AMBON,AT-Upaya Pemerintah Kota Ambon, untuk mengendalikan inflasi dan angka kemiskinan di Kota Ambon, akhir mulai membuahkan hasil. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon, melaporkan hasil kepada Pemerintah Kota, jika angka kemiskinan dan inflasi tahun 2025 ini terjun bebas dari tahun 2024 lali.
Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena mengatakan,kondisi ekonomi Kota Ambon dalam beberapa bulan terakhir mengalami perubahan yang cukup signifikan. Angka pertumbuhannya semakin membaik.
"Berdasarkan laporan yang kita terima dari BPS inflasi dan angka kemiskinan menunjukkan tren menurun, namun pertumbuhan ekonomi masih menghadapi tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Ini penting kami sampaikan kepada masyarakat, khususnya pelaku ekonomi, agar dapat memahami situasi dan mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi kota,” kata dia, kepada wartawan di Balai Kota, Senin (6/10).
Menurutnya, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ambon, tingkat inflasi pada September 2025 tercatat sebesar 2,97 persen. Angka ini menurun dibandingkan bulan Agustus yang berada di posisi 3,38 persen.
"Inflasi Kota Ambon mengalami penurunan dari 3,38 persen menjadi 2,97 persen pada bulan September 2025. Inflasi Kota Ambon menurun karena ada beberapa kontribusi dari ikan yang semakin murah dan membaiknya situasi alam,"jelasnya.
Dikatakan, turunnya harga ikan yang mempengaruhi penurunan inflasi ini lantaran cuaca sudah membaik sehingga nelayan dapay beraktivitas. Namun harga transportasi, terutama udara, masih menjadi faktor penekan yang menghambat penurunan inflasi lebih signifikan.
“Kita masih berada di atas target inflasi nasional sebesar 2,5 persen. Ini jadi tantangan tersendiri bagi kita,” ujarnya.
Sedangkan terkait pertumbuhan ekonomi, lanjut Wattimena, Pemerintah kota Ambon, masih mencatat adanya perlambatan.
"Pada tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Ambon berada di angka 5,96 persen. Namun, pada triwulan II tahun 2025, angka tersebut turun menjadi 4,53 persen,"urainya.
Diakui, penurunan ini dipengaruhi oleh efisiensi dan berkurangnya belanja pemerintah, yang turut mempengaruhi sektor riil, sehingga pentingnya menjaga konsistensi belanja pemerintah agar bisa menjadi motor penggerak ekonomi.
“Kami berharap sektor UMKM dan industri kreatif bisa terus berkembang, karena sektor ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Ambon,”ujarnya.
Sementara untuk angka kemiskinan di Kota Ambon, kata Walikota, menunjukkan tren positif.
"Pada tahun 2024, tingkat kemiskinan berada di angka 5,13 persen. Di tahun 2025, angka tersebut menurun menjadi 4,34 persen. Garis kemiskinan diukur berdasarkan pendapatan per kapita. Untuk tahun 2025, garis kemiskinan ditetapkan sebesar Rp 783.697 per jiwa per bulan, sehingga jika pendapatan per kapita di bawah angka itu, maka seseorang dikategorikan miskin. Jurang antara yang miskin dan tidak miskin di Ambon sangat tipis, sehingga kita harus hati-hati agar yang tidak miskin tidak turun menjadi miskin,”paparnya. (Ars)
Dapatkan sekarang