AMBON, AT--Munculnya dua belas pendatang baru bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia daerah pemilihan Maluku membuat persaingan kian menarik. Bahkan, di antaranya mereka diprediksi bisa menggeser petahana.
Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Paulus Koritelu mengatakan, munculnya 12 pendatang baru bakal calon anggota DPD patut diapresiasi. Apalagi dari beragam latar belakang pekerjaan maupun pengalaman yang tentu memberi warna bagi masyarakat dalam menentukan pilihan politiknya nanti.
Para pendatang baru ini, lanjut Paulus, juga memiliki peluang yang sama dengan empat petahana, yakni Nono Sampono, Miratih Dewaningsih, Anna Latuconsina, dan Novita Annakota. Mereka bisa memanfaatkan kelemahan petahana yang selama ini sudah diketahui oleh masyarakat Maluku.
“Karena pertama, secara substansial harus diakui bahwa rakyat Maluku sesungguhnya kecewa karena aspirasi rakyat Maluku tidak bisa direaliasikan lewat peran-peran mereka (anggota DPD) sebagai wakil rakyat,”kata Paulus ketika dihubungi Ambon Ekspres, Selasa (17/1).
Kelemahan tersebut, sebut Paulus, tergambar dari perjuangkan beberapa kepentingan strategis bagi kemajuan Maluku yang tidak bisa dituntaskan dengan hasil positif. Antara lain perjuangan 13 Daerah Otonom Baru (DOB), baik DOB provinsi Maluku Tenggara Raya maupun 12 kabupaten/kota lainnya di Maluku dan Undang-Undang (UU) provinsi kepulauan.
Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpatti mengakui, memang fungsi, tugas dan wewenang anggota DPD memang dibatasi. DPD RI tidak diberi kewenangan legislatif yang memadai sebagai wakil daerah.
Namun, status qou itu lantas tidak menjadi alasan klasik bagi para senator untuk tidak memperjuangkan aspirasi masyarakat Maluku. Minimal, empat anggota DPD yang masih bertugas hingga 2024 bisa duduk bersama dan menyatukan pikiran untuk mengonsolidasikan kepentingan rakyat yang memilih ke pemerintah secara langsung maupun lewat DPR.
“Itu (keterbatasan fungsi dan wewenang) yang biasa kita dengar dari dulu. Tetapi, solidaritas untuk memperjuangkan commond interest (kepentingan bersama) Maluku, mereka berempat jangan lagi berafiliasi dengan kepentingan yang lain. Tapi harus solid, maka saya kira batasan kewenangan di UU itu bisa ditembus dengan berbagai cara,”paparnya.
Selain itu, harus lebih aktif melibatkan masyarakat agar tekanan ke pemerintah lebih kuat. Hal itu bisa dimulai dengan mengemas isu dan gagasan yang dibisa disuarakan lewat media massa maupun media sosial secara rutin dan berkelanjutan.
"Misalnya, Fredy Sambo hari ini. Kalau zaman dulu, dia akan pasti bebas. Tapi, sekrang bisa ditahan kaerna tekanan publik yang lebih kuat. Nah, kalau para senator kita sedikit cerdas, kan mereka bisa melibatkan masyarakat dalam memperjuankan aspirasi masyarakat di Maluku,”jelasnya.
Olehnya itu, menurut dia, tidak ada alasan bagi para petahana bakal calon senator untuk membela diri ketika dikoreksi dan evaluasi lewat pemilihan umum angota legistif, tahun depan. Setiap sepak terjang mereka akan dinilai secara objektif.
"Karena itu para senator incumbent ini tidak perlu mencari pembenaran diri dari atas kekurangan mereka selama ini. Saya kira peradaban politik orang Maluku itu sangat tinggi. Sehingga mereka mati-matian untuk berjuang atas kepentingan mereka,”tegas dia, mengingatkan.
Terbuka Peluang
Di sisi lain, meski empat petahana menunjukkan kinerja yang belum maksimal, namun kata Koritelu, para pendatang baru atau penantang tidak boleh bersenang dulu. Memanfaatkan kelemahan lawan kemungkinan bisa dilakukan, tapi jauh lebih etis jika mereka mampu menguatkan potensi dan peluang sendiri untuk meraup suara.
Menurut dia, ada dua strategi yang jika dilakukan secara maksimal oleh kandidat anggota DPD yang baru, maka kans untuk menggeser petahan sangat terbuka. Pertama, memaksimalkan sepak terjang mereka selama ini sebagai politisi, akademisi, pengusaha, aparatur sipil negara (ASN), pekerja sosial maupun aktivis pemuda.
“Di antara dua belas nama bakal calon DPD baru, ada beberapa yang memiliki kapasitas dan rekam jejak yang diragukan lagi. Tentu, modal politik dan sosial sebagai mantan anggota DPRD Provinsi (Maluku) beberapa periode, pengalaman panjang di level akar rumput lewat program-program sosial, dan lainnya menjadikan peluang bagi mereka,”paparnya.
Kedua, kecermatan dan kesempatan secara strategis untuk mengemas isu-isu politik yang dianggap aktual, relevan dan berhubungan dengan kepentingan masyarakat Maluku.
“Asal cerdas mengemas isu juga. Jika mereka mampu melakukan itu, saya kira bisa membuat mereka memenangkan pertarungan ini. Mungkin para petahana menganggap bahwa mereka adalah underdog (diunggulkan), tapi saya kira kecerdasan politik orang Maluku itu sudah ada di atas ambang rata-rata,”jelas Koritelu yang juga sosiolog, itu.
Akan tetapi, ia juga menyarankan para pendatang baru agar tidak sebatas mengumbar janji. Mereka harus mampu menyodorkan visi dan misi yang masuk akal dan bisa direaliasikan untuk merebut kepercayaan masyarakat.
“Karena menang rakyat sudah terlalau terbiasa dan dibiasakan dengan janji-janji yang dianggap aktual, relevan dan berhubungan dengan kepentingan masyarakat Maluku.
Olehnya itu, kata dia, para kandidat pemula ini harus fokus mengidentifikasi basis tradisional mereka untuk diakumulasikan menjadi suara.
"Karena kalau mereka ingin menjangkau semua tipologi pemilih di semua kabupaten/kota itu membutuhkan logistik yang sangat banyak,"pungkasnya. (TAB)
Dapatkan sekarang