Tulalessy : Guru Itu Tiang Utama Pendidikan
AMBON,AT-Pemerintah Daerah diminta agar bisa meningkatkan kesejahteraan guru di wilayah terpencil yang ada di Maluku.
Dr.Ir.Abraham Tulalessy, M.si, Akademisi Unpatti mengharapkan, Pemerintah daerah lebih memperhatikan guru agar dapat semangat dalam menjalankan tugasnya yakni kesejahteraannya.
"Saya rasa ini yang harus menjadi perhatian pemerintah agar guru-guru yang ada di wilayah terpecil terjamin kesejahteraannya," katanya.
Dijelaskan, akibat tidak mendapatkan kesejahteraan para guru yang ada di wilayah terpencil kerap berpikir untuk mengajukan pindah ke perkotaan. Karena wilayah terpencil sudah banyak mengalami kekurangan guru.
" Hal ini agar menjadi perhatian pemerintah, supaya guru bisa dipertahankan dengan cara memperhatikan kesejahteraannya," jelasnya.
Menurutnya, kesejahteraan guru dapat dilakukan dengan memberikan guru tempat yang layak, insentif khusus bagi tenaga pendidik yang mengabdi di wilayah terpencil, serta fasilitas lain sebagai penunjang.
"Sehingga hal ini memberikan semangat bagi guru dalam menjalankan tugasnya dan anak-anak yang ada di wilayah terpencil bisa tetap mendapat pendidikan yang layak dan berkualitas," katanya.
Pria murah senyum ini kemudian menguraikan, karena guru merupakan profesi yang mulia, pemerintah mesti memperhatikan pendapatan guru yang masih minim. Sebelum membicarakan masalah pengembangan kapasitas dan lain-lain, pemerintah perlu meningkatkan dulu kesejahteraan guru.
"Ingat, guru itu adalah tiang utama pendidikan. Orang Jawa bilang, guru itu digugu dan ditiru. Artinya, guru memberikan keteladanan. Oleh karena itu, ke depan, kesejahteraan guru harus diperhatikan dan ditingkatkan," serunya.
Ditanya tentang cara meningkatkan kesejahteraan guru,Tulalessy mengatakan tiga hal. Pertama, kebijaksaan guru honorer harus diatasi oleh Pemda dan masyarakat. Zonasi guru perlu disempurnakan.Partisipasi masyarakat terhadap pendidikan masih rendah, padahal di masa lalu, kesejahteraan guru dipikirkan bersama oleh masyarakat yang menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah.
"Kedua, pengembangan kapasitas guru harus dinaikkan terus. Caranya, melalui beragam self training program yang berbiaya murah.Ketiga, mengembangkan kegiatan perencanaan keuangan sekolah secara transparan dan terbuka,’’ paparnya.
Untuk menjalankan ketiga hal tersebut, menurut Tulalessy, pemerintah perlu mendata ulang basis pembiayaan operasional sekolah yang lebih kongkrit dan efisien," katanya.
Tulalessy pung berharap, pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru di Tanah Maluku bertepatan dengan peringatan Hari Guru.
" Perhatian besar terhadap para guru sangat dibutuhkan karena tujuannya sebagai upaya memajukan anak bangsa,"ucapnya.
Tulalessy menilai, Maluku sesungguhnya memiliki potensi sumber daya guru yang hebat-hebat. Akan tetapi, ada kalanya potensi itu tidak sepenuhnya bisa dikeluarkan secara maksimal karena para guru di negeri ini tersandera oleh kewajiban administrasi guru yang tertuang dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kewajiban itulah yang menjadi pemicu surplus guru-guru yang tunduk administrasi daripada menemukan kreativitas mendidik.
‘’Guru yang hebat adalah guru yang bisa menjadi sumber inspirasi. Kalau hanya punya kemampuan mengajar tetapi belum menjadi sumber inspirasi, itu guru yang biasa-biasa saja,’’ ujarnya.
Dijelaskan, dalam Undang-Undang No 14/2005, definisi guru sangat mulia. Guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini dalam jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.Namun, kemuliaan profesi guru masih sebatas teks. Praktiknya, guru masih mengutamakan kewajiban administrasi yang diatur undang-undang. Guru belum diberi kebebasan penuh untuk menemukan cara-cara baru menjadi pendidik yang kreatif dan inovatif.
"Saya lihat, persoalan yang dihadapi para guru sudah ditangkap dengan jeli oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Nadhiem berjanji akan memperjuangkan kemerdekaan belajar yang sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantoro yang mementingkan kemerdekaan berfikir anak didik," kunci Tulalessy saat berbincang-bincang dengan Ambon Terkini, di Ambon, kemarin.(CAL)
Dapatkan sekarang