AMBON,AT-PT Pelni Cabang Namlea maupun Polres Buru belum mengungkap pemilik kontainer diduga berisi bahan berbahaya dan beracun (B3). Kepolisian beralasan masih menunggu hasil uji laboratorium sampel ikan mati diduga akibat terkontaminasi Sianida beberapa hari lalu.
Kepala Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Namlea, Bas Rahman tidak berbicara ketika ditanya Ambon Ekspres, Sabtu (1/4) soal pemilik barang diduga B3 yang hingga saat ini masih tersimpan dalam kontainer. Padahal, di manifes sudah tertulis jelas nama pengirim dari Makassar Fadli dan penerima di Namlea bernama Fadly.
"Kita tunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian,"kata Bas.
Informasi yang diperoleh Ambon Ekspres, Bas telah mengikuti rapat
bersama Komisi III DPRD Kabupaten Buru, Jumat (31/3). Bas mengaku, tidak mengetahui pemilik maupun jenis barang di dalam kontainer yang jatuh ke laut di Pelabuhan Namlea, Selasa (29/3).
Olehnya itu, dia telah mengutus tim Pelni Namlea untuk mengecek ke Pelni Makasar karena kontainer tersebut dikirim dari Makassar menggunakan KM Dorolonda dengan tujuan Namlea. Petugas Pelni Namlea akan meminta informasi detil soal lolosnya kontainer tersebut ke KM Dorolonda.
Sementara Kepala Urusan Hubungan Masyarakat (Paur Humas) Polres Buru, Aipda Djamaluddin mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium.
"Penyidik masih bekerja. Sementara kami Masih fokus pada isi kontainer yang diduga B3 itu. Jadi, kami masih menunggu hasil uji laboratorium" kata Djamaludin saat dikonfirmasi Ambon Ekspres, Minggu (2/4).
Terkait pemilik kontainer, lanjut Djamaludin, pihaknya akan segera menindaklanjuti jika sudah mengetahui hasil uji laboratorium. Bila hasilnya terbukti ada B3 dan terdapat perbuatan melawan hukum, akan menindaklanjuti memproses hukum pemilik dan pengirim kontainer tersebut.
"Sampai sekarang kami pun masih belum mengetahui siapa dan apa kapasitas si pemilik kontainer. Untuk itu, kami minta waktu sementara biar kami fokus dulu pada hasil uji labnya. Secepatnya akan kami umumkan jika sudah ada perkembangan" cetusnya.
Kontainer Belum Dibuka
Kapolda Maluku Irjen (Pol) Lotharia Latif, meninjau satu unit kontainer yang diduga berisi B3 di pelabuhan Namlea, Kabupaten Buru, Minggu (2/4).
Kontainer ditinjau itu sempat terjatuh akibat terputusnya tali sling KM.Dorolonda Selasa (28/3) lalu saat hendak menurunkan kontainer tersebut.
Bersamaan dengan terjatuhnya kontainer, ditemukan banyaknya ikan yang mati di area tersebut. Kejadian itu menimbulkan spekulasi bahwa ribuan ikan yang mati akibat terkontinasi B3, salah satunya Sianida (Cn).
Hingga saat ini isi kontainer tersebut belum dibongkar dan diperiksa. Sebab dikhawatirkan akan berdampak kepada petugas yang melakukan pemeriksaan.
Aparat kepolisian juga masih menunggu ahli lingkungan hidup yang berencana membukanya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui isi kontainer dan penyebab ikan mati."Kontainer sampai sekarang belum dibuka karena menunggu ahli lingkungan hidup yang akan membukanya," kata Kapolda.
Kapolda kala itu juga memberikan petunjuk dan arahan agar proses hukumnya melibatkan instansi terkait dan aturan yang berlaku. Selain itu, Kapolda juga sudah mengarahkan Bupati dan dinas terkait agar dapat memulihkan kondisi psikologis masyarakat sekitar.
Ia juga berharap agar hasil pengecekan kondisi perairan sekitar dapat disampaikan agar dapat diketahui masyarakat.
"Apabila benar-benar sudah aman agar masyarakat diberikan informasi untuk tidak ada lagi keraguan mengkonsumsi ikan-ikan di sekitar lokasi tersebut, sehingga semua aktivitas dapat berjalan normal kembali," pungkasnya.
Saat melaksanakan kegiatan di Polres Pulau Buru, Kapolda telah memerintahkan agar terus melakukan penegakan hukum. Tindak tegas para pelaku baik perorangan maupun instansi yang bertanggung jawab atas proses pengiriman kontainer dan pengangkutan.
"Tindak tegas para pelaku baik perorangan maupun instansi yang bertanggung jawab atas proses pengiriman kontainer dan pengangkutan yang sepertinya dikaburkan sejak awal pengiriman oleh pihak-pihak tertentu," pintanya.
Diberitakan sebelumnya, satu kontainer diangkat oleh crane dalam proses bongkar muatan kapal KM. Doloronda di Pelabuhan Namlea Kabupaten Buru, Selasa (28/3) sekira pukul 16.30 WIT, tiba-tiba terjatuh di laut akibat sali sling terputus atau terlepas. Kontainer itu diduga berisi B3 termasuk sianida (Cn) untuk pengolahan tambang di Gunung Botak Pulau Buru.
Tak berselang lama jatuhnya kontainer,
ratusan ikan di sekitar pelabuhan mati mendadak. Diduga akibat kandungan B3 dalam kontainer yang sudah tercampur dengan air laut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Maluku mengambil sampel ikan mati dan air laut di pelabuhan Namlea untuk diuji. DLH meminta bantuan
ahli kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Universitas Pattimura, Profesor Yusthinus Tobhias Male untuk pengambilan sampel.
Namun, hingga kemarin
belum diuji karena tidak ada laboratorium berstandar atau terakreditasi di daerah ini.
Selain itu, kata Prof Male; beberapa laboratorium di Ambon belum bisa menguji dan menganalisis kandungan sianida.
Pengujian dan analisis bisa dilakukan di laboratorium kimia milik F-MIPA Unpatti tapi belum terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN).Menurut guru besar kimia anorganik itu, sebaiknya dia mengerjakan sebagian sampel di laboratorium kimia F-MIPA Unpatti sebagai data pendukung sebelum dikirim ke laboratorium yang terakreditasi.
"Belum ada arahan lanjutan, mau diteliti di lab mana. Kita punya alat dan metode lebih canggih tetapi itu pilihan kedua. Artinya, kalau mau dijadikan delik hukum, lab-nya mesti tersertifikasi atau terstandarisasi. Tapi tergantung yang punya kerjaan (DLH),"pungkasnya. (YS/ERM)
Dapatkan sekarang