Perempuan Kei Turun Jalan Serukan Perdamaian
Vat-vat Evav (Perempuan Kei) di Kota Tual melakukan aksi damai, Kamis (2/2) untuk menggugah masyarakat menyudahi konflik yang telah berlangsung selama tiga hari dan mengakibatkan korban luka serta kerusakan bangunan.

ISTIMEWA/AMBON EKSPRES
Admin
03 Feb 2023 10:56 WIT

Perempuan Kei Turun Jalan Serukan Perdamaian

AMBON, AT-Masyarakat Kota Tual tidak ingin konflik berlanjut. Kaum perempuannya turun jalan menyerukan perdamaian. 

Bentrok antar warga di daerah itu kembali pecah pada Kamis (2/2) sekira pukul 06.45 WIT. Padahal, sebelumnya, Rabu (1/2) malam situasi sudah mulai mereda.

Ketegangan demi ketegangan itu, membuat perempuan Kei (vat-vat Evav) turun jalan menggelar aksi damai. Mereka merasa terpanggil karena bentrok selama beberapa hari tak kunjung mereda.

Aksi ini damai ini diinisiasi oleh sekelompk perempuan. Mereka adalah Juliana Rahantoknam, Kiki Renhoran, Ririn Prasetyo, Mike Kilmanun dan Yosi Jauply, serta perempuan lainnya yang terdiri pelajar, mahasiswa, pedadang, papalele, PNS, dan swasta.

Aksi dalam bentuk longmarch, itu dimulai dari depan kantor DPRD Kota Tual  menuju depan kompleks Yarler yang merupakan titik konsentrasi bentrokan, kemudian menuju Desa Un  berakhir di komplekk Wearhir, Kamis (2/2) sekira pukul 16.00 WIT. Ratusan perempuan yang didominasi ibu-ibu, 
mengenakan kain sarung dan tenun berjalan kaki sambil menyanyikan lagu Gandong dan membentangkan spanduk bertuliskan "Katong Basudara Cinta Damai" dan "Damai Itu Indah".

Saat tiba di kantor DPRD Kota Tual, suasana sempat mencekam. Sejumlah orang yang adalah korban, berdiri di samping kantor wakil rakyat itu terlihat menggenggam senjata tajam dan marah-marah.

Namun, hal itu sedikit pun menyurutkan semangat mereka. Seruan perdamaian yang dikawal aparat TNI dan kepolisian, itu berlanjut dan lancar hingga selesai sekira pukul 18.00 WIT.

"Tapi, alhamdulilah aksi berjalan lancar karena mereka berpikir mungkin kami perempuan jadi tidak mungkin melukai kami,"kata koordinator aksi damai, Ririn Prasetyo ketika dihubungi Ambon Ekspres dari Ambon, Kamis (2/2) malam.

Ririn menegaskan, aksi yang mereka lakukan bukan untuk mendamaikan secara otomatis, tetapi merasa benar-benar terpangil sebagai perempuan Evav yang ingin menunjukkan kecintaan kepada tanah beradat itu.

Ekspresi para perempuan Kei, kata Ririn, setidaknya bisa memulihkan kondisi dua kelompok masyarakat Tual yang bentrok selama beberapa kali. Sebab, perempuan memiliki kedudukan dan pengaruh kuat dalam tatanan adat dan sosial masyarakat Kei.

"Karena orang-orang selalu bilang, kami orang-orang Kei ini menghargai perempuan, maka hari ini kami perempuan-perempuan turun ke jalan untuk membuktikan bahwa sejahat apapun laki-laki, tapi saat perempuan Kei berdiri di depan, maka mereka tidak akan pernah melukai perempuan Kei, melukai masyarakat Kei,"tegasnya.

Di sisi lain, Ririn juga meminta seluruh pihak terutama di luar maupun di Kota Tual agar tidak membuat status hoaks di media sosial. Informasi yang belum pasti benar harus dikroscek sebelum dibagikan.

Ia juga meminta agar korban luka-luka ditangani secara maksimal. Jika perlu, dokter bedah atau anastesi ditambah.

"Harapannya, kembalikan tanah Evav seperti dulu. Kita harus mendamaikan, karena tidak bagus kita berjalan dengan ketakutan dan rasa was-was. Alangkah eloknya kita berdamai, damai itu indah,"ajaknya.

Koordinator lainnya, Juliana Rahantoknam menegaskan, bentrok di Kota Tual tidak terkait agama. Hanya salah paham beberapa pemuda. 

Juliana mengakui, merasa terpukul dan prihatin melihat anak-anak menangis dan histeris, rumah dihancurkan, dan warga lari dengan pakaian di badan untuk menyelamatkan diri.

"Sebagai seorang perempuan dan seorang ibu, kita tidak tega melihat ini. Mau sampai kapan kita terus begini?,"kata Yuli.

Yuli dan perempuan Kei lainnya tidak ingin melihat konflik terjadi lagi di Kota Beradat itu. Sebab anak-anak tidak bisa bersekolah, masyarakat tidak lagi berjualan, korban luka berjatuhan serta kerugian materil yang tidak sedikit.

"Ayo, laki-laki ketika kalian mati karena perempuan dan batas tanah, maka kami perempuan Kei bersarung kain dan menyerukan damai, kami percaya bahwa malam ini hati nurani kalian dipulihkan, akar kepahitan dipulihkan dan kesakitan semuanya dipulihkan. Cukup beberapa hari ini saja. Mari sama-sama kita membantu TNI dan Polri untuk menjaga situasi keamanan,"seru dia.

Yuli menambahkan perwakilan Vat-Vat Evav akan mengikuti pertemuan bersama pemkota Tual, kepala pemuda, TNI, Polri dan tokoh agama, adat dan masyarkat, hari ini untuk upaya rekonsiliasi.

Maklumat Walikota

Sementara itu, Walikota Tual Adam Rahayaan mengeluarkan maklumat nomor 300-001, Kamis, 2 Februari 2023 yang berisi empat poin pentingnya. Pertama, setiap tokoh adat, agama, masyarakat agar memberikan pembinaan serta menenangkan masyarakat di lingkungannya dalam rangka menjaga keamanan dan kedamaian.

Kedua, masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoaks. Tiga, mulai 2 Februari 2023, pukul 21.00 WIT, akan diberlakukan jam malam dengan ketentuan tidak diperbolehkan adanya kerumuman masyarakat pada lingkungan dan jalan-jalan utama, tidak diperkenankan oknum masyarakat membawa senjata atau alat tajam jenis apapun di tempat umum.

Keempat, akan dilakukan sidak dan tindakan tegas oleh aparat keamanan terhadap isi maklumat ini. Maklumat ini dikeluarkan untuk menjaga stabilitas dan meredam konflik sosial antar masyarakat, menciptakan keamanan dan kedamaian daerah, menghormati hak dan kepentingan, serta menciptakan keharmonisan dan kerukunan antar masyarakat atas dasar falsafah Ain Ni Ain.

33 Orang Dirawat

Sementara itu, bentrok susulan, 
Kamis (2/2) pagi mengakibatkan 5 orang anggota Polri terluka. Polda Maluku belum dapat mengidentifikasi berapa jumlah bangunan dan rumah warga yang terbakar sejak bentrokan awal.

Upaya perdamaian telah dilakukan oleh emerintah Kota Tual, TNI-Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh ddat dan unsur lainnya. Namun, beredar informasi tidak benar (hoaks) tempat ibadah dibakar.

" Kondisi sejak kemarin itu memang sudah berangsur normal, dan tadi pagi tadi (Kamis-red) kembali meletus lagi bentrokan lagi sekira pukul 06.45 WIT. Ini yang kami sesalkan,"kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes (Pol) Muhamad Roem Ohoirat.

Akibat bentrokan susulan itu, beberapa orang terluka, termasuk Kabag Ops  Kompol Arsad Rengur, dan Danton Dalmas Poltres Tual terkena panah.

" Selain itu, data dari Rumah Sakit Tual  ada 33 orang dirawat akibat bentrokan 
kemarin sampai dengan (Kamis) siang tadi. Jadi sudah 5 anggota Polri juga yang terluka," jelas Ohoirat.

Untuk memperkuat pengamanan oleh Polres Tual dan Kodim Tual, kata Roem, sebanyak 30 personil Brimob BKO di Kei Besar diarahkan masuk ke kota Tual sejak Rabu (1/2)." Dan hari ini (Kamis-red) kurang lebih 70 pasukan dari 733 (anggota TNI) sementara sudah dikirim ke sana,"ungkapnya.

Personil Polda Maluku juga akan dikerahkan ke kota Tual, Jumat (3/2)." Satu platon dari Brimob di Kepulauan Aru juga akan digeser ke Tual. Termasuk dari Ambon, itu ada 1 platon personil Brimob dan 1 platon personil Sabhara untuk membantu membackup pengamanan di sana," jelas Roem.

Mantan Kapolresta Kepulauan Aru dan Maluku Tenggara mengakui belum ada data resmi fasilitas yang rusak. Ia juga membantah  informasi terbakarnya rumah ibadah.

"Polres Tual dan kantor Kemenag sudah melakukan identifikasi langsung, dan musala yang diisukan dibakar, itu utuh. Ini yang sangat kita sayangkan, ditengah upaya damai sementara dilakukan malah ada oknum tidak bertangungjawab sengaja menyebar informasi tidak benar seperti ini," sesal Roem. (TAB/ERM)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai