AMBON,AT-Dukungan untuk menerapkan kembali pola bapak angkat terus mengalir dari berbagai kalangan, kali ini datang dari Heygel Tengens, Pengamat Olahraga Maluku.
Menurut Heygel, dalam beberapa tahun terakhir, prestasi olahraga Maluku kian merosot. Banyak faktor sehingga hal ini terjadi, mulai dari pembinaan atlet yang kurang maksimal, perekrutan atlet yang masih mengutamakan unsur kedekatan, minimnya kompetisi hingga persoalan klasik, yakni anggaran.
"Nah, untuk mengatasi persoalan itu, terutama masalah anggaran, maka harus mengembalikan pola bapak angkat bagi setiap cabor yang ada di Maluku," pinta Heygel saat bincang-bincang dengan media ini di Ambon, Kamis (6/3) .
Heygel bercerita, dua puluh tahun lalu, pola bapak angkat ini masih diterapkan. Sayang, setelah itu tidak ada lagi.
"Saat itu, cabor bulu tangkis bapak angkatnya Jayanti Grup. Kemudian cabor bola voli bapak angkatnya dibawa kendali PU Maluku, selanjutnya cabo judo itu Polda hingga cabor karate bapak angkatnya Korem. Bila pola ini diterapkan kembali, maka atlet Maluku akan mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia pada saat PON di NTT-NTB 2028 nanti, " cetus Heygel.
Mantan atlet Judo era 90-an in menilai, beberapa cabor yang dulunya ladang emas, kini sudah kritis. Butuh kerja keras dari semua stakeholder olahraga Maluku untuk bisa membangkitkannya kembali, terlebih dari pengurus KONI Maluku yang baru.
"Mengembalikan kejayaan olahraga Maluku di PON NTT-NTB memang butuh waktu. Tapi, yang terpenting adalah semua pihak harus punya kontribusi, bukan hanya dari pemerintah saja, tapi peran swasta juga sangat dibutuhkan," tutur dia.
Berbicara anggaran yang dimiliki pemerintah, menurut Heygel, tentu sangatlah terbatas. Olehnya itu, dibutuhkan peran dari pihak ketiga atau pihak swasta untuk menjadi bapak angkat bagi cabor.
"Butuh totalitas dari atlet untuk dapat meraih dan mempertahankan prestasi terbaiknya mereka. Jadi, proses menuju prestasi itu harus dimaksimalkan salah satunya dengan penerapan pola bapak angkat," jelasnya.
Heygel menyadari sungguh bahwa, untuk memuluskan apa yang menjadi keinginan kami, semua ada ditangan pemerintah provinsi dibawah kendali pak Hendrik (Lewerissa) dan Pak Abdullah (Vanath).
"Bila semua pengurus bargantung pada anggaran KONI Maluku, tentu tidaklah cukup. Makanya, untuk mengatasi persoalan klasik (dana) adalah kembalikan pola bapak angkat seperti beberapa tahun lalu," pinta Heygel.
Diakhir pembicaraan, Heygel berharap, Pak gubernur bisa merestui keinginan dari stakeholder olahraga di Maluku dengan menertibtkan SK tentang pola bapak angkat bagi setiap cabor.
"Sejatinya, untuk meningkatkan prestasi olahraga, bukan saja butuh perhatian pemerintah, namun peran swasta juga tidak kalah penting," tutup Heygel.(Cal)
Dapatkan sekarang