Lima Atlet Asal Maluku Bela Papua Barat Daya di PON 2024
FaizalLestaluhu
18 Apr 2024 14:48 WIT

Lima Atlet Asal Maluku Bela Papua Barat Daya di PON 2024

AMBON,AT-Komite Olaraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat telah mengeluarkan surat pemberitahuan, terkait jumlah cabang olah raga bersama atletnya, yang di nyatakan lolos langsung ke ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2024 di Aceh dan Sumatera Utara.

Surat edaran yang dikhususkan kepada KONI Papua Barat Daya itu surat ini di tanda tangani oleh sekretaris jendral (Sekjend) KONI Pusat, Lukman. 

Dalam surat itu, terdapat 30 atlet yang akan membela provinsi yang baru dimekarkan tersebut. Mirisnya, dari puluhan atlet itu, ada lima atlet asal Maluku yang memilih membela Papua Barat Daya. 

Kelima atlet itu masing-masing, Moses Manuputty (kelas 81 kg), Zisilia Gloria Mailoa ( kelas 78 kg) . Keduanya merupakan atlet judo. Selanjutnya ada nama Adelia Indah Tuasikal (over 68 kg) dan Tavania Prisilia Tomasoa (kelas under 55 kg) yang merupakan atlet karate. Sementara satu atlet yang terakhir adalah Rocky Watimena yang turun di cabor sambo. Watimena bermain di kelas sport 98 kg. 

Melihat fenomena atlet yang memilih pindah untuk membela Papua Barat Daya maupun provinsi lain, membuat Ahmad Lestaluhu, Pengamat Olahraga Maluku mengaku prihatin dengan kondisi ini. Menurutnya, semangat persaingan di ajang nasional itu mengalami perubahan karena gengsi daerah dan kegagalan membina atlet berprestasi.

"Seharusnya, ajang empat tahunan itu jadi ajang pamer hasil pembinaan atlet di berbagai cabang olahraga. Tapi kini, PON itu menjadi ajang adu gengsi yang membuat 'ruh' persaingan jadi berubah, " ungkap Ahmad saat menyambangi Markas Ambon Ekspres di Jalan Jos Sudarso, Rabu (17/4) . 

"Kan sudah jelas bahwa, sejak pertama kali digelar di Solo pada 1948, PON itu bertujuan untuk melengkapi proses pembangunan bangsa melalui nilai-nilai luhur yang terdapat di olahraga. Daerah dalam hal ini memberikan kontribusi untuk mencari atlet terbaik untuk dibina dengan memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing daerah, " sambungnya.

Sayang, tutur pendirian perguruan silat Cakar Elang ini, permasalahan yang terjadi saat ini, banyak daerah yang memilih jalan pintas untuk mencetak prestasi atlet. Alih-alih mencari bibit potensial, daerah justru lebih senang dengan menarik atlet yang sudah punya rekam jejak prestasi untuk menjadi bergabung dengan daerah tertentu dibanding mencari dan mencetak bibit asli daerah yang belum tentu bisa menghasilkan prestasi gemilang.

"Bisa dilihat jelang PON, banyak atlet yang pindah untuk membela daerah lain, termasuk ada atlet asal Maluku yang saat ini sudah membela Papua Barat Daya. Ini yang sangat disayangkan. Kalau mereka pindah sesuai aturan, saya rasa tidak masalah, tapi kalau tidak, maka pihak KONI harus mengambil langkah untuk melihat persoalan ini, " pintanya. 

Kata Ahmad, cara termudah untuk atlet pindah, tidak lain dengan menawarkan sejumlah bonus besar kepada sang atlet atlet yang telah mencetak prestasi di level nasional maupun internasional. 

"Dengan besaran nominal bonus yang ditawarkan daerah untuk atlet yang berprestasi di level nasional dan internasional menjadi sebuah persoalan besar. Seharusnya, pemerintah bertugas mengatur besaran bonus di daerah supaya tidak lagi terjadi mutasi atau jual-beli atlet demi gengsi daerah.

"Semua itu bisa diatur lewat regulasi di KONI Pusat sehingga tujuan PON sebagai pencarian bibit unggul atlet bisa tercapai. Semoga peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi kedepan," demikian Ahmad. (CAL)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai