Lapangan Kerja Minim, Ribuan Warga Maluku Eksodus ke Malut
Kawasan industri tambang milik PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
-ist-
Admin
07 Mar 2022 10:05 WIT

Lapangan Kerja Minim, Ribuan Warga Maluku Eksodus ke Malut

AMBON, AT--Dalam dua tahun terakhir, sekira ribuan warga Maluku eksodus ke Maluku Utara. Pekerjaan menjadi tujuan utama mereka berpindah dari kampung halaman ke provinsi tetangga itu.

Jumlah penduduk di Kabupaten Buru Selatan akhir- akhir ini mulai berkurang. Hal ini dikarenakan ada ribuan masyarakat yang eksodus keluar dari kabupaten dengan julukan Lolik Lalen Fedak Fena itu.

Informasi yang diperoleh Ambonterkini.id, sekira 2000 hingga 3000 warga yang eksodus.  Faktor lapangan kerja menjadi alasan utama ribuan masyarakat meninggalkan kabupaten yang saat ini dipimpin oleh Bupati Safitri  Malik Soulisa dan Wakil Bupati Gerson Eliser Selsily itu.

Kondisi ini membuat Kota Namrole, ibu kota Kabupaten Buru Selatan mulai sunyi. " Saat ini banyak warga yang eksodus meninggalkan Namrole," kata Sani, salah satu warga Namrole, Sabtu (5/3).

Minimnya lapangan kerja di Bursel, kata Sani, jadi pemicu ribuan warga berpindah ke Maluku Utara untuk mencari pekerjaan. "Mereka kebanyakan keluar  ke Maluku Utara, terutama wilayah  Halmahera. Dua daerah ini sekarang menjadi wilayah yang dikejar para pencari kerja," sebutnya.

Sani beharap pemerintah daerah bisa membuka  lapangan kerja sehingga tidak ada lagi pengangguran.

 " Saya kira kedepan harus ada lapangan kerja yang dibuka pemerintah Kabupaten Buru Selatan sehingga masyarakat tidak meninggalkan Buru Selatan, yang bisa berpengaruh pada menurunnya jumlah penduduk,"pintanya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Buru Selatan, Ruslan Makatita yang dikonfirmasi membantah jumlah warga yan berpindah ke Maluku, seperti yang diperkirakan Sani.

"Saya kira informasi eksodusnya masyarakat Bursel hingga 3000 jiwa itu tidak benar,"ungkapnya.

Ia menjelaskan,  sesuai data yang dimiliki Disdukcapil, hingga Februari 2022, kurang lebih ada  1.456 penduduk yang keluar meninggalkan Bursel. "Ini jumlah yang pasti.  Karena mereka keluar mengantongi Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia ( SKPWNI)," paparnya.

Kendati begitu, lanjutnya, ada juga masyarakat yang masuk atau datang ke Bursel. Tapi mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT), bukan karyawan swasta.

Ditanya faktor yang menyebabkan banyaknya warga eksodus meninggalkan Buru Selatan, Makatita mengaku kebanyakan  faktor lapangan kerja. " Hampir semua yang keluar itu alasannya untuk bekerja," sebutnya.

Pihaknya tidak bisa menahan atau menghambat keinginan masyarakat untuk pindah atau masuk ke Buru Selatan, karena itu dijamin dengan undang- undang. " Kita tidak bisa melarang. Karena setiap warga negara berhak untuk tinggal dan menetap di mana saja," tutupnya. 

Perusahaan Tambang

Jabrik adalah mantan pekerja di Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional  Maluku. Namun, ia terpaksa keluar dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu karena dampak Covid-19.

Tak berpikir lama, Jabrik langsung mengurus syarat administrasi perpindahannya untuk bekerja di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang berlokasi di Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Perusahaan tambang ini berencana merekrut 80 ribu tenaga kerja lokal maupun asing.

"Kalau saya sendiri karena pandemi jadi lapangan pekerjaan di sana (Maluku) makin sempit, kosong jadi saya lari ke sini," kata dia kepada Ambon Ekspres, Minggu (6/3).

Perusahaan patungan dari tiga investor Tiongkok, itu mulai membuka lowongan tenaga kerja sejak 2020. Bahkan pada 2021 saja, perusahaan ini menargetkan penerima karyawan sebanyak 15 ribu orang.

Diantara belasan ribu tenaga kerja itu, sekira 5000 adalah orang Maluku dalam dua tahun terakhir. Jumlah ini masih perkiraan karena masih berupa informasi dari pekerja di sana.

"Informasi (data) kalau jumlah orang Maluku secara keseluruhan, dari Tenggara sampai Lease yang kerja di sini sekitar 5000,"ungkap Jabrik.

Informasi yang dihimpun media ini dari pekerja dan warga Maluku di Halmahera Tengah, selain di PT IWIP, ribuan orang Maluku juga bekerja di beberapa perusahaan di Maluku Utara. 

"Ada 4 perusahaan smelter di Obi (Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan) tapi orang Maluku tidak terlalu banyak. Kalau di Weda memang banyak. Rata-rata mereka sudah pindah kependudukan di Halteng,"kata salah warga di Halteng. (esi/tab)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai