AMBON,AT.--Manuver Jeffry Rawarin Apoly untuk maju sebagai calon Gubernur Maluku 2024 tak tanggung-tanggung. Jeffry bahkan sudah bekerja dari sekarang dengan melakukan sosialisasi dan pemasangan spanduk serta baliho.
Yang dilakukan Mantan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) itu merupakan hal yang wajar. Sebagai pendatang baru di panggung politik Maluku, mantan Pangdam Pattimura ini harus berusaha keras menaikkan polularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas sebagai salah satu syarat untuk mendapatan rekomendasi partai politik, terlebih dukungan masyarakat.
Direktur Lembaga Konsultan Survei Maluku Network, Wahada Mony mengatakan, Jeffry sebagai pendatang baru harus mengejar target elektabilitas. Salah satunya dengan melakukan pengenalan kepada masyarakat menengah ke bawah baik secara tatap muka, maupun lewat baliho dan spanduk.
Aspek pencitraan hingga sisi pengenalan figur butuh nilai jual lebih tinggi di publik bagi seorang calon. Karena ini modal utama untuk meraih simpati masyarakat. Apalagi, lanjut Mony, presepsi publik saat ini bahwa Pilgub Maluku 2024 terjadi pertarungan antar bintang.
"Jeffry di mata elit sudah tidak asing lagi. Tetapi pada wilayah akar rumput di Maluku harus melakukan sosialisasi secara masif dan terstruktur di semua tingkatan. Karena sosok Jeffry masih asing bagi sebagian besar masyarakat di daerah ini," kata Mony kepada Amonterkini.id, Senin (28/2).
Dia menjelaskan, setiap figur termasuk Jeffry harus memiliki dua kekuatan, yakni kekuatan ekonomi atau kapital dan mempunyai kekuasaan agar bisa memengaruhi semua sistem pemerintahan, termasuk para elit di tingkat pusat maupun daerah.
"Kalau perkenalan sudah dilakukan dari sekarang Insya Allah dia (Jeffry Rahawarin) bisa menyaingi petarung lainnya di Pilgub Maluku," jelasnya.
Sementara, Akademisi Universitas Darussalam Ambon, Muhammad Tahir Karapesina menilai, tersebarnya spanduk dan baliho Jeffry di wilayah Pulau Ambon dan sekitarnya adalah hal yang biasa, namun memiliki makna bagi calon lain.
Kata dia, secara politik ketika gambar figur calon kepala daerah muncul berarti ada sesuatu, dan ini bagian dari riak politik. Tahir pun membeberkan kelemahan Jeffry yang bukan seorang kader partai, sehingga harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan partai lewat rekomendasi.
"Ketika baliho Jeffry di terpasang di di wilayah Pulau Ambon dan Maluku, maka secara politik itu sah-sah saja. Tapi belum tentu itu pemenang. Karena setiap yang mau calon harus perkenalkan diri kepada masyarakat. Apalagi Jeffry orang baru dalam konstestasi Pilkada Maluku. Saya juga lihat Balihonya ada daerah Liang," jelasnya. (whb)
Dapatkan sekarang