Sarman
13 Jun 2022 13:29 WIT

GIZI BENCANA

                                                                                                         

 

Ambonterkini.id, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanin (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian di dominasi oleh rawa-rawa.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Contoh Bencana : Gempa Bumi, Letusan Gunung Api, Tsunami, Kecelakaan Transportasi, kejadian luar biasa, konflik sosial atau kerusuhan sosial atau huru hara. Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Provinsi Maluku memiliki potensi acaman bencana alam yang tinggi.  Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Maluku, Henri Far Far mengungkapkan berdasarkan kajian terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya ada 14 jenis ancaman bencana alam yang bisa saja terjadi di Maluku.

Bahkan ada yang saban tahun selalu terjadi. Dari 14 jenis ancaman bencana alam ini diantaranya banjir, cuaca ekstrem, tanah eskrim, gempa bumi, kebakaran hutan, letusan gunung berapi hingga tsunami.Cuaca ekstrem juga sering terjadi saat musim timur maupun barat. Dampaknya mengakibatkan gelombang tinggi hingga abrasi. “Rata-rata seluruh pulau di Maluku rentan sekali terhadap gelombang dan abrasi,”sebutnya.

Begitu juga tanah longsor yang juga sering terjadi di Ambon.“Tanah longsor tidak terhitung di Pulau Ambon karena kerusakan lingkungan, disamping pembangunan rumah pemukiman yang tidak dapat dikendalikan. Ini butuh perhatian khusus dari kita semua khususnya Kota Ambon sehingga izin pembangunan dikendalikan,”ujarnya.

Kebakaran hutan memang tidak begitu sering terjadi, namun di tahun 2020 pernah seperti kebakaran hutan di Amahusu dan kawasan STAIN Kota Ambon. Sementara gempabumi cukup kuat juga pernah terjadi pada 26 September 2019 lalu. Sedangkan letusan gunung berapi juga kata dia pernah terjadi saat Gunung Api Banda meletus pada 1988, begitu juga dengan tsunami di Pulau Seram tahun 1889.

Ancaman lainnya yaitu likuifaksi yang mengancam kawasan Poka, Rumah Tiga dan Passo di Kota Ambon. ”Likuifaksi kita di Ambon rentan seperti di Poka atau Rumah Tiga yang tanahnya berpasir, Passo juga yang dekat dengan air sehingga apabila terjadi goncangan itu pasir basah bisa menyebabkan masalah,”terangnya. Sedangkan kekeringan maupun wabah penyakit tidak sampai membahayakan disamping pandemi Covid-19 yang masih melanda secara global.

Berbagai ancaman terkait bencana alam inilah yang  menjadi salah satu alasan bagi Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Maluku untuk memasukkan dalam sebuah mata kuliah institusi/muatan lokal. Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Maluku selalu berupaya mengembangkan Kurikulum pendidikan melalui workshop, keikutsertaan dalam Webinar tingkat Poltekkes Maluku maupun Poltekkes lain seluruh Indonesia untuk memperkaya wawasan dan terus meng- up date kemutahiran ilmu teknologi pangan dan gizi kesehatan.

Hal ini juga untuk menunjang mewujudkan Visi, Misi dan Tujuan Jurusan Gizi yaitu melaksanakan penelitian di bidang gizi masyarakat dan pengembangan bahan pangan lokal dari daerah kepulauan serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di bidang gizi masyarakat dan penerapan teknologi pangan lokal.

Sebagai upaya mewujudkan pembelajaran yang lebih baik Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Maluku sudah menyelenggarakan Kuliah Pakar dengan tema Manajemen Kedaruratan dengan Optimalisasi Gizi Bencana pada Selasa, 7 Desember 2021 dengan menghadirkan narasumber dari Poltekkes Kemenkes Malang, I Dewa Nyoman Supariasa, MPS yang sudah banyak berperan serta di tempat bencana sampai menulis buku tentang Gizi Bencana sebagai penunjang perkuliahan vokasi.

Narasumber lainnya adalah Evi Fatimah, SKM.,MPH dari Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes Republik Indonesia sebagai perwakilan Pemerintah dalam mewujudkan peran serta akademisi pada penanggulangan masalah gizi yang biasanya terjadi di lokasi bencana.

Tindak lanjut untuk mencapai tujuan tersebut, sejak Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Maluku mulai memasukkan mata kuliah Gizi Bencana sebanyak 2 SKS. Dengan mempelajari konsep dasar kondisi bencana, akibat bencana terhadap masalah pangan dan gizi, serta perencanaan penyelenggaraan makanan dan intervensi gizi pada kondisi bencana.

Ruang lingkup peranan gizi terutama dalam penanggulangan bencana adalah pada saat Pra Bencana yaitu sosialisasi dan pelatihan petugas seperti manajemen gizi bencana, penyusunan rencana kontingens dan berbagai kegiatan terkait lainnya.

Darurat Bencana, Transisi Darurat kegiatan gizi diarahkan pada kegiatan promotif agar masyarakat. dapat mengenal masalahnya terutama kesehatan dan Pasca Bencana yaitu penanganan gizi pasca bencana sebagai dasar mengetahui kebutuhan yang dibutuhkan dan melaksanakan kegiatan gizi sebagai tindak lanjut  untuk meningkatkan dan mempertahankan status gizi.

            Siaga Darurat adalah suatu potensi terjadinya bencana yang ditandai dengan adanya pengungsi dan pergerakan sumber daya. Pada tahap ini fokus kegiatan diarahkan kepada kelompok kelompok rentang seperti bayi dan balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lansia dengan melakukan konseling menyusui, konseling makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan lain sebagainya, agar kelompok rentan tersebut selalu mengingat apa yang telah disampaikan dan dapat melakukan

            Tidak ada manusia yang mengharapkan datangnya bencana. Tetapi setidaknya ada upaya mulai dari pencegahan sampai kalau memang terjadi bencana yang tidak diharapkan tersebut. Pada akhirnya diperlukan kerja sama yang baik antara Pemerintah Daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB) dengan civitas akademi dalam upaya mengurangi risiko bencana, pada saat terjadi bencana dan pasca bencana.

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai