AMBON, AT-GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) harus ambil bagian dalam mewujudkan pembangunan Indonesia Sentris, agar tercipta sentra-sentra pertumbuhan ekonomi dan juga pemerataan pembangunan. Hal ini diungkapkan Febry Calvin Tetelepta, Deputi I Kantor Staf Presiden (KSP) Febry Calvin Tetelepta saat menjadi salah satu narasumber Studi Meeting pada Kongres XII, GAMKI di Ambon, kemarin.
Menurutnya, sudah saatnya GAMKI ambil bagian dalam mewujudkan pembangunan Indonesia Sentris.
"Sebagaimana Presiden Jokowi terus jalankan demi pemerataan pembangunan di seluruh wilayah NKRI, "jelasnya.
Lebih jauh dikatakan, pembangunan Indonesia Sentris tidak sekadar membangun fisik melainkan dilandasi atas tiga hal mendasar. Pertama,
membangun peradaban baru di Indonesia. Kedua, memastikan setiap anak bangsa memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk maju.
"Kemudian yang terakhir adalah mewujudkan keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, " beber Tetelepta.
Meski bagitu, lanjut FCT, sapaan akrab Tetepta, tantangan terbesarnya adalah minimnya sarana prasarana (Sapras) di luar Pulau Jawa, sehingga membangun infrastruktur adalah kunci untuk melangkah lebih maju.
" Infrastuktur bukan menjadi tujuan melainkan modal untuk mencapai tujuan. Contohnya, Bendungan Way Apu, Blok Masela, Pengembangan Kawasan Perbatasan, Pengembangan Lima "Bali Baru", Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), Pembangunan Jalan Trans Papua, Kereta Api Makassar-Pare Pare, Tol Laut, hingga Pemindahan Ibukota Negara (IKN) adalah wujud nyata pembangunan infrastruktur era Presiden Jokowi yang berorientasi Indonesia Sentris, " katanya.
Kata Tetepta, salah satu indikator Pembangunan Indonesia Sentris dapat dilihat dari realisasi sebaran investasi pada tahun 2022 menunjukkan proporsi Luar Pulau Jawa lebih besar yaitu 52,7 persen dibandingkan di Jawa yang mencapai 47,3 persen.
"Makanya, percepatan terus dilakukan salah satunya dengan reformasi struktural melalui deregulasi dan juga debirokratisasi di berbagai bidang mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, birokrasi maupun investasi, " tutup Tetepta. (CAL)
Dapatkan sekarang