Warga Korban Banjir di Desa Waefusi Tolak Direlokasi
Ali Solissa, Pejabat Desa Waefusi, Namrole, Buru Selatan---Edy/Ameks
FaizalLestaluhu
06 Jul 2023 17:05 WIT

Warga Korban Banjir di Desa Waefusi Tolak Direlokasi

NAMROLE,AT-Keinginan  Pemerintah  Kabupaten Buru Selatan untuk merelokasi  masyarakat desa Waefusi karena  wilayah pemukiman mereka sering menjadi langganan  banjir tampaknya bakal menemui  kesulitan.

Pasalnya, 114 Kepala Keluaraga (KK)  latau 718  jiwa itu menolak untuk direlokasi. Mereka  menganggap, wilayah petuanan desa Waefusi yang saat  ini ditempat sudah  ada sejak turun-temurun. 

“Untuk relokasi, masyarakat secara keseluruhan menolak usulan pemerintah itu. Karena mereka tidak mau meninggalkan  pemukiman  mereka yang merupakan warisan dari leluhur,” beber Ali Solissa, Pejabat Kepala Desa  Waefusi saat bincang-bincang dengan media ini di  Kota Namrole, Kamis (6/7)  siang. 

Solissa mengatakan, musibah banjir yang sering  dialami masyarakat desa setempat, bukan baru satu atau dua tahun belakangan ini. Tetapi sudah terjadi sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu sejak desa ini ada. Bahkan masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu.

“Kalau untuk banjir, masyarakat desa Waefusi sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu dan bukan hal baru  bagi mereka,” ujarnya.

Dikatakan, pemerintah daerah akan mencari berbagai solusi agar desa itu terbebas dari banjir, salah satunya adalah melakukan penanganan badan sungai Waetina yang sering meluap sehingga menggenangi  pemukiman warga.

“Yang harus ditangani adalah badan sungai Waetina yang serring jebol akibat luapan air sungai. Jika ini sudah tertangani, pasti pemukiman masyarakat akan terhindar dari musibah banjir,” katanya.

Lebih jauh dikatakan, bencana banjir yang menimpa pemukiman masyarakat di Desa Waefusi 31 Mei lalu, lantaran meluapnya sungai Waetina akibat tingginya curah hujan serta jebolnya tanggul badan sungai.

"Selain itu, bencana itu terjadi bersamaan dengan pekerjaan peluasan Bandara Namrole, sehingga pergerakan air dari sungai Waebolo yang ada di lokasi perluasan bandara tidak bisa mengalir secara baik. Ini yang mengakibatkan pemukiman masyarakat terendam banjir saat itu,” terangnya.

Solissa juga menuturkan, potensi perikanan, dan potensi pariwsata di  desa waefusi yang menjadi sumber ekonomi masyarakat membuat mereka memilih bertahan dan tidak mau direlokasi.  Jika mereka pindah, maka  mereka akan kehilangan sumber pendapatan dan mata pencarian.

“Ada Pulau Kambing yang berdekatan dengan Desa Waefusi yang menjadi lokasi wisata. Ada juga potensi perikanan dan juga sumber ekonomi lain yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat.   Ini harus menjadi pertimbangan dari pemerintah daerah jika ingin mereka direlokasi, " tegas Solissa menutup pembicaraan. 

Untuk diketahui pemerintah daerah berencana  merelelokasi masyarakat Desa Waefusi karena menjadi langganan banjir.  Rencana ini sudah masuk dalam kajian Pemerintah Kabupaten Buru Selatan sejak kabupaten itu dipimpin oleh mantan bupati Tagop Sudarsono Soulisa. (ESI)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai