AMBON,AT-Perpustakaan Nasional Republik Indonesia gelar Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan perpustakaan umum program bantuan bahan bacaan untuk perpustakaan umum dalam penguatan literasi masyarakat.
Serta Bimtek strategi pengembangan perpustakaan dan teknologi informasi komunikasi (SPP-TIK) program transportasi perpustakaan berbasis inklusi Sosial
Peserta Bimtek dibagi menjadi dua bagian, pertama untuk pengelola perpustakaan yang lama atau disebut RAN sebanyak 51 orang.
Kedua pengelola perpustakaan baru disebut TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial) 23 orang. Total 74 peserta yang hadir.
Kegiatan yang berlangsung di The City Hotel Ambon Senin (27/05), dilakukan selama empat hari, sejak tanggal 27-30 Mei 2024, dihadiri puluhan peserta.
Mereka yang hadir dari delapan daerah di Maluku, diantaranya Maluku Tengah, Kota Ambon, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Maluku Tenggara, Kota Tual dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Kepala dinas perpustakaan dan kearsipan daerah Provinsi Maluku dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris dinas perpustakaan daerah Arifin Wabula ST. MM mengatakan, perpustakaan diperhadapkan pada sebuah layanan jasa informasi yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Diharapkan penggunaan jasa perpustakaan mendapatkan input informasi yang menambah kompetensi bagi pengelola agar bisa disalurkan kepada masyarakat, terutama para pelajar untuk meningkatkan semangat literasi membaca.
"Kita berharap kegiatan Bimtek ini bisa membawa manfaat bagi pengelola perpustakaan ditingkat dewa kelurahan maupun dinas di Kabupaten/Kota," sebutnya.
Sementara itu, Ronald Stenly Latihamalo, pelatih ahli program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Maluku, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan untuk para pengelolaan perpustakaan mereka mempunyai kompetensi terkait dengan perpustakaan.
Ini penting karena perpustakaan merupakan salah satu lembaga terdepan yang bisa menjembatani literasi membaca dilingkungan masyarakat.
"Kami juga berharap perpustakaan harus bisa melayani masyarakat. Kemudian dengan program transformasi ini mereka harus membuat konsep agar bisa membangun literasi membaca di masyarakat dengan fasilitasi yang di miliki perpustakaan," jelas Roland kepada media ini usai kegiatan, Senin kemarin.
Diharapkan setelah kegiatan Bimtek, temen-temen pengelola perpustakaan kembali di daerah masing-masing bisa membuat suatu perubahan. Salah satunya para pelajar maupun masyarakat didatangkan ke perpustakaan untuk membaca, karena ada sesuatu yang menjadi daya tarik.
Kemudian membangun relasi dengan dinas maupun lembaga lainnya demi mendukung kemajuan literasi membaca di masyarakat, agar pelayanan perpustakaan terus berlanjut.
Ia menambahkan perpustakaan Nasional akan memberikan seribu buku, sehingga pengelolaan perpustakaan bisa mempunyai keterampilan yang lebih baik.
"Ada sekitar 74 peserta yang hadir dari delapan Kabupaten Kota. Mereka berasal dari petugas perpustakaan kelurahan Desa dan petugas Taman Baca Masyarakat (TBM)," sahut Ronald.
Wilhelmina Layan pengelola Perpustakaan Turlel, Desa Kabiarat Kecamatan Tanimbar Selatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) mengapresiasi kegiatan bimtek tersebut.
Perpustakaan desa yang dipimpinnya itu baru pertama kali mengikuti kegiatan bersama perpustakaan Nasional, namun sangat memberikan motivasi serta pengalaman.
"Menurut saya kegiatan ini sangat memberikan dampak, karena bisa menambah pengalaman," katanya.
Perpustakaan Turlel yang di dirikan pada 2008, masih kekurangan buku, serta kebutuhan sarana dan prasarana seperti komputer, Printer, rak buku. Perpustakaan tersebut sering dibantu melalui dana Desa dan juga pemerintah daerah tetapi masih terbilang belum sesuai yang diharapkan.
"Kalau dibilang sentuhan juga kurang, sehingga dengan sendirinya perpustakaan tidak berkembang.
Namun dengan usaha kita, puji tuhan tahun ini baru bisa terdaftar di perpustakaan Nasional.
Karena ada permintaan dari perpus Nasional untuk penambahan TPBIS dari KKT, sehingga Perpustakaan kami di masukan," sebutnya.
Ia mengaku minat baca masyarakat maupun pelajar ke perpustakaan mulai berkurang, penyebabnya karena semua sudah menggunakan handphone android dan semua bisa akses lewat internet.
"Minat baca masyarakat agak menurun, karena sudah ada wifi di mana mana, semua sudah beralih ke internet. Tinggal klik baca apa yang mereka mau," ungkap Layan.
(WHB)
Dapatkan sekarang