AMBON, AT.--Inflasi di Maluku tercatat masih tinggi yakni 4,93 persen, lebih dari inflasi nasional dan wilayah wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
Infomasi resmi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku menyebutkan, indeks harga konsumen (IHK) bulanan pada Mei 2022 di Maluku mencatatkan inflasi sedikit menurun 0,73 persen dibanding dengan capaian sebelumnya 0,77 persen.
Namun begitu, sebagaimana rilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku pada Kamis (2/6), menyebutkan, meski mengalami penurunan dari sebelumnya, tapi inflasi Maluku pada Mei 2022 tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan capaian ditingkat nasional maupun wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) yang mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 0,49 persen (month-to-month/mtm) serta 0,44 persen (mtm).
Secara tahunan, capaian inflasi Maluku tercatat sebesar 4,93 persen atau (year-on-year/yoy) atau sedikit menurun dari April 2022 yang sebesar 4,94 persen (yoy). Meskipun demikian, inflasi tahunan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional maupun kawasan Sulampua yang masing-masing sebesar 3,55 persen (yoy) dan 3,69 persen (yoy).
“Capaian inflasi Maluku tersebut juga berada di atas rentang sasarannya pada 2022 sebesar 3,0±1 persen (yoy). Meskipun secara bulanan tercatat menurun, namun capaian inflasi Maluku pada Mei 2022 ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata inflasi pada periode pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri selama tiga tahun terakhir yang sebesar 0,59 persen (mtm),”jelas Deputi Kepala Perwakilan BI Maluku, M. Lukman Hakim dalam rilis tersebut.
Disebutkan, masih tingginya inflasi pada periode pasca hari besar keagamaan dan nasional didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,36 persen (mtm) serta masih tingginya inflasi pada kelompok transportasi sebesar 0,73 persen (mtm).
Sementara inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau meningkat yang didominasi oleh komoditas perikanan seperti ikan layang, ikan cakalang serta ikan selar yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 18,52 persen (mtm), 32,45 persen (mtm), dan 18,49 persen (mtm).
Sedangkan, lanjut Lukman, kenaikan harga pada komoditas perikanan disebabkan oleh efek badai La Nina yang meningkat signifikan menuju tingkat tertingginya sejak 2 tahun terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya potensi curah hujan dan angin kencang yang mengganggu aktivitas penangkapan ikan.
“Meningkatnya inflasi pada kelompok ini juga turut didorong oleh kenaikan harga rokok sebagai dampak dari kenaikan cukai rokok di awal tahun,”papar Lukman.
Selanjutnya, tekanan inflasi pada kelompok transportasi disebabkan oleh kenaikan harga tarif angkutan udara yang meningkat sebesar 2,63 persen (mtm). Kenaikan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya harga minyak dunia yang berdampak pada naiknya harga avtur.
Di sisi permintaan, kata dia, pelonggaran regulasi pelaku perjalanan udara juga berdampak pada peningkatan permintaan terhadap jasa angkutan udara.
Berdasarkan kegiatan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, tarif angkutan udara rute Ambon–Langgur tercatat sebesar Rp 2.027.000 atau meningkat secara mingguan sebesar 50,65 persen (wtw) pada minggu ke-IV bulan Mei 2022.
Terhadap persoalan ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku, berkomitmen memperkuat koordinasi upaya pengendalian inflasi di tahun 2022. Upaya pengendalian inflasi di Maluku tetap didasarkan pada strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif).
Sebagai bagian dari strategi ini, upaya untuk meningkatkan ketercukupan produksi bahan makanan pokok dari dalam wilayah Maluku akan menjadi salah satu target utama. “Perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD) dengan provinsi lain di Indonesia juga akan terus diperluas guna memperkuat ketahanan pasokan di Maluku,”pungkasnya. (pro)
Dapatkan sekarang