Widya Pratiwi Tak Mudah Lolos ke Senayan
Widya Pratiwi Murad, Caleg DPR RI Dapil Maluku.
FaizalLestaluhu
02 Feb 2024 09:19 WIT

Widya Pratiwi Tak Mudah Lolos ke Senayan

AMBON,AT-Persaingan memperebutkan empat kursi DPR RI dari daerah pemilihan Maluku bakal berlangsung ketat. Para petahana bekerja keras mempertahankan kursi, namun penantang juga punya peluang meraih kursi di parlemen Senayan.

Empat petahana, yakni Mercy Barends (PDI Perjuangan), Abdullah Tuasikal (NasDem), Hendrik Lewerissa (Gerindra) dan Saadiah Uluputty dari (PKS) sudah melakukan kerja politik lebih awal guna mempertahankan basis suara. Baik lewat kegiatan rutin DPR maupun kampanye Pemilu 2024 yang secara resmi dimulai pada akhir November 2023 lalu.

Tak hanya menjumpai langsung masyarakat, mereka punya belanja politik lewat alat peraga kampanye konvensional, dan juga di media massa dan media sosial. Tak heran, empat figur ini dinilai masih memiliki kans untuk kembali menduduki kursi DPR.

Akan tetapi, sejumlah figur penantang juga potensial merebutkan kursi yang saat ini ditempati para petahana tersebut. Beberapa di antaranya, seperti Hamzah Sangadji, Ramli Umasugi dan Azis Samual dari Golkar, Michael Wattimena dan Dandi Assagaff dari Demokrat, serta Widya Pratiwi dari PAN.

Olehnya itu, pemerhati politik sekaligus Koordinator Wilayah (Korwil) Lembaga Study Visi Nusantara Maju (Vinus) Maluku, Lutfi Wael mengatakan, ketiga partai tersebut memiliki peluang lolos ke Senayan, karena konfigurasi calon cukup menjanjikan sebagai pendulang suara. Namun, menurut dia, PAN yang sangat berpeluang.

Alasan Lutfi, infrastruktur partai sangat potensial. Hampir semua dapil baik Provinsi maupun Kabupaten/kota, PAN termasuk partai yang komposisi calegnya sangat bagus.

Sedangkan Widya secara personal juga sudah dikenal dan memiliki popularitas di masyarakat akar rumput maupun kalangan pemilih rasional di wilayah perkotaan. Di sisi lain, kultur politik birokrasi di Maluku masih mengental dan sangat berpengaruh dalam penentuan pilihan politik.

Widya sebagai istri gubernur Maluku, lanjut dia, pasti menggunakan birokrasi untuk meraih suara di kalangan ASN dan keluarga mereka.

"Dengan geografis seperti Maluku, tentu kekuatan sumber daya yang dimiliki Widya sangat besar pengaruhnya untuk konsolidasi ke pemilih. Apalagi PAN memiliki sejarah pernah memiliki kursi DPR RI, itu menjadi modal spirit konsolidasi oleh kader-kadernya untuk mengembalikan kejayaan itu," jelas Lutfi kepada media ini, Kamis (1/2) kemarin.

Terpisah, sumber media ini menyebutkan, sebagai pendatang baru di Pileg 2024, Widya gencar mendatangi masyarakat untuk mencari dukungan. Namun, upaya tersebut belum signifikan untuk mempengaruhi pilihan politik masyarakat.

"Kan bisa dilihat atmosfer ibu Widya ketika berkunjung dimana mana, luar biasa. Tapi saya kira publik Maluku sudah bisa menilai, atmosfer ini karena kekuatan suaminya sebagai Gubernur," ungkapnya.

Meski ditopang kekuatan birokrasi, namun lanjut dia, tidak serta-merta Widya akan mendulang banyak suara. Hal ini dikarenakan, jumlah ASN terutama di pemerintah daerah sangat sedikit jika dibandingkan jumlah pemilih dari kalangan umum atau masyarakat biasa.

Di sisi lain, para penantang lainnya seperti Hamzah Sangadji, Azis Samual, Ramli Umasugi, Michael Wattimena, Dandhy Assagaff hingga Syarif Hadler pasti berpeluang meraup suara. Figur-figur ini tidak bisa diremehkan karena masing-masing telah memiliki investasi politik, kecuali Dandy Assagaff yang mengandalkan ketokohan ayahnya Said Assagaff, yang merupakan mantan gubernur Maluku dan kader Golkar.

"Jika demikian benar adanya tekanan (terhadap ASN) seperti itu, akan memberikan dampak. Ada yang mendukung secara suka rela, ada yang lawan dan tidak mendukung sama sekali," sebutnya.

CUKUP BERAT

Diberitakan media ini sebelumnya, pendatang baru seperti Widya Pratiwi Murad, PAN, Ramli Umasugi Hamzah Sangadji dari Golkar, Michael Wattimena dan Said Dandi Assagaff dari Demokrat sebagai pesaing berat perlu kerja keras untuk menumbangkan petahana. Konfigurasi caleg menjadi tolak ukur peluang perolehan suara masing-masing partai politik. 

Misalnya saja, di PAN ada Widya Pratiwi Murad, Arbab Paproeka, Munir Kairoty, dan Inge Marlyn Lauerensia De Jong.

Dari empat calon ini, Widya dianggap paling "gereliya" hampir di semua daerah. Namun belum terlalu kuat, lantaran kekuatan suara internal lemah.

Suara Arbab Paproeka, dinilai tidak lagi signifikan seperti pileg sebelumnya. Begitu juga Munir dan Inge yang belum pernah teruji di kancah politik level DPR RI dan belum memiliki basis.

"Kalau PAN fokusnya hanya ke Widya ini sangat berat sekali dalam mendominasi suara rebut 1 kursi ke Senayan dan bisa gulingkan petahana. Kekuatan suara internal maksimal harus menjadi target full. Kalau berharap Widya sendiri saja, itu lemah,"kata salah satu pegiat demokrasi Amran Ismail.

Lalu bagaimana dengan Golkar? Partai beringin ini punya konfigurasi caleg yang kuat. Ada Ramliy  Umasugi, H. Azis Samual, Marleen J. Petta, dan Hamzah Sangadji, yang memiliki kekuatan di masyarakat. Jika mereka bekerja maksimal, Golkar bisa memperoleh satu kursi DPR.

Begitu pula Micahel Wattimena, Said Dandi Assagaff, Roza Turisna Nukuhehe dan Lukas Uwuratuw dari Demokrat. Semuanya figur terbaik. Michael terus bekerja di masyarakat begitu juga Dandi dan dua rekan mereka lainnya. (Hab)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai