Siapa Sebenarnya Santri?
Ketika mendengar kata santri, apa yang terlintas di benak kita? Sebagian mungkin membayangkan sosok bersarung yang menghafal kitab kuning di pondok pesantren. Tapi tahukah Anda, makna santri jauh lebih luas dari sekadar itu? Santri adalah pribadi yang menuntut ilmu di pesantren, mengkaji agama secara mendalam, dan berusaha menjadikan Al-Qur’an serta hadist Nabi ﷺ sebagai pedoman hidup.
Sayangnya, masih ada anggapan miring di masyarakat bahwa santri adalah sosok yang tertinggal zaman, anti-teknologi, dan hanya fokus pada ilmu akhirat semata. Padahal, santri sejati justru mampu menyeimbangkan antara nilai-nilai syar’i dan tantangan dunia modern.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian santri mulai kehilangan arah. Pengaruh budaya Barat yang merusak mulai menyusup, mengubah cara berpikir dan mental generasi muda Islam. Ini bukan lagi soal penjajahan fisik, melainkan penjajahan pikiran.
Di sinilah santri memegang peran penting: menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus membawa perubahan positif bagi masyarakat. Santri bukan sekadar pelajar agama, melainkan agen perubahan yang siap membangun peradaban.
Santri ialah ujung tombak perubahan atau agent of change, yakni agen-agen yang memberikan perubahan untuk masyarakat dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah. Santri menjadi pemberi manfaat untuk orang lain, bukan dimanfaatkan oleh orang lain. Banyak tokoh nasional yang berlatar belakang santri kini menduduki posisi strategis di pemerintahan legislatif maupun sektor swasta. Selain itu, ada juga tokoh modern yang berlatar belakang santri, salah satunya mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid, atau yang sering kita dengar dengan Gus Dur. Maka dengan begitu, santri tidak hanya berperan dalam pendidikan tetapi juga bisa berperan dalam politik.
Santri dapat membawa sikap toleransi dan moderasi, karena kami santri dididik untuk menghargai perbedaan dan menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), sehingga dapat menjaga kerukunan umat beragama. Santri juga berperan sebagai agen perubahan dengan dibekali ilmu agama dan pengetahuan umum. Santri menjadi pelopor kemajuan di berbagai sektor seperti pendidikan, ekonomi, hingga teknologi. Santri juga dapat menyebarkan ilmu-ilmu Islam melalui kajian kitab, dan dakwah, terutama di daerah-daerah terpencil. Dalam ideologi santri, sebagai pelopor bangsa untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara, dilakukan dengan cara menjelaskan kepada masyarakat bahwa Indonesia berdiri di atas satu pondasi dan satu ideologi, yakni “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, yang menjadi tujuan utama dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Peran strategis santri dari ancaman fisik adalah dengan mencegah kekerasan serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, termasuk dengan menangani perundungan atau pelanggaran tanpa menggunakan hukuman fisik yang fatal.
Santri dapat membawa nilai Islam ke panggung dunia tentu dengan landasan Al-Qur’an disertai dengan Sunnah. Santri yang berruh Al-Qur’an dapat membawa nilai luhur pesantren ke atas panggung dunia dengan nilai-nilai utama, yakni keikhlasan dalam melakukan amal serta fokus dalam mencari ridha Allah, kemandirian dalam mengurus kebutuhan sehari-hari dan belajar, serta akhlak yang menjaga kesopanan dalam bertutur kata kepada guru maupun sesama teman.
Santri dapat berdakwah dengan sumber utama yakni Al-Qur’an melalui tiga metode yang disebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 125, yaitu:
Al-hikmah (kebijaksanaan), santri menunjukkan akhlakul karimah dan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berpakaian, berinteraksi, dan bertutur kata yang santun. Perbuatan baik ini akan menginspirasi orang lain tanpa perlu banyak bicara.
Mau'izhah hasanah (nasihat yang baik), Kita dapat menyampaikan ilmu agama yang kita pelajari kepada masyarakat dalam keadaan formal maupun non-formal.
Mujadalah (diskusi dengan cara terbaik), Berdiskusi dan berdebat dengan cara yang baik serta santun dalam berhadapan dengan pemahaman yang berbeda.
Sebagai penutup, dapat dikatakan bahwa dakwah santri yang berlandaskan Al-Qur’an dengan metode al-hikmah, mau'izhah hasanah, dan mujadalah merupakan cara yang efektif dan mulia untuk menyampaikan kebenaran. Dengan mengedepankan kebijaksanaan, nasihat yang baik, serta dialog yang santun, santri tidak hanya menyebarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak yang dapat membangun masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang. Semoga dakwah ini selalu menjadi jalan untuk membawa manfaat dan kedamaian bagi semua*.
Pergi ke pasar membeli sandal, pulangnya singgah di rumah Noval. Selamat Hari Santri Nasional, semoga kiprahmu makin meng-global.
Selamat Hari Santri Nasional 2025
Mengawal Indonesia merdeka, menuju peradaban dunia
Dapatkan sekarang