MASOHI, AT. — Upaya menata kawasan permukiman agar lebih layak, bersih, dan manusiawi mulai diwujudkan Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tengah melalui program Penataan Kawasan Kumuh di Banda Neira.
Prosesi peletakan batu pertama dipimpin langsung oleh Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, bersama Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, serta perwakilan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman RI. Kamis (27/11).
Kegiatan yang digelar penuh harapan ini menjadi langkah awal pemerintah untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat Banda Neira terkait lingkungan permukiman yang aman, sehat, dan tertata. Bagi warga, program ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi fondasi menuju perubahan kualitas hidup.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyampaikan bahwa pemerintah provinsi berkomitmen memberikan dukungan penuh, mengingat wilayah kepulauan seperti Banda masih menghadapi tantangan akses pembangunan dan keterbatasan infrastruktur dasar.
“Banda Neira memiliki sejarah panjang dan nilai yang tak ternilai. Sudah saatnya wajah kawasan ini berubah menjadi lebih baik—menjadi rumah yang nyaman bagi generasi hari ini dan masa depan,” tegas Gubernur.
Gubernur juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar Banda Neira tidak hanya dikenal sebagai pusat sejarah rempah, tetapi juga sebagai contoh permukiman kepulauan yang tertata dan berkelanjutan.
“Kami ingin melihat Banda tumbuh sebagai kawasan yang modern namun tetap menjaga identitas sejarah dan budaya. Ini adalah momentum untuk mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah kepulauan,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir menegaskan bahwa pembangunan kawasan kumuh bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi kerja kemanusiaan yang harus mengutamakan martabat masyarakat.
“Hari ini bukan hanya tentang meletakkan batu pertama, tetapi meletakkan harapan besar bagi masa depan Banda Neira. Kita ingin memastikan setiap keluarga memiliki hak yang sama untuk tinggal di lingkungan yang layak, bersih, dan bermartabat,” ujar Bupati.
Ia menambahkan bahwa penataan kawasan ini akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari proses pembangunan.
“Pemerintah tidak ingin berjalan sendiri. Kami ingin masyarakat terlibat, merasa memiliki, dan menjadi bagian dari perubahan ini. Banda Neira harus dibangun bersama,” pungkas Zulkarnain.
Peletakan batu pertama ini menjadi simbol awal dari agenda besar penataan kawasan, sekaligus wujud kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, dan daerah untuk menghadirkan Banda Neira yang lebih baik, lebih layak huni dan lebih membanggakan sebagai kawasan bersejarah yang memiliki tempat istimewa dalam jejak peradaban Nusantara. (Jen)
Dapatkan sekarang