Aplikasi Tanggap Dini Konflik Dikembangkan di Ambon
Admin
19 Sep 2022 17:42 WIT

Aplikasi Tanggap Dini Konflik Dikembangkan di Ambon

AMBON, AT.-Setelah 10 tahun menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ambon, dalam berbagai aspek, kali ini, Universitas Soegijapranata (UNIKA) Semarang menggandeng Diskominfo-Sandi mengembangkan aplikasi sistem peringatan dan tanggap dini konflik di Kota Ambon.

Kadis Kominfo-Sandi Kota Ambon, Joy Adriaansz menjelaskan, sistem peringatan dan tanggap dini konflik di Kota Ambon, sedianya telah dibangun oleh Institut Tifa Damai Maluku. Namun sistem tersebut masih dalam bentuk manual. “Seiring perkembangan kemajuan teknologi informasi, bersama tim peneliti dari UNIKA Semarang, kami melakukan kerjasama dalam mendigitalisasi sistem tersebut, sehingga akan lebih mudah dan efektif untuk digunakan bagi para pemangku kepentingan di Kota Ambon,” kata dia, saat membuka Forum Group Discussion (FGD) Revitalisasi Sistem Peringatan dan Tanggap Dini Konflik di Kota Ambon Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal di Balai Kota, akhir pekan kemarin.

Joy mengaku, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi berkembangnya konflik adalah melalui komunikasi dalam hal media sosial. Menurutnya, media sosial merupakan bukti dari kemajuan teknologi informasi yang saat ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam memperoleh maupun bertukar informasi. 

Namun sayangnya, karena pemahaman minimnya dan kurangnya literasi digital seringkali fungsi berbagi pada platform media sosial digunakan untuk menyebarkan berita-berita atau informasi-informasi yang belum tentu dapat diyakini kebenarannya atau berita bohong (Hoaks) yang biasanya memicu terjadinya dan berkembangnya konflik. 

"Karena itu, dibutuhkan juga suatu sistem aplikasi yang sekiranya lebih efektif dalam merendam dan mencegah timbulnya konflik,” terangnya.

Aplikasi tersebut, lanjut Joy nantinya akan terhubung dengan beberapa sistem yang ada pada Pemerintah Kota Ambon, di antaranya Lapor SP4N serta kanal-kanal media sosial, dan juga terhubung dengan Polresta dan juga Kodim.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Yetrihoni Nalesti Dewi mengaku, gagasan penyelenggaraan program revitalisasi sistem peringatan dan tanggap dini untuk pencegahan konflik berbasis budaya dan kearifan lokal, berdasarkan kesadaran bahwa Ambon ini memiliki keunikan yang luar biasa.

“Gagasannya yaitu budaya dan kearifan lokal ini sangat unik dibandingkan dengan daerah-daerah di tempat lain. Namun di satu sisi Ambon juga memiliki kerawanan-kerawanan yang sedikit berkaitan dengan masa lalu,” terangnya.

Oleh karena itu, maka tim berpikir bahwa butuh sebuah sistem peringatan dan tanggap dini, yang pada tahun 2012 sistem ini pernah dibangun dan perlu dihidupkan kembali.

“Sistem ini perlu dihidupkan kembali dalam rangka pencegahan terhadap apapun itu, sehingga akan sangat bekerja di masyarakat dan digunakan sebaik-baiknya oleh masyarakat. Sistem peringatan dini yang dibangun pada tahun 2012 itu kan belum memanfaatkan teknologi informasi. Karena teknologi informasi di tahun itu belum begitu berkembang pesat seperti sekarang,” papar dia.

Oleh karena itu, Unika Soegijapranata bekerja sama dengan Diskominfo-Sandi Kota Ambon, dan akan membuat suatu aplikasi terkait dengan teknologi informasi untuk mendeteksi setiap peristiwa-peristiwa kecil apapun.

“Apakah itu konflik atau non konflik, tapi data-data itu akan sangat berguna untuk mendeteksi atau untuk melakukan pencegahan dini terhadap setiap konflik dan dapat meminimalkan potensi konflik tersebut,” bebernya.

Dari FGD tadi, tim peneliti Unika Soegijapranata mengetahui bahwa telah ada sistem peringatan dini,  tetapi itu untuk bencana alam. Kalau untuk konflik belum banyak.

“Karena belum banyak, saya merasa bahwa itu tadi kekhasan Ambon yang soal budaya.  Kami juga mempelajari best practice atau  praktek-praktek terbaik, yang dilakukan oleh negara-negara di Afrika. Rata-rata mereka memberdayakan kearifan lokal dan budaya. Ini menjadi sesuatu yang punya daya besar, dan saya melihat Ambon seperti itu. Kalau nanti akhirnya berhasil, mudah-mudahan ini akan diikuti paling tidak daerah lain di Maluku,  dan dapat menjadi model yang bisa direplikasi di tempat-tempat yang lain,” pungkasnya.(aha)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai