AMBON, AT-Rritual cakalele (ma’atenu) kembali dilaksanakan di Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (6/10). Ritual adat yang dilaksanakan tiga tahun sekali ini disaksikan oleh ribuan warga baik dari negeri setempat maupun dari daerah lain, termasuk wisatawan mancanegara.
Dari pantauan media ini, peserta cakalele mulai dilepas dari mata rumah atau rumah soa (marga) , mulai dari Talaohu, Latuconsina, Tuankota, Angkotasan, Salampessy, Sahubawa, Tualeka, Latupono hingga Tuasikal.
Saat peserta cakalele mengiris bagian tubuh mereka dengan senjata tajam berupa parang, pencaharian botol bahkan pisau kater, termasuk kapak membuat ribuan pasang mata, terutama kaum hawa yang menonton ritual sakral itu hiteris.
Menurut Rudi Latuamury, tokoh pemuda Negeri Pelauw bahwa, ritual adat cakalele merupakan sebuah tarian yang menggambarkan pelaksanaan kegiatan di medan perang. Kegiatan ini merupakan bentuk refleksi dari perjuangan melawan bangsa – bangsa penjajah yang terjadi pada zaman dahulu.
"Ritual adat negeri ini meliputi, tarian cakalele, tarian tenun dan membawa bibit unggul. Ketiganya merupakan budaya matasiri yang dilaksanakan tiga tahun sekali, " ungkapnya di sela-sela ritual adat cakalele.
Kata Latuamury, terlaksananya kegiatan cakalele tersebut menjadi kerinduan tersendiri bagi masyarakat Negeri Pelauw, dimana ritual ini sangat dinanti oleh kaum adam yang ada di negeri ini.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, TNI dan Polri serta stakeholder lainnya yang telah memberikan support sehingga kegiatan ritual adat di hari ini bisa berjalan dengan aman dan lancar, “ ucapnya.
Kedepannya, harap Latuamury, event ritual budaya matasiri tersebut dapat tingkatkan kualitas pelaksanaannya sehingga dapat menarik lebih banyak para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
“Sebagai bentuk refleksi dari perjuangan melawan bangsa penjajah yang terjadi di zaman dahulu kegiatan ritual adat ini dilaksanakan. Sesuai dengan catatan sejarah kami, tradisi ritual ma’atenu sudah dilaksanakan sejak Tahun 1520. Olehnya itu, kami berharap baik kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Maluku Tengah maupun Pemerintah Pusat melalui kementerian pariwisata agar dapat mengambil kebijakan program-program yang bisa mempromosikan ivent budaya cakalele ini untuk dijadikan event wisata nasional, “ tutup Latuamury. (Cal)
Dapatkan sekarang