Optimis Menang, Paslon 2M tak Terpengaruh Hasil Survei
Admin
16 Nov 2024 06:52 WIT

Optimis Menang, Paslon 2M tak Terpengaruh Hasil Survei

AMBON,AT.—Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Michael Wattimena terus mendatangi setiap daerah di Maluku untuk berkampanye. Pasangan nomor urut 2 itu juga tidak terpengaruh dengan hasil survei salah satu lembaga beberapa waktu lalu.

Setelah menyisir Jazirah Leihitu yang terdiri dari Kecamatan Leihitu,  Leihitu Barat, dan Salahutu di Kabupaten Maluku Tengah, kini pasangan Murad dan Michael dengan akronim 2M itu mendatangi Pulau Banda untuk menyampaikan visi dan misi sekaligus meminta doa dan dukungan masyarakat. Selama satu bulan lebih berkampanye di hampir seluruh Kabupaten/Kota di Maluku, elektabilitas pasangan 2M tak tergoyah.

Elektabilitas atau tingkat keterpilihan paslon yang diusung oleh PAN, Demokrat, PKS, Golkar, PKB, PBB dan Partai Ummat itu sudah di atas kandidat lain sejak tahapan perebutan rekomendasi partai politik. Pemberian rekomendasi oleh lima partai yang memiliki kursi di DPRD Maluku, ditambah dukungan PBB dan Partai Ummat menjadi bukti tingginya elektabilitas pasangan 2M.

Namun, hasil survei sebuah lembaga pada pertengahan Oktober dan baru diberitakan media lokal pekan lalu, memperlihatkan elektabilitas Murad-Michael di bawah salah satu pasangan calon lain. Padahal, pasangan 2M gencar melakukan kampanye pada bulan Oktober, sehingga patut diduga terjadi anomali dari temuan lembaga survei tersebut.

Terkait hal itu, Koordinator Tim Kampanye pasangan 2M, Haeruddin Tuarita kepada Ambon Ekspres, Jumat (15/11/2024) mengatakan, partai politik punya alasan kuat untuk memberikan rekomendasi kepada pasangan calon kepala daerah. Salah satu indikator wajibnya adalah hasil survei karena parpol juga ingin menang di Pilkada.

Untuk memotret popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas calon kepala daerah, kata Haeruddin, parpol pengusung 2M menggandeng lembaga survei berpengalaman dan kredibel untuk melakukan survei. Ada parpol yang menggunakan survei yang dilakukan secara profesional.

"Survei dilakukan sebelum penetapan rekomendasi, terutama yang dilakukan partai politik menggunakan pihak ketiga. Pada waktu itu, hasil survei menunjukkan bahwa 2M masih di atas. Mulai dari Mei, Juni, Juli sampai pertengahan September 2M masih di atas,"jelas Haeruddin.

Namun, lanjut Haeruddin, pada awal hingga pertengahan Oktober, dimana 2M belum turun kampanye, sebuah lembaga melakukan survei Pilkada Gubernur Maluku. Hasilnya, elektabilitas salah satu paslon justru melebihi elektabilitas 2M.

Padahal, pada September selisih elektabilitas 2M dari paslon lainnya cukup besar berdasarkan hasil survei internal 2M. Dan ketika aktif berkampanye di zona II di Maluku Tenggara Raya, kata Haeruddin, mestinya angka elektabilitas paslon 2M meningkat.

"Ternyata mereka survei di saat kami tidak turun melakukan kampanye. 
Sebab kami aktif kampanye itu sudah di zona III yang meliputi wilayah Tenggara Raya. Tentu perubahan-perubahan (angka elektabilitas)  itu kan harusnya tidak terlalu signifikan, sebab September itu kami masih di atas.  Mestinya saat kami kampanye itu  kan elektabiltas 2M meningkat, bukan turun. Tapi di sisi lain, kenapa elektabilitas calon lain naik. Jadi, ada anomali di situ,"paparnya.

Di sisi lain, Haeruddin masih meragukan hasil survei salah satu lembaga yang sudah diberitakan beberapa hari lalu tersebut. Pasalnya, hasil survei itu hanya diperoleh dari grup WhatsApp lalu dikutip oleh media, tanpa ada keterangan resmi dari lembaga yang bersangkutan secara tertulis atau melalui konferensi pers.

"Selain itu, karena ini merupakan Pilkada serentak seluruh Indonesia, pastinya ada lembaga yang merilis hasil survei juga secara independen. Jadi tunggu saja apakah ada lembaga-lembaga yang selama ini kita kenal dan tahu kredibel merilis surveinya atau tidak,"jelasnya.

Ia justru menduga hasil survei yang sudah ada sengaja dipublikasikan ke publik menjelang beberapa hari kampanye akbar salah satu paslon di Lapangan Merdeka guna memancing masyarakat untuk sekadar datang menonton.

"Selain itu, hasil survei lembaga itu juga diberitakan beberapa hari sebelum mereka kampanye akbar di Lapangan Merdeka. Bisa saja untuk mempengaruhi masyarakat untuk datang nonton. Intinya, pasangan 2M tidak terpengaruh hasil survei tersebut,"tegas Sekretris DPW PAN Maluku itu.

Sebagai politisi yang cukup lama bergelut dengan Pilkada di Maluku, Haeruddin tidak menampik lembaga survei memang menggunakan metodologi ilmiah dalam melakukan survei. Tetapi ia menegaskan, tidak semua lembaga survei independen.

Setidaknya pengalamannya mendampingi Widya Pratiwi Murad pada Pileg lalu hingga berhasil meraih kursi DPR RI dengan suara terbanyak dari daerah pemilihan Maluku, merupakan salah satu contohnya. Kalau itu, Widya yang merupakan calon anggota DPR dari PAN tidak menggunakan lembaga survei selama berkampanye tapi berhasil meraup suara terbanyak daripada caleg lain.

"Waktu Pileg, kami juga tidak menggunakan lembaga survei. Tapi ketika kami melakukan kampanye dari September 2023 hingga memasuki Januari 2024, tiba-tiba harian Rakyat Merdeka di Jakarta mengeluarkan headline istri Gubernur menggoyang empat incumbent. Dan ternyata benar, ibu Widya keluar sebagai pemenang caleg peraih suara terbanyak. Jadi,
ada survei oleh lembaga yang independen untuk memotret pilihan rakyat Maluku,"pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (PusDeHAM) Surabaya merilis laporan survei terbaru terkait Pemilihan Gubernur Maluku 2024. Hasil survei yang dilakukan pada Oktober lalu itu menempatkan pasangan Hendrik Lewerissa-Abdullah Vanath unggul atas dua pasangan calon lain. 

Berdasarkan dokumen PDF yang diperoleh Ambon Ekspres akhir Oktober lalu,  PusDeHAM diketahui melakukan survei pada 1-15 Oktober 2024 dengan judul laporan survei “Perilaku Pemilih Masyarakat dalam Pemilu Kepala Daerah Provinsi Maluku Tahun 2024”.  Menggunakan metode sampel acak bertahap (multistage random sampling), survei ini melibatkan 1.200 respon di atas 17 tahun di seluruh kabupaten/kota, dengan margin error kurang 3 persen. 

Hasil survei lembaga ini menunjukkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 3, Hendrik Lewerissa-Abdullah Vanath dengan akronim LAWAMENA memperoleh elektabilitas (keterpilihan) tertinggi yakni 37,1 persen. Disusul pasangan nomor urut 2, Ismail-Michael Wattimena atau 2M sebesar 35.8 persen, dan pasangan nomor urut 1,  Jeffry Apoly Rahawarin- Abdul Mukti Keliobas 23.5 persen. 

Data ini memperlihatkan selisih elektabilitas pasangan Hendrik-Vanath dengan Murad-Michael hanya 1,3 persen. Dengan temuan 3,6 respon belum menentukan pilihan, saling kejar elektabilitas akan terjadi pada 23 hari menjelang pemungutan suara. (WHB)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai