AMBON, AT.--Tak hanya berhasil membawa perubahan untuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon juga dikenal sebagai sosok inspiratif. Banyak hal telah dilakukan, jauh sebelum ia menjadi pemimpin di daerah itu.
Menurut Agustunus Rahanwarat, keberhasilan Fatlolon ketika memimpin KKT, tak diragukan lagi karena terdokumentasi secara akurat. Antara penyelesaian pembangunan setengah bagian jalan masuk ke Desa Atubul, Wowonda dan Kabiarat serta akses jalan masuk ke pantai wisata Weluan Olilit yang terbengkalai belasan tahun lamanya.
Kemudian, peningkatan jalan untuk lima desa di Seira Kecamatan Wermaktian, pembangunan jalan di Kecamatan Fordata, peningkatan jalan penghubung antar desa di Kecamatan Selaru, median jalan dan drainase serta peningkatan jalan Ir. Soekarno di ibu kota Saumlaki disertai lampu penerangan jalan, pembangunan dan renovasi ribuan rumah layak huni (program bedah rumah).
Selain itu, Fatlolon juga membangun baru pasar tradisional Ngrimase Olilit di Saumlaki, pasar rakyat di desa Kabiarat dan beberapa di kecamatan terpencil, pembangunan RSUD Magretti dengan desain kontemporer di kawasan Ukurlaran sebagai cara ampuh menaikan akreditasi rumah sakit serta peningkatan pelayanan di bidang kesehatan
"Di sektor pendidikan, juga dibangun ruang kelas baru, renovasi ruang belajar, penambahan tenaga guru. Di bidang perikanan, terjadi peningkatan produksi rumput laut dengan memperbanyak bantuan bibit bagi petani rumput laut di desa-desa pesisir barat Kepulauan Tanimbar, bantuan ratusan longboat bagi para nelayan tangkap,"paparnya.
Pembangunan jaringan telekomunikasi, kata Rahanwarat, juga lepas dari perhatian Fatlolon. Mulai dari peningkatan jaringan telekomunikasi seluler dan jaringan internet 4G yang membantu masyarakat pelosok dan pesisir mengakses informasi secara bebas dan mudah dengan turut serta meningkatkan mutu pelayanan pendidikan berbasis internet.
Kemudian bantuan 2 unit generator dengan kapasitas besar untuk membantu PLN Ranting Larat dalam peningkatan penerangan listrik bagi masyarakat di Kecamatan Tanimbar Utara dan sekitarnya yang sebelumnya tidak pernah dibantu, serta bantuan TPU baru yang manfaatnya sudah dirasakan masyarakat di Larat.
Selain itu, kata dia, ada peningkatan kerja sama pemda dengan PEM Akamigas Cepu untuk perkuliahan khusus program beasiswa bagi lulusan SMA/SMK.
Petrus Fatlolon juga dicatat sebagai Bupati yang paling banyak melakukan kunjungan kerja sampai ke kecamatan dan desa terpencil, berbagi dengan anak-anak sekolah dalam kunjungan kerja ke sekolah-sekolah, bertatap muka dengan penyandang disabilitas, para lansia, janda dan duda, kaum buruh, petani dan nelayan, menjamu para tamu yang datang dari desa-desa serta tamu daerah dari ibu kota provinsi dan dari Jakarta.
"Menjadwalkan tamu dari unsur masyarakat pada hari Kamis serta menetapkan hari Kamis sebagai hari tematis Tenun Ikat Tanimbar yang wajib dipakai saat bekerja di kantor atau tempat kerja bagi para pelaku usaha serta BUMN/BUMD dan ASN disetiap instansi vertikal lainnya,"bebernya.
Kebijakan ini ikut menumbuh kembangkan usaha menenun bagi para pengrajin tenun ikat Tanimbar, sehingga perekonomian tak surut di pusaran pelaku usaha. Terobosan lainnya adalah mempermudah para ASN menerima upah dan tunjangan melalui transfer online dengan sistem penarikan melalui mesin ATM kapan saja dan bukan secara manual yang mana pernah terjadi pada pemerintahan sebelumnya.
Walau pemerintahannya berhadapan dengan situasi pandemi secara global, namun banyak bantuan sosial terus mengalir ke masyarakat, organisasi kemasyarakatan pemuda, LSM, pelaku UMKM, serta tak ketinggalan bantuan sosial bagi rumah-rumah ibadah (Gedung gereja Protestan, Katolik serta gedung masjid yang berdiri megah di jantung kota Saumlaki).
Tercatat anggaran belanja hibah untuk pembangunan gedung gereja baru (Protestan maupun Katolik, dan Kristen Denominasi lainnya) ada beberapa gereja yang bahkan mendapatkan bantuan 1 miliar rupiah, dan ada yang ratusan juta rupiah yang tersebar sampai ke pelosok umat dan jemaat di desa-desa terpencil.
Ini tergolong bantuan sosial tertinggi bagi rumah-rumah ibadah sejak kabupaten ini berdiri. Umat Islam juga mendapat bantuan hewan kurban beberapa ekor hewan sapi yang dibagikan ke beberapa masjid di Saumlaki, Larat, Kilon, Karatat dan Labobar.
"Bahkan perihal bantuan hewan kurban bagi Umat Islam di Tanimbar ini sudah dilakukan jau hari sebelum Petrus Fatlolon menjabat sebagai Bupati,"ungkapnya.
Soal pengangguran, tegas dia, pemerintahan sebelumnya tidak berani mengakomodir tenaga honor atau kontrak daerah karena pembiayaan yang memberatkan APBD dan dibatasi berdasarkan peraturan pemerintah. Namun di masa kepemimpinan Fatlolon, 2000-an orang lebih diangkat untuk mengisi posisi teknis di pemerintahan dengan metode perjanjian kerja.
Bahkan, lanjut Rahanwarat, selama sekitar 4 tahun lamanya, 2000-an orang lebih itu menikmati kehidupan yang pantas dan layak sebagai tenaga kontrak daerah. Ini suatu kebijakan dan terobosan yang menguntungkan rakyat Tanimbar.
Keberanian ini mengurai persoalan pengangguran yang terjadi di kabupaten Kepulauan Tanimbar. Hanya saja saat ini tak ada satu pun pejabat di pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang berani mengakomodir tenaga kontrak daerah itu.
"Mereka sudah kembali ke rumah. Diberhentikan. Mungkin ada kepentingan lain yang lebih besar ketimbang mengurus recehan di kantong para honorer,"tuturnya.
Sosok tokoh inspiratif asal desa Meyano Bab ini menghabiskan pemberiannya diluar penghasilannya sebagai bupati. Pantas saja jumlah kekayaannya malah menurun saat menjadi bupati.
"Memang benar, ia masih tetap dermawan sejati yang tidak memanfaatkan posisi bupati untuk memperbanyak harta kekayaan serta menambah tumpukan uang pada brankas pribadinya. Hal yang patut dicontohi para pemimpin lainnya,"urainya.
Dia menambahkan, Fatlolon juga memiliki kebun di Karawang - Jawa Barat dan di desa Ilngei Kecamatan Tanimbar Selatan jauh sebelum menjadi Bupati pada tahun 2017. Bahkan menyempatkan waktu berkebun menanam Wortel, Bawang Merah, Nenas, disela-sela kesibukannya sebagai Bupati.
"Serta banyak lagi prestasi yang hanya memakan waktu kira-kira 3 tahun sedangkan sisanya termakan penanganan pandemi Covid-19. Bayangkan saja bagaimana bila 10 tahun memimpin,"pungkasnya. (TAB)
Dapatkan sekarang