Minat Anak Muda Mengeksplorasi Musik Gambus Masih Minim
Ketgam:

Seniman gambus, M. Gabil Attamimi dan penyanyi Ambon Jong Kadafih yang dipandu host Ameks FM, Novita Indriyati berdialog tentang eksistensi dan pengembangan musik gambus di Kota Ambon pada program Bastori Musik, Jumat (24/3).

Kader Serawak/AMBON EKSPRES
FaizalLestaluhu
25 Mar 2023 14:40 WIT

Minat Anak Muda Mengeksplorasi Musik Gambus Masih Minim

AMBON,AT-Gitar, adalah instrumen musik semua umat. Ia hadir di panggung-panggung hiburan, di studio musik, hingga menjadi alat musik yang ditenteng kemana-mana oleh remaja 17-an tahun. Entah ke sekolah atau ke tempat tongkrongan. Begitu populernya gitar, seolah itu satu-satunya alat musik petik yang ada.

Tak ada yang mau menenteng gambus atau alat musik petik tradisional lainnya. Entah karena kurang modern atau memang dianggap tak menghasilkan bunyi sebagus bunyi gitar. Padahal, alat-alat musik tersebut adalah sumber musik-musik etnik yang mewarnai nusantara sejak lama. Fenomena itu disorot oleh M Gabil Attamimi, Seniman Gambus saat dialog Bastori Musik di Ameks Radio, kemarin.

Attamimi pun khawatir, semakin hilangnya anak muda yang pandai memainkan atau mengeksplorasi alat musik tradisional, terutama alat musik gambus jika tidak ada yang suka memainkannya, makanya di Ambon, sangat minim pemain alat musik tersebut.

“Kita tidak dapat berbicara musik tradisional tanpa alat musiknya. Sejatinya alat musik tradisional masih dibutuhkan untuk selalu ada dan diperjualbelikan secara umum dengan lebih optimal lagi,” ungkapnya.

Attamimi juga mendorong, agar semua pihak, utamanya para pegiat dan musisi seni tradisi mengupayakan gerakan bersama, untuk memperkenalkan kembali instrumen musik gambus kepada anak muda.

“Harus ada sebuah gerakan untuk memperkenalkan alat musik gambus tersebut," katanya.

Ingat, lanjut dia, musik gambus maupun musik tradisional lainnya, itu merupakan kekayaan budaya dan identitas bangsa Indonesia, menjadi warisan turun temurun yang wajib dilestarikan.

"Saya nilai, pemain alat musik gambus di Kota Ambon masih sedikit dibandingkan alat musik lainnya. 
Hal ini disebabkan tingkat kesulitan dan minimnya minat generasi muda untuk memainkannya," nilai dia.

Dijelaskan,  tidak semua lagu yang dinyanyikan dengan musik gambus harus menggunakan bahasa Arab, tetapi juga menggunakan bahasa Indonesia dan melayu.

"Di Ambon, hanya satu dua orang saja yang memiliki kemampuan untuk bermain alat musik gambus, " akui Attamimi. 
 

Lebih jauh dijelaskan,   kemampuan generasi muda harus diasah lebih matang sehingga pada gilirannya, seniman musik gambus di Kota Ambon lebih maju dan berkembang. 

" Untuk mendukung Ambon City Of Music, maka musik gambus harus mampu berkolaborasi dengan alat musik lainnya, " tutup dia. 

Sementara itu, Jong Kadafih,  penyanyi asal Kota Ambon menurutkan, untuk mampu bersaing dan berkompetisi di industri musik khususnya di kota ini, maka penyanyi tidak hanya berpatokan pada satu alat musik saja.

"Olehnya itu,  baik penyanyi maupun musisi lebih giat mengasah potensi yang dimiliki untuk terus memproduksi hasil karya sehingga dapat berkompetisi di industri musik," jelasnya.

Menurut Kadafih, untuk mengembangkan alat musik gambus di Maluku, lagu - lagu pop dan melayu Ambon harus dinyanyikan dengan koloborasi musik gambus. Tujuannya, agar pengembangan musik gambus dapat dilakukan secara maksimal sehingga pelestariannya tetap terjaga dengan baik.

 " Kita tetap berharap lagu - lagu pop dan melayu Ambon dapat dinyanyikan dengan musik gambus, sehingga Kota Ambon kaya akan musik dan lagu - lagu kearifan lokal serta memiliki ciri khas tersendiri, " kuncinya. (AKS)

 

 

 

 

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai