Enam Tahun Jalan Tani Rusak, Petani Yainuelo Pilih Bangun Secara Swadaya
Para petani Desa Administratif Yainuelo saat gotong royong perbaiki jalan tani. Sabtu (12/9). Istimewa
AdminRedaksi
12 Sep 2026 19:37 WIT

Enam Tahun Jalan Tani Rusak, Petani Yainuelo Pilih Bangun Secara Swadaya

MASOHI, AT. — Tak kunjung mendapatkan respon  pemerintah, petani di Negeri Administratif Yainuelo, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, memilih swadaya perbaiki jalan tani menuju kawasan perkebunan Dusun Rata Tihu.

Akses jalan yang sebelumnya dibuka melalui program Dana Desa itu telah hampir enam tahun mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat aktivitas ratusan petani yang menggantungkan hidup dari kawasan pertanian Rata Tihu semakin sulit.

Koordinator Kelompok Tani Rata Tihu (Koptan TARATI), Lagundi, mengatakan masyarakat telah berulang kali mengusulkan agar akses jalan tersebut mendapat perhatian pemerintah, baik melalui pengerasan maupun pengaspalan atau lapen. Namun, hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.

Di tengah kondisi itu, masyarakat tani akhirnya mengambil inisiatif sendiri. Mereka mulai mengumpulkan dana dan material secara sukarela untuk memperbaiki akses menuju kebun.

“Katong kumpul secara sukarela,” ujar Lagundi. Sabtu (12/9/2026). 

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan karena masyarakat tidak ingin aktivitas pertanian terus terganggu akibat kondisi jalan yang rusak.

Hal senada disampaikan Sekretaris Koptan TARATI, Fakrudin Sopalatu. Ia menjelaskan, biaya pembangunan jalan tani tersebut berasal dari swadaya petani dan masyarakat.

Dana dikumpulkan melalui sumbangan sukarela. Sebagian petani memberikan uang, sementara lainnya menyumbangkan material seperti pasir dan kerikil. Dari swadaya tersebut, dana yang terkumpul telah mencapai hampir puluhan juta rupiah dan digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan material pembangunan jalan.

Selain mengumpulkan dana dan material, masyarakat yang memiliki kebun di kawasan Rata Tihu juga secara sosial dilibatkan dalam pekerjaan melalui kegiatan gotong royong.
Bagi masyarakat, upaya tersebut bukan sekadar memperbaiki akses menuju kebun.

Gotong royong juga menjadi cara mempertahankan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kampung.

Dusun Rata Tihu merupakan salah satu kawasan pertanian masyarakat Yainuelo. Berbagai komoditas dihasilkan dari kawasan tersebut, mulai dari kelapa, cengkeh, kakao hingga tanaman pangan berumur pendek.

Hasil pertanian itu menjadi sumber pendapatan bagi keluarga petani sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat Negeri Administratif Yainuelo.

Namun, kondisi jalan yang rusak membuat proses pengangkutan hasil pertanian menjadi persoalan tersendiri. Kendaraan sulit masuk ke kawasan kebun, sementara biaya angkut hasil pertanian ikut meningkat.

Sopalatu mengatakan, berdasarkan perkiraan masyarakat, hampir 100 petani melakukan aktivitas pertanian di kawasan Dusun Rata Tihu. Mereka menggantungkan sebagian kehidupan ekonomi keluarga dari kebun-kebun di kawasan tersebut.

“Bagi kami petani, jalan tani bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi menyangkut langsung kehidupan petani. Ketika jalan rusak, biaya angkut hasil kebun meningkat, kendaraan sulit masuk, dan sebagian petani mengalami kesulitan membawa hasil pertanian keluar dari kawasan kebun,” jelasnya.

Upaya swadaya yang dilakukan petani menjadi gambaran bahwa masyarakat tidak hanya menunggu bantuan. Namun, kemampuan masyarakat tentu memiliki keterbatasan, terutama jika yang dibutuhkan adalah pembangunan jalan secara permanen dan berkelanjutan.

Karena itu, petani berharap Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dan Pemerintah Provinsi Maluku dapat melihat langsung kondisi jalan tani tersebut melalui perangkat teknis terkait, terutama Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Harapan tersebut sejalan dengan adanya program pembangunan, rehabilitasi dan pemeliharaan jalan usaha tani dalam dokumen perencanaan Dinas Pertanian Kabupaten Maluku Tengah. Dalam Renja Dinas Pertanian, kegiatan tersebut memang tercantum sebagai bagian dari pembangunan prasarana pertanian.

Di tingkat Provinsi Maluku, pengelolaan jalan usaha tani juga masuk dalam program Dinas Pertanian Provinsi, termasuk kegiatan koordinasi, sinkronisasi dan pengelolaan jalan usaha tani.

Sopalatu berharap swadaya masyarakat yang telah dilakukan menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian dilanjutkan dengan penanganan yang lebih permanen.

“Katong su biking ini. Selanjutnya pemerintah hati tatoki par liat dan ambil langkah panjang sebagaimana harapan petani,” tutup Sopalatu.

Bagi petani Yainuelo, jalan tani bukan sekadar akses menuju kebun. Jalan tersebut merupakan urat nadi yang menentukan apakah hasil pertanian dapat keluar dari kebun, sampai ke pasar, dan kemudian menjadi sumber penghidupan keluarga.

Karena itu, gotong royong yang dilakukan petani bukan berarti persoalan telah selesai. Justru, swadaya tersebut menjadi pesan bahwa masyarakat telah berbuat sesuai kemampuan mereka dan kini mengharapkan kehadiran pemerintah untuk melanjutkan pembangunan secara lebih permanen. (AJ).

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai