NAMROLE,AT-Keinginan Pemerintah Kabupaten Buru Selatan untuk merelokasi masyarakat desa Waefusi karena wilayah pemukiman mereka sering menjadi langganan banjir tampaknya bakal menemui kesulitan.
Pasalnya, 114 Kepala Keluaraga (KK) latau 718 jiwa itu menolak untuk direlokasi. Mereka menganggap, wilayah petuanan desa Waefusi yang saat ini ditempat sudah ada sejak turun-temurun.
“Untuk relokasi, masyarakat secara keseluruhan menolak usulan pemerintah itu. Karena mereka tidak mau meninggalkan pemukiman mereka yang merupakan warisan dari leluhur,” beber Ali Solissa, Pejabat Kepala Desa Waefusi saat bincang-bincang dengan media ini di Kota Namrole, Kamis (6/7) siang.
Solissa mengatakan, musibah banjir yang sering dialami masyarakat desa setempat, bukan baru satu atau dua tahun belakangan ini. Tetapi sudah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu sejak desa ini ada. Bahkan masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu.
“Kalau untuk banjir, masyarakat desa Waefusi sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu dan bukan hal baru bagi mereka,” ujarnya.
Dikatakan, pemerintah daerah akan mencari berbagai solusi agar desa itu terbebas dari banjir, salah satunya adalah melakukan penanganan badan sungai Waetina yang sering meluap sehingga menggenangi pemukiman warga.
“Yang harus ditangani adalah badan sungai Waetina yang serring jebol akibat luapan air sungai. Jika ini sudah tertangani, pasti pemukiman masyarakat akan terhindar dari musibah banjir,” katanya.
Lebih jauh dikatakan, bencana banjir yang menimpa pemukiman masyarakat di Desa Waefusi 31 Mei lalu, lantaran meluapnya sungai Waetina akibat tingginya curah hujan serta jebolnya tanggul badan sungai.
"Selain itu, bencana itu terjadi bersamaan dengan pekerjaan peluasan Bandara Namrole, sehingga pergerakan air dari sungai Waebolo yang ada di lokasi perluasan bandara tidak bisa mengalir secara baik. Ini yang mengakibatkan pemukiman masyarakat terendam banjir saat itu,” terangnya.
Solissa juga menuturkan, potensi perikanan, dan potensi pariwsata di desa waefusi yang menjadi sumber ekonomi masyarakat membuat mereka memilih bertahan dan tidak mau direlokasi. Jika mereka pindah, maka mereka akan kehilangan sumber pendapatan dan mata pencarian.
“Ada Pulau Kambing yang berdekatan dengan Desa Waefusi yang menjadi lokasi wisata. Ada juga potensi perikanan dan juga sumber ekonomi lain yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat. Ini harus menjadi pertimbangan dari pemerintah daerah jika ingin mereka direlokasi, " tegas Solissa menutup pembicaraan.
Untuk diketahui pemerintah daerah berencana merelelokasi masyarakat Desa Waefusi karena menjadi langganan banjir. Rencana ini sudah masuk dalam kajian Pemerintah Kabupaten Buru Selatan sejak kabupaten itu dipimpin oleh mantan bupati Tagop Sudarsono Soulisa. (ESI)
Dapatkan sekarang