NAMROLE,AT.- Hujan lebat selama dua hari menyebabkan banjir di Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Cuaca buruk juga menyebabkan pesawat Trigana Air terlambat terbang.
Hujan lebat berlangsung sejak Selasa (23/8) hingga Rabu ( 25/8). Namrole akhirnya dikepung banjir. Ratusan rumah warga terendam.
Ketinggian air pada beberapa kawasan di dalam Kota Namrole seperti Waenono, Jalan Baru dan Kamanglale mencapai pinggang orang dewasa. Warga menyelamatkan diri dan barang-barang ke tempat yang lebih aman.
Sementara di kawasan tugu Kai Wait Namrole, air menutupi sebagian jalan. Masyarakat yang melewati ruas jalan itu harus berhati-hati. Gereja Imanuel di Desa Waenono juga terendam banjir.
Drainase yang dangkal dan sempit, menyebabkan air meluap ke jalan. Warga menyalahkan pemerintah daerah, terutama instansi terkait.
"Kondisi seperti ini apa yang bisa dibanggakan dari kinerja pemerintah daerah terutama dinas terkait. Namrole banjir itu sebenarnya diluar perkiraan,"ungkap salah satu warga Waenono.
Menurut dia, Namrole tidak rawan banjir karena tidak ada sungai besar di tengah-tengah kota. Selain itu, jumlah dan kepadatan penduduk belum maksimal.
"Kemungkinan ini salah perencanaan dan penataan drainase. Mestinya Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang ( PUPR) Melkior Soulisa lebih fokus mengatur tata ruang kota, proyek- proyek draniase, serta selokan dan lainnya,"kesalnya.
Wabup Pantau Langsung
Unuk memastikan warganya aman dari musibah banjir, Wakil Bupati Buru Selatan, Gerson Eliser Selsily turun langsung ke lapangan. Sesily ditemani Kepala Dinas PUPR Melkior Soulisa, Kepala Badan Penaggulanan Bencana Daerah ( BPBD) Awat Mahulauw, Anggota DPRD Buru Selatan daerah pemilihan Leksula Kepala Madan, Herlin Seleky serta beberapa pihak lainnya.
Pemantauan dilakukan di Desa Waenono, Kamanglale dan seputaran Kota Namrole. Selsily mengimbau mayarakat untuk tetap waspada karena cuaca yang ekstrem masih melanda Buru Selatan Namrole.
" Untuk masyarakat Buru Selatan baik di Kota Namrole dan kecamatan- kecamatan lainnya yakni Leksula, Kepala Madan, Waesama, Fena Fafan dan Ambalau tetap waspada. Jangan memaksakan diri untuk melakukan aktivitas di laut, darat serta wilayah- wilayah yang rawan bencana. Cuaca ekstrem masih berlangsung,"kata Selsily.
Sementaera itu, Awat Mahulauw mengatakan hingga sore kemarin, pihaknya masih berkoordinasi dengan semua kepala desa untuk mendata masyarakat yang terdampak banjir
Mahulauw memastikan ada delapan kawasan di dalam Kota Namrole dan sekitarnya yang terendam banjir.
"Lokasinya itu di Waenono, Elfule, Kmanglale, kawasan kilometer III, Kawasan tugu Kai Wait samping Pasar Kai Wait serta beberapa lokasi lainnya," terangnya.
Dirinya memastikan belum ada laporan korban jiwa. " Untuk korban jiwa sampai saat ini tidak ada. Hanya rumah-rumah warga yang terendam banjir. Olehnya itu masyarakat harus terus waspada karena bencana alam saat kondisi cuaca ekstrem bisa terjadi kapan saja," tutupnya.
Hingga sore kemarin, hujan masih mengguyur Namrole. Lalu lintas terpantau sepi. Bahkan pesawat Trigana Air rute Ambon-Namrole dan sebaliknya delay 8 jam.
Peaswat yang biasanya tiba di Bandara Namrole, Buru Selatan pukul 09.00 WIT, baru mendarat pukul 16.00 WIT. Tak lama mendarat, kurang lebih setengah jam pesawat tersebut langsung kembali ke Bandara Pattimura Ambon. ( ESI)
Dapatkan sekarang