang ada saat ini 41,6 persen dan itu sangat menyedihkan. Kalau kita analogikan untuk ibu dan balita, itu berarti ada lsekitar 4600 balita yang stunting,” sebutnya.
Pemerintah kabupaten, lanjut Solissa, sangat membutuhan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak untuk menurunkan angka stunting tersebut.
“Kita punya aplikasi yang namanya Kalebat. Aplikasi ini bertujuan melakukan pemantauan Lapor Perkembangan Stunting Terintegrasi,” ujarnya.
Dengan aplikasi ini, kata Solissa, bukan hanya Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DKPPKB) yang punya data terkait stunting, tetapi semua bisa punya data, karena bisa diketahui melalui Aplikasi Kalebat tersebut.
“Ada rencana dari DKPPKB untuk mengumpulkan semua kepala Puskemas untuk membicarakan hal ini. Mudah-mudah langkah ini bisa mendorong penurunan angka stunting,” harap Soulisa dalam kegiatan Duduk Bacarita untuk Menurunkan Stunting yang berlangsung di Namrole, kemarin.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kemas) DKPPKB Bursel, Yatti Pattiloouw mengatakan, untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Buru Selatan, telah dibentuk tim.
“Tim yang dibentuk itu berada dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga tingkat desa,” sebutnya.
Tim ini, lanjut Patilouw, harus bekerja dengan semua stakeholder yang ada untuk menurunkan angka stunting di Buru Selatan. Upaya itu dilakukan dengan program-program yang dinilai mampu untuk menekan sekaligus menurunkan angka stunting.
“Program-program yang dilakukan harus disinergikan dengan semua stakeholder yang ada. Karena untuk menurunkan stunting bukan hanya menjadi tanggungjawab tim, pemerintah kabupaten saja, tetapi butuh dukungan semua pihak,” pungkasnya. (SE)
Dapatkan sekarang