Kontainer Jatuh ke Laut, Ikan Mati Mendadak
Ketgam:

Sebuah kontainer diduga berisi bahan beracun dan berbahaya (B3) yang jatuh ke laut di Pelabuhan Namlea, Kabupaten Buru, Selasa (28/3). Kontainer tersebut telah dibawa ke Polres Buru untuk diperiksa isinya, Rabu (29/3) namun pemilik barang tersebut belum diketahui.

ISTIMEWA / AMBON EKSPRES
FaizalLestaluhu
30 Mar 2023 12:34 WIT

Kontainer Jatuh ke Laut, Ikan Mati Mendadak

AMBON,AE-Kepolisian Resor (Polres)  Pulau Buru menyelidiki jatuhnya satu kontainer yang diduga berisi Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Pelabuhan Laut Namlea, Kabupaten Buru. Masyarakat diimbau tidak mengonsumsi ikan yang mati di perairan sekitar pelabuhan.

Kontainer tersebut diangkat oleh crane dalam proses bongkar muatan kapal KM. Doloronda di Pelabuhan Namlea Kabupaten Buru, Selasa (28/3) sekira pukul 16.30 WIT, tiba-tiba terjatuh di laut akibat tali sling terputus atau terlepas. Kontainer itu diduga berisi B3 seperti Sianida (Cn) untuk pengolahan tambang di Gunung Botak, Pulau Buru.

Tak berselang lama jatuhnya kontainer, ratusan ikan di  sekitar pelabuhan mati mendadak. Diduga akibat kandungan B3  di dalam kontainer tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Buru, Ufaira Bin Thahir  lewat keterangan tertulis mengimbau masyarakat di sekitar pelabuhan maupun Namlea secara keseluruhan 
untuk sementara tidak boleh mengkonsumsi ikan mati terapung di lokasi insiden tersebut.

"Kami mengimbau kepada masyarakat pesisir di sekitar pelabuhan untuk tidak mengonsumsi ikan-ikan yang mati terapung di sekitar lokasi kejadian jatuhnya kontainer yang diduga berisi bahan kimia berbahaya,"kata Ufaira.

Ufaira juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di pesisir pantai di area insiden.

"Hal ini sebagai bentuk pencegahan terkait adanya kadar bahan kimia di area perairan pelabuhan laut Namlea,"pungkasnya.

Sementara itu, sumber Ambon Ekspres di Dinas Perhubungan di Pelabuhan Namlea menyebutkan jatuhnya kontainer tersebut disebabkan tali yang diikat putus saat kontainer sudah keluar dari atas geladak kapal dan jatuh terbalik tepat di pinggir dermaga, sehingga jatuh ke dalam laut. Akibat peristiwa ini, ratusan ikan di kawasan Pelabuhan Namlea ditemukan mati mendadak. Petugas dan warga yang menyaksikan panik.

Diduga Kontainer tersebut berisi 
bahan kimia berbahaya jenis asam Cianida (Cn) serta berbagai jenis bahan lainnya yang digunakan untuk mengolah emas di tambang Gunung Botak.

"Ikan mati tiba-tiba setelah beberapa menit kontainer jatuh. Kami awalnya beranggapan mungkin kontainer jatuh menindih ikan dibawa laut, atau ada fenomena apa seperti gitu. Tapi akhirnya tidak. Muncul kecurigaan ada sesuatu, bahan racun yang kemungkinan saja itu B3 biasa dipakai di tambang emas gunung botak, sampai ikan bisa mati seperti ini," ujar sumber.

Dijelaskan, kontainer tersebut dengan nomor Pengiriman DBL 8930326000018. Kontainer dinaikkan dari Dermaga Makassar tujuan Namlea. Tercatat isinya adalah bahan campuran dengan nama pengirim Fadli dari Makassar, penerima di Namlea atas nama Fadly.

"Kami curigai ini hanya kelabui pihak kapal dan petugas pelabuhan saja. Diduga kuat isinya bahan beracun. Saat ini sudah ditangani Polres Buru. Nanti baru dilihat hasilnya seperti apa. Kita hanya bersifat dugaan saja," bebernya.

UJI LABORATURIUM

Sementara itu, petugas gabungan TNI dan Polri telah berhasil mengangkat dan  membawa kontener berwarna merah itu ke Polres Pulau Buru, Rabu (29/3) menggunakan sejumlah alat berat rougter crane milik pihak PT. Hutama Karya (HK). Proses evakuasi memakan waktu kurang lebih empat jam, mulai pukul 06.30 WIT sampai 10.16 WIT yang dikawal ratusan personil gabungan Kodim 1506/ Namlea dan Polres Buru.

Kepala Urusan Hubungan Masyarakat (Paur Humas)  Polres Pulau Buru, Aipda MYS Djamaluddin mengatakan, usai dievakuasi kontainer tersebut langsung di bawah ke Polres Pulau Buru untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kontainer dibawa ke Polres pada pukul 15.13 WIT. Setelah itu petugas langsung membuka untuk mengecek isi kontainer tersebut" kata dia kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Setelah kontainer dibuka, ada ratusan karung diduga berisi bahan kimia berupa serbuk karbon. Meski begitu, dia belum memastikan terkait dugaan itu sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap bangkai ikan.

Djamaluddin mengungkapkan,  terdapat 5 buah kontainer yang dikirim dari Makassar ke Namela dengan kapal KM. Doro Londa. Pihaknya belum memastikan apakah isi kontainer lainnya sama dengan yang sedang dievakuasi. 

"Dari hasil pemeriksaan bersama pihak kapal, pengirimnya diketahui bernama Fadli. Bingungnya,  penerima di Namlea juga bernama Fadly. Tapi sampai saat ini yang bersangkutan tidak ada dan kami pun tidak mengetahui" ungkapnya.

Polres Pulau Buru tengah melakukan penyelidikan sementara.

"Jika dari hasil uji lab, diketahui benar isi kontainer tersebut adalah bahan kimia berbahaya, maka kita akan secepatnya memproses hukum,"pungkasnya.

PELNI HARUS TERBUKA

Armin, salah satu warga Namlea mengaku masyakat di daerah itu resah dan panik akibat dugaan B3 yang mencemari perairan di sekitar pelabuhan. Olehnya itu, ia meminta pihak kepolisian mengusut tuntas insiden ini.

"Pihak berwajib harus usut pemilik kontainer ini. Lalu diproses sesuai hukum yang berlaku," ujar Armin, kemarin.

Dia menambahkan, beberapa tahun lalu warga Kabupaten Buru trauma dengan maraknya penggunaan merkuri dan sianida di kali Anahoni oleh para penambang emas ilegal di Gunung Botak yang mencemari perairan laut dan warga dilarang tidak mengonsumsi ikan.

"Kita sudah trauma dengan barang beracun ini. Hewan seperti sapi dan kambing saja mati di pinggir kali sungai Anahoni saat itu, karena sudah tercemari merkuri dan sianida, orang takut ke kali dan air laut. Apalagi manusia yang makan ikan, sudah pasti mati," ungkapnya. 

Rifai Duwila, warga Namlea lainnya meminta pihak berwenang menginvestigasi kejadian ini. Ia juga meminta PT Pelni dan Operator Pelabuhan Namlea juga harus terbuka soal isi kontainer tersebut.

"Sehingga dugaan matinya ikan-ikan itu akibat dari muatan dalam kontainer yang diduga B3 menjadi jelas.  Dukung investigasi dilakukan seterang-terangnya sebagai pintu masuk awal dari semua praduga "kejahatan" besar,"tulis Rifai di akun facebooknya, kemarin. (YS/WHB)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai