HIV Tersebar di Semua Desa, Rosa : Jangan Takut Tes HIV 
Direktur Yayasan Pelangi Maluku (YPM) Rosa Karamoy mempresentasikan temuan kasus HIV sejak Januari hingga Juni 2023.

Tajudin Buano/Ambonterkini
Admin
18 Jul 2023 13:40 WIT

HIV Tersebar di Semua Desa, Rosa : Jangan Takut Tes HIV 

AMBON,AT--Peningkatan jumlah kasus HIV (human immunodeficency virus) di Kota Ambon semakin memprihatinkan. Olehnya itu,  masyarakat didorong melakukan skrining meski bukan kelompok berisiko guna mengetahui status mereka agar bisa ditangani. 

“Kasus HIV AIDS sudah di 50 desa/kelurahan, dan negeri di Kota Ambon. Karena itu, harus menjadi perhatian bersama dan serius,”kata Direktur Yayasan Pelangi Maluku (YPM), Rosa Karamoy pada kegiatan Dukungan Implementasi Skrining Mandiri HIV yang digelar YPM di Swiss-Belhotel Ambon, Jumat (14/7). 

Rosa mengungkapkan, sejak sejak Januari hingga Juni 2023, YPM telah menjangakau 1.697orang laki-laki seks laki-laki (LSL) untuk dites HIV. Yang berhasil melakukan tes 1.217 orang, dan positif HIV sebanyak 23 orang. 

Sedangkan perempuan seks perempuan (PSP) yang dijangkau sebanyak 629, tapi yang tes hanya 364, dan positif 1 orang/kasus. Untuk menjangkau ribuan orang tersebut, YPM melakukan mobile testing setiap bulan. 

Terus bertambahnya jumlah penderita HIV, kata Rosa, harus menjadi perhatian serius semua pemangku kepentingan. Apalagi, Kota Ambon diberi target tes HIV sebanyak 30 ribu hingga akhir 2023 yang mesti dicapai. 

Menurut Ros, salah satu pemangku kepentingan yang wajib digandeng untuk melakukan upaya pencegahan penularan maupun penanganan HIV adalah pemerintah desa. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui sosialisasi maupun tes mandiri oleh masyarakat. 

Olehnya itu, lembaganya menghadirkan 14 kepala desa atau perwakilan desa di Kota Ambon  untuk mengikuti kegiatan tersebut guna memperoleh informasi dan edukasi terkait HIV dan AIDS secara global, nasional maupun khususnya di Kota Ambon. 

“Saya merasa bahwa 14 kepala desa atau yang mewakili yang hadir hari ini mampu mendorong warganya untuk berani melakukan tes HIV,”harapnya. 

*Relawan HIV*

Pada kesempatan itu YPM bersama perwakilan 14 desa/kelurahan/negeri juga membuat rencana tindak lanjut (RTL) yang terdiri empat kesepakatan, yaitu perwakilan desa akan menyiapkan satu orang relawan sebagai peer educater (pendidik sebaya), YPM akan melatih setiap sebagai relawan, advokasi pendanaan dari Dana Desa (DD) dan Dana Kelurahan, dan setiap relawan akan akan berkoordinasi dengan Puskesmas. 

“Saya bersyukur karena para kepala desa atau perwakilannya setuju harus ada peer educater di desa. Itu artinya desa punya keprihatinan untk melihat kasus HIV di Kota Ambon yang terus bertambah dan mengkwathirkan. Dan ini merupakan sinergitas yang baik antara pemerintah, masyarakat dan kita selaku LSM,”katanya. 

Pekerja sosial yang sudah puluhan tahun bergelut dengan permasalahan HIV dan AIDS, itu memastikan pihaknya akan meningkatkan kapasitas relawan. Di sisi lain, dia juga mendorong masyarakat untuk melakukan tes. 

Semakin banyak orang yang tes HIV dan jika sudah dianggap sebagai hal biasa, kata Rosa, stigma dan diskriminasi akan hilang dengan sendirinya. “Karena sudah dianggap sebagai hal biasa. Ini yang mesti diviralkan bahwa, itu merupakan gaya hidup dan kebutuhan kesehatan. Jadi jangan takut atau khawatir tes HIV,”pintanya. 

Sekretaris Desa Naku, Kecamatan Leitimur Selatan, Remon Waas menilai, penularan HIV yang semakin bertambah harus menjadi perhatian serius pemerintah desa. Apalagi semua desa, kelurahan dan negeri di Ambon sudah ada kasus HIV. 

“Ke depan desa negeri harus mempersiapkan diri juga. Baik sumber daya manusia maupun anggaran sehingga menjadi bagian daripada upaya untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terlebih khusus di desa dan negeri di Kota Ambon,”kata dia. 

Menurut dia, pemerintah desa bisa terlibat aktif melakukan pencegahan karena mengelola Dana Desa yang dipakai dialoaksikan juga untuk melakukan sosialisasi maupun edukasi pencegahan penyebaran HIV/AIDS. 

“Kesehatan sangat perlu demi keberlangsungan  kehidupan masyarakat melalui pola hidup sehat, dan lain-lain. Olehnya itu, kami dari Desa Naku akan menyiapkan satu orang relawan untuk dilatih sebagai peer educater relawan HIV/AIDS,”pungkasnya.

*174 Kasus Baru*

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Wendy Pelupessy mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Ambon per Januari hingga Juni 2023, terdapat 174 kasus baru HIV di kota ini. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil skrining terhadap 10.047 orang di 34 fasilitas kesehatan pemeriksa, baik puskesmas, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta maupun klinik dan balai serta laboratorium kesehatan. 

Data tersebut juga menunjukkan, laki-kaki yang paling banyak terpapar yakni 118 orang, dan perempuan 56. Kemudian, golongan umur di bawah 4 tahun sebanyak 4 orang, 5-19 tahun 21 orang, 20-24 tahun sebanyak 37 orang, dan  25-49 (usia produktif) sebanyak 116 orang. 

Sedangkan penderita AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan stadium akhir dari HIV sebanyak 8 orang. Yang terdiri dari laki-laki 5 orang, dan perempuan 3 orang, dengan rentang usia 15-19 tahun sebanyak 1 orang, 20-24 tahun 1 orang, dan 25-49 sebanyak 6 orang. 
Menurut Wendy, semakin banyak orang yang diketahui tertular HIV dan AIDS, justru baik bagi upaya penanganan. Sebab, jika orang yang terpapar tapi tidak teridentifikasilewat proses skrining sangat berpotensi menularkan kepada orang lain dalam jumlah lebih banyak.

“Bayangkan jumlah ini (174) yang terpapar ketika pulang ke rumah menularkan ke istri lalu hamil, maka anaknya berpotensi kena HIV juga. Kalau satu orang menularkan ke 10 orang saja, maka sudah 1.700 kasus. Lalu, kita mau tinggal diam. Jadi apa kota kita ini ke depan,”ungkapnya. 

Menurut Wendy, harapan hidup penyintas HIV-AIDS dapat diperpanjang jika ditangani secara maksimal lewat pengobatan rutin. Dengan kata lain, penderita tidak menunggu vonis mati dari dokter, tapi tetap bertahan menghadapi virus tersebut. 

Hingga saat ini belum ada angka pasti berapa tahun orang dengan HIV bisa bertahan hidup. Namun dikutip dari berbagai sumber, dalam kasus infeksi HIV yang tidak diobati, angka kematian secara keseluruhan mencapai lebih dari 90 persen. Waktu rata-rata dari infeksi hingga kematian adalah delapan hingga sepuluh tahun. 
    
Namun, ada banyak faktor yang memengaruhi kelangsungan hidup, yaitu gen, kesehatan mental, penyalahgunaan obat atau alkohol, superinfeksi dengan varian HIV yang lain, nutrisi, usia dan perawatan.

Dengan meningkatnya penggunaan terapi antiretroviral (ART) dan pengenalan rejimen antivirus yang lebih baik, kelangsungan hidup ODHIV telah meningkat dari waktu ke waktu. Meski ini belum bisa menyamai dengan kelangsungan hidup individu yang tidak terinfeksi. 

Sedangkan pengidap AIDS rata-rata hanya bertahan hidup selama tiga tahun. “Semakin banyak HIV yang kita temukan, itu artinya baik. Karena kalau para penderita ini melakukan pengobatam rutin, maka harapan hidupnya masih panjang. Bisa sehat, bekerja seperti orang lain pada umumnya. Mereka bisa bertahan hidup 10 sampai 20 tahun. Tetapi kalau AIDS, maka tunggu waktu saja,”papar Wendy.  (TAB)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai