Sesalkan Perang, Ini Jejak Rusia di Maluku
Fakultas Teknik dimulai dibangun pada tahun 1961pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, dilakukan rencana pembangunan Institut Teknologi Ambon (ITA) berlokasi di Poka – Ambon. Proyek ini kemudian diubah menjadi Proyek Fakultas Teknologi Ambon (FTA). Dimana pembangunan Proyek ini mendapat bantuan dari Pemerintah Rusia pada saat itu
-dok. Unpatti
Sesalkan Perang, Ini Jejak Rusia di Maluku
Gedung Fakultas Teknik Unpatti sekarang
-http://im-bon-hehanussa.blogspot.com-
Admin
10 Mar 2022 17:17 WIT

Sesalkan Perang, Ini Jejak Rusia di Maluku

Konflik Rusia vs Ukraina yang saat ini tengah meletus, begitu mengguncang dunia. Kondisi di Eropa Timur ini setidaknya menyisihkan cerita bagi anak-anak Maluku yang pernah mengenyam pendidikan di sana, baik di Rusia maupun Ukraina, ketika dua negara ini masih berdiri kokoh dibawah panji-panji bendera Uni Soviet.

Laporan: Leonardo Sidabutar - Ambon 

Tahun 1961, sebanyak 25 anak muda Maluku dipilih untuk melanjutkan pendidikan ke Negara Uni Soviet atau Rusia. Mereka terpilih mengikuti pendidikan disana setelah tamat SMA di Kota Ambon. 

Progran kuliah di Rusia ini dicanangkan sedari tahun 1960, oleh Presiden RI saat itu, Ir Soekarno. Setelah mengunjungi Ambon, Bapak Proklamator ini bercita-cita mendirikan Institut Teknologi Ambon (ITA) di Kota Ambon. 

Semua biaya hidup dan perkuliahan menjadi tanggung jawab penuh Pemerintah Rusia. Beasiswa!

Sayangnya, dari 25 orang yang terpilih, hanya 17 orang yang siap berangkat dari Ambon. Delapan pemuda lainnya, membatalkan rencana tadi. Dan untuk menutupi jatah yang kosong, Pemerintah Indonesia merekrut mahasiswa dari propinsi lain. 

‘’Tentu kami senang bisa lolos mengikuti program beasiswa dari pemerintah Rusia,’’ kenang Ir Ferry Manuhuttu, MSC kepada koran ini, kemarin. Manuhuttu, merupakan mantan dosen dan Dekan Fakuktas Teknik Unpatti yang lulus dari program Beasiswa Rusia tadi.

Ferry Manuhuttu, bersama 24 pemuda Indonesia kemudian terbang ke Rusia. Disana mereka dibagi dua kelompok studi. Begitupun 17 orang pemuda asal Ambon ini. 

Kelompok pertama ditempatkan di Tekhnologi Perkapalan, dan kelompok dua untuk Oceanografi. Kelompok pertama berjumlah delapan orang, belajar di Negara Ukraina di Kota Odessa pada Odessa Marine Marine Engineering Institute (Odeskyi Institut Inzenyerov Morskovo Flora, dalam Bahasa Rusia). 

Sedangkan Kelompok kedua, berjumlah sembilan orang, kuliah di Kota Leningrad (Sekarang Saint Pietersburgh-Rusia) di Leningrad State Hydrometeorological University. 

Setibanya di sana, Ferry muda bersama 24 pemuda lainnya, selama setahun belajar Bahasa Rusia, Inggris, Fisika dan mata kuliah penunjang lain. ‘’Ini penting agar dapat memahami dan berkomunikasi pada saat kuliah nanti,’’ kisahnya. 

Mereka yang ikut ke Rusia untuk studi masing-masing Frans Purimahua, Jakop Asthenu (Alm), Dominggus Pesurnay (Alm), Anthony Salamony, Semuel Saimima (Alm), Lukas Wenno (Alm) dan Jacop Punjanan.

Berikutnya, Elisa Soumokil (Alm), Hengky Uktolseja (Alm), Daniel Sapulette (alm), Dominggus Wenno, Alfonso Tutuhatunewa, Aleksander J. Kesaulija (Alm), Anthony Huwae (Alm), Willem H. Latuharhary (Alm), Ferry Manuhutu dan Budi Salyo (Alm). Budi merupakan pria awal Pulau Jawa, tapi dibesarkan di Ambon dan lulusan SMA Negeri 1 Ambon di tahun 1961. Sedangkan Ir. Dominggus Wenno MSc, saat ini pensiun dari galangan kapal di Jakarta.

Setelah setahun di kelas persiapan, di tahun 1962, para pemuda tadi masuk universitas yang sudah ditentukan. Tentunya harus melalui ujian masuk. Mereka kemudian menempuh pendidikan sekira 6,5 tahun dan tamat di tahun 1967. 

Saat ini mereka, para lulusan Rusia yang masih hidup yakni, Ir. A. F. Tutuhatunewa MSc, di Ambon. Seperti Manuhuttu, Tutuhatunewa merupakan pensiunan dosen Fakultas Teknik Unpatti. Berikutnya, Ir. A. F. Salamony, MSc di Jakarta, juga pensiun dosen Fakultas Teknik Unpatti dan pernah menjabat Pembantu Rektor (PR) II Unpatti. Sedangkan Ir. F. Purimahua, MSc, saat ini di Jakarta. Dia merupakan mantan General Manager Galangan Kapal Intan Sengkunyit Palembang. Selanjutnya Ir. J. Punyanan, MSc, di Jakarta, merupakan pensiun dari Hidrografi Angkatan Laut RI.

"Saya tamat dari Rusia tahun 1967, dan langsung mengambil program master. Kalau jaman sekarang, terpisah bila ingin mengambil program master. Kalau doeloe, dari pertama kuliah dan tamat, dapat langsung melanjutkan program master,’’ kenangnya. 

Untuk jurusan Oceanografi, mereka yang lulus, masuk ke Angkatan Laut (TNI AL) sebagai tenaga sipil. "Jadi ketika kita pulang ke Ambon tahun 1968, tersisa enam orang dari jurusan Tekhnologi Perkapalan. Tiga orang dari jurusan Mesin Kapal, dan tiga orang lagi dari Jurusan Bangunan Kapal,’’ beber Manuhuttu. 

Setibanya di Ambon, mereka kemudian berencana membuka Fakultas Tekhnik. Kurikulum, buku, laboratorium dan lain sebagainya kemudian disiapkan. ‘’Di tahun 1968, seluruh peralatan masih berbahasa Rusia. Jadi saya bersama teman-teman yang lain mendampingi para kontraktor untuk memasang alat-alat yang digunakan di fakultas,’’ kisah suami Cornelia C Louhenapessy (alm) ini. 

Ayah empat anak ini bercerita, tahun 1970 ketika Fakultas Tekhnik diresmikan, hanya ada satu jurusan dan dua bidang peminatan, yakni Jurusan Mesin Kapal dan Bangunan Kapal. ‘’Ini karena 11 putera Maluku yang masuk jurusan Ocenografi di Rusia tidak ikut pulang ke Ambon. Padahal bila mereka ikut ke Ambon, kami optimis Institut Tekhnologi Ambon (ITA) dapat dibangun," tutur Ferry. Karena itu ITA yang digadang-gadang akhirnya berintergrasi (masuk) ke Universitas Pattimura Ambon. 

Peninggalan Rusia saat ini di Kota Ambon yakni bangunan Fakultas Teknik Universitas Pattimura. Pembangunannya tentu mendapat bantuan dari Pemerintah Russia pada saat itu. Begitupun perencanaan proyek serta peralatan-peralatan yang digunakan di kompleks kampus FTA juga berasal dari negara itu. 

Sayangnya pembangunan tidak dapat diteruskan setelah tahun 1965, karena bantuan luar negeri dihentikan. Tidak ada biaya. Untungnya, setelah pembangunan dihentikan Negara Rusia, datang bantuan dari Negara Jepang. 

Dengan tangan dingin Ir. L. Nanlohy (Alm), Pimpinan Proyek Lokal sekaligus Dekan Pertama Fakultas Tekhnik Unpatti (1970 -1972), selanjutnya diupayakan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada, serta gedung-gedung yang telah selesai dibangun pada saat itu. Bangunan yang belum terselesaikan oleh Rusia, diselesaikan oleh Negara Jepang. 

Pendidikan

Nah, baik gedung dan peralatan-peralatan yang telah terinstalasi yang berasal dari Russia selesai dikerjakan, maka ini memberikan kemungkinan untuk didirikan suatu Fakultas Teknik dengan fokus pada bidang Teknik Perkapalan.

Selanjutnya, dengan dibantu tenaga anak-anak Maluku yang telah menyelesaikan pendidikan Teknik di Russia pada tahun 1968, maka digagaslah pendirian Fakultas Teknik yang berfokus kepada Bidang Teknik Perkapalan.

Mulanya Pendirian Fakultas Teknik dilakukan hanya pada jenjang Bachelor (sarjana muda) dengan masa Studi 4 tahun. Semua Fasilitas dan tenaga FTA (eks) dipergunakan termasuk tenaga-tenaga administrasi.

Melihat Fasilitas yang telah ada, termasuk didalamnya Laboratorium Towing Tank, Laboratorium Mekanik, dan berbagai Laboratorium yang ada disana, serta kebutuhan masyarakat akan tenaga Serjana Perkapalan dan ditunjang dengan ketersediaan tenaga pengajar yang tersedia, maka pada tahun 1976 hingga 1977 jenjang Pendidikan Bachelor kemudian ditingkatkan. 

Jenjang pendidikan Sarjana dibuka dengan dua jurusan, yakni Jurusan Bangunan Kapal dan Reparasi Kapal, dan Jurusan Permesinan kapal.

Kemudian Sesuai Keputusan Dirjen Pendidikan Tinggi No. 105/Dikti/Kep/1984, tanggal 21 Agustus 1984, maka Fakultas Teknik memiliki 2 Jurusan dan 2 Program Studi yakni, Jurusan Teknik Perkapalan dengan Program Studi Teknik Perkapalan, Jurusan Teknik Permesinan Kapal dengan Program Studi Teknik Permesinan Kapal.

Pada tahun 1996, Jurusan Permesinan Kapal membuka 3 Program Studi baru yakni, Program Studi Teknik Mesin, Program Studi Teknik Sistem Perkapalan, dan Program Studi Teknik Industri. 

Namun, tahun 2000 saat terjadi konflik sosial di Maluku dimana instalasi yang dibangun oleh Rusia dirusak. Barang-barang elektronik dari Rusia yang rusak tidak dapat diperbaiki lagi. Namun pemerintah pusat mengalokasikan dana sebagai upaya pembenahan. "Memang alat-alat yang dirusak saat konflik, suku cadangnya berasal dari negara Belanda, dan Jepang. Jadi kalau cari di Indonesia, tentu tidak akan ketemu," bebernya. 

Fakultas Teknik Unpatti terus berbenah. Tahun 2013, tepatnya 5 Juli 2013 dibentuk minat program studi menjadi Program Studi Teknik Sipil, Sistim Informasi dan Progam Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.

Setelah perkuliahan di Rusia ‘vakum’ sejak tahun 1960-an, pada tahun 2001, Fakultas Teknik kembali mengirim tenaga pengajar (dosen) untuk mengambil keahlian lanjutan di Rusia. Tahun 2001, tiga orang dikirim kesana berikutnya tahun 2002 (1 orang), 2003 (1), 2006 (1) dan tahun 2018 satu orang dikirim menuntut ilmu disana. Setelah kembali, mereka langsung ditempatkan sebagai staf pengajar di Fakultas Teknik Unpatti.

Sebagai informasi, saat ini Fakultas Peternakan Unpatti dan Politeknik Ambon juga mengirim staf pengajar untuk menimba pendidikan disana, khususnya Negara Rusia dan tidak lagi ke Ukraina. Bahkan, sejak tahun 2013-an, puluhan lulusan SMA Siwalima Ambon juga banyak yang dikirim kesana, dengan sasaran keahlian seperti kedokteran dan ilmu eksata lainnya. 

Sesalkan Perang

Terhadap perkuliahan yang saat ini berlangsung, Manuhuttu berpesan agar generasi muda jangan cepat puas dengan pengetahuan yang didapatkan. ‘’Gali terus potensi diri, banyak baca buku refrensi dan tingkatkan kemampuan akademik maupun analisis,’’ harapnya.

Terhadap konflik Rusia vs Ukraina yang masih berlangsung, dia menyatakan penyesalannya. ‘’Konflik ini sangat disayangkan, karena kami tahu hubungan kedua Negara ini seperti saudara kandung, sangat erat. Masalahnya menyangkut territorial, kenapa sampai perang segala. Intinya, kami lulusan Rusia (dan Ukraina) sangat menyesal perang bisa terjadi,’’ tutupnya. (*)

 

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai