Pada Agustus 2018, kampanye lingkungan dani perubahan iklim diramaikan oleh Gretha Thunberg. Aktivis perempuan cilik yang sendirian melakukan protes di Parlemen Swedia dan sempat menarik perhatian dunia. Ia mengutuk para politisi dunia yang tidak peduli pada perubahan iklim. Thunberg saat itu berusia 15 tahun, namun sudah menginisiasi kampanye School Strike for Climate. Ajakan mogok sekolah setiap Jumat ini, sontak berubah jadi gerakan massal Friday for Future di berbagai negara.
Oleh: Ardiman Kelihu (penulis muda)
Jika Swedia dan masyarakat dunia punya Gretha Thunberg, maka Maluku punya Rachel Manelolna. Gadis cilik kelas 6 SD Kalam Kudus ini memulai kampanye lingkungan yang persis dengan Gretha, lewat kegiatan penyelamannya di Maluku. Tidak hanya untuk mengumpulkan foto dan visualisasi laut Maluku, melainkan juga menautkannya dengan kontribusi sosialnya untuk Maluku.
Anak perempuan berdarah Teon Nila Serua (TNS) ini, selanjutnya menggelar pameran dan melelang karya-karya foto bawah laut Maluku yang ia kumpulkan dari lensa kamera underwater teman-teman penyelam. Rachel rencananya akan melelang karya-karya tersebut pada Sabtu besok 12 Maret 2022 di Tribun Lapangan Merdeka Maluku.
Hasil lelang tersebut didonasikan untuk membangun Rumah Belajar Sekolah Bahari. Sebuah sekolah pantai bagi anak-anak Maluku untuk bermain dan belajar mengenal laut. Rachel sedang merenda laut Maluku dari kegiatan penyelamannya itu untuk menyambung mimpi-mimpi ini, mimpi bagi anak-anak pantai di Maluku untuk memiliki rumah belajar sendiri.
Kampanye Rachel sangat sederhana namun punya frekuensi yang besar. Dari gambar-gambar yang hendak ia lelang, ia tidak hanya sedang menunjukan wajah laut Maluku yang menawan, melainkan juga menyulam ingatan dan masa depan anak-anak Maluku tentang laut, pantai dan pulau. Tiga hal yang telah menjadi riwayat hidup orang Maluku.
Rachel memang mengusungnya lewat pameran foto underwater dengan usia yang sangat belia, namun bila dipikirkan barang sebentar, ia sedang “menciptakan ombak” dengan arus kuat untuk menyeret setiap kita yang mengaku diri sebagai “orang laut-pulau”.
Dari Menyelam ke Rumah Belajar
Bak ombak. Menggulung dan melaju ke bibir pantai tak berputus. Adalah ilustrasi tepat untuk mengapresiasi gerakan perempuan cilik semisal Rachel. Ia masih belia, namun sudah berkontribusi bagi gerakan-gerakan kebaharian di Maluku.
Sejauh ini terlampau jamak dan rumit, untuk menggambarkan orientasi kemaritiman, khususnya laut pulau di Maluku. Banyak pihak dengan beragam peran, ada yang mendorong lewat berbagai kebijakan, gerakan, seminar, organisasi dan kegiatan kreatif lain. Namun, Rachel memilih menyelam sebagai gerakan untuk Maluku, lalu melabuhkannya dengan aksi sosial nyata : membangun rumah belajar bagi anak-anak laut-Pulau di Sekolah Bahari.
Membandingkan Gretha dan Rachel adalah membandingkan gerakan dua orang yang persis. Gretha menyuarakan concern-nya melalui kritik dan protes-protes langsung. Sedangkan Rachel justru melalui lajur kreatif dengan menyusuri palung-palung laut Maluku, lika liku kolam dan karang, berenang diantara koloni ikan-ikan laut yang rupawan, lalu membidiknya --bukan dengan panah-- melainkan mata kamera.
Rachel menyelam untuk menyicil satu per satu impian anak-anak laut Pulau untuk punya rumah belajar. Ia mengambil satu bagian kecil dengan visi jangka panjang yang besar bagi Maluku di masa mendatang. Maluku yang benar-benar menjiwai dirinya sebagai manusia bahari dan masyarakat laut. Masyarakat bahari yang pada akhirnya tak canggung-canggung untuk mengatakan “dari laut Maluku kita bisa berjaya”.
Dapatkan sekarang