MASOHI, AT. – Kabupaten Maluku Tengah mencatat inflasi terendah di Provinsi Maluku pada Januari 2026, yakni sebesar 3,56 persen (year-on-year/y-on-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,04.
Capaian ini menempatkan Maluku Tengah sebagai daerah dengan tekanan inflasi paling rendah dibandingkan 10 kabupaten/kota lainnya di Maluku.
Meski demikian, angka tersebut lebih tinggi dibanding inflasi Desember 2025 yang tercatat sebesar 2,56 persen (y-on-y).
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, inflasi y-on-y tertinggi pada periode yang sama terjadi di Kota Tual sebesar 7,97 persen dengan IHK 113,29.
Data tersebut berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, yang menunjukkan bahwa inflasi y-on-y tertinggi justru terjadi di Kota Tual sebesar 7,97 persen dengan IHK 113,29.
Plh. Kepala BPS Provinsi Maluku, Jessica Pupella, menjelaskan bahwa secara umum inflasi y-on-y Januari 2026 di Maluku terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang melonjak hingga 13,28 persen.
Selain itu, beberapa kelompok lain juga mengalami kenaikan, antara lain, perawatan pribadi dan jasa lainnya 7,55 persen, makanan, minuman, dan tembakau 6,05 persen, kesehatan 3,89 persen, pendidikan 2,76 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,85 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 1,02 persen, penyediaan makanan dan minuman (restoran) 0,90 persen, transportasi 0,68 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan: 0,31 persen.
Sementara itu, satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi adalah pakaian dan alas kaki, turun 1,09 persen.
Jessica juga menyebutkan bahwa inflasi month-to-month (m-to-m) dan year-to-date (y-to-d) Provinsi Maluku pada Januari 2026 masing-masing tercatat sebesar 0,75 persen.
Sejumlah komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi y-on-y antara lain, tarif listrik, berbagai jenis ikan (layang/momar, cakalang, selar/kawalinya, tongkol/komu, tuna/tatihu), beras dan bawang merah, daging ayam ras, emas perhiasan, sigaret kretek mesin, biaya akademi perguruan tinggi, ikan asap, kopi bubuk, sepeda motor dan mobil, minuman ringan, semangka, dan lemon.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada cabai merah, cabai rawit, tomat, bawang putih, sawi hijau, buncis, kacang panjang, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara dan laut, bensin, sabun mandi, popok bayi sekali pakai, gula pasir, bayam, kangkung, serta sejumlah komoditas hortikultura lainnya.
Jessica Pupella menambahkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi y-on-y terbesar dengan andil 2,17 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,53 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,63 persen.
Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya yang memberikan kontribusi deflasi dengan andil 0,06 persen.
Dengan inflasi hanya 3,56 persen, Maluku Tengah menunjukkan stabilitas harga yang relatif lebih baik dibanding daerah lain di Maluku.
Capaian ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat dan efektivitas pengendalian harga di daerah tersebut, meskipun tekanan inflasi masih terasa pada komoditas pangan dan energi. (Jen).
Dapatkan sekarang