AMBON, AT.-Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri, Irjen Pol. Martinus Hukom mengatakan, Maluku tidak termasuk wilayah yang rentan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Hal ini disebabkan Maluku memiliki kearifan lokal yang kuat.
Menurut Hukom, selain kearifan lokal, pada level tertentu sangat dibutuhkan pendidikan anti radikalisme dan anti terorisme diajarkan pada satuan pendidikan. Nilai-nilai yang harus ditanamkan adalah muatan-muatan lokal seperti budaya pela gandong, budaya masohi dan lainnya.
" Kearifan lokal menjadi modal penting ketahanan anti radikalisme,"kata Kadensus saat menjadi narasumber di Podcast Ambon Ekspres, Minggu (29/1).
Kearifan lokal sebagai modal sosial yang terus tumbuh dan berkembang di masyarakat, kata Hukom, menjadi benteng pertahanan dari segala serangan pemahaman radikalisme dan terorisme. Terutama lewat teknologi informasi dan media sosial.
"Jadi kita tidak perlu takut dengan perubahan. Namun, yang harus kita hadapi adalah bagaimana melakukan pendekatan dan membangun sosial kapital (modal sosial) yang kuat. Olehnya itu, pelajaran anti radikalisme perlu diimplementasikan dalam proses belajar mengajar di satuan pendidikan maupun perguruan tinggi , " ujarnya.
Dia mengaku, hal yang harus diidentifikasi dan diantisipasi adalah penggunaan media sosial untuk menyebarkan ajaran atau konsep radikalisme kekerasan dan terorisme. Di Maluku, kata dia, tidak terlalu rentan dengan isu radikalisme atau terorisme karena sosial kapitalnya cukup kuat.
"Hanya ada orang - orang tertentu yang terpapar oleh radikalisme karena mereka minim ketahanan sosial serta tidak memaknai nilai - nilai sosial yang ada. Mereka juga lebih banyak berinteraksi di media sosial sehingga bertemu dengan narasi - narasi radikalisme,"beber putra asal Desa Ameth, Kabupaten Maluku Tengah itu.
Olehnya itu, dia mengingatkan masyarakat Maluku untuk mencegah generasi mudanya dari bahaya radikalisme. Hal itu dapat dimulai dengan bersikap kritis terhadap informasi, berinteraksi sosial dengan banyak orang, dan tidak menutup diri terhadap perbedaan pemahaman maupun pendapat.
" Yang harus kita lakukan untuk generasi kita adalah tidak membiarkan mereka masuk sebagai kaca mata kuda (melihat sebuah narasi menjadi keberanaran tunggal). Ajari mereka untuk membuka diri, membuka ruang sedalam - dalamnya di media sosial untuk menemukan berbagai macam sumber dan harus mengkaji satu per satu kebenaran - kebenaran yang tersebar di media sosial, " pungkasnya. (AKS)
Dapatkan sekarang