Kompetensi Wartawan Terus Diasah
Mochtar Touwe, Anggota PWI Maluku dan Yani Kubangun, Direktur Ameks. Id.
FaizalLestaluhu
29 Jul 2023 16:13 WIT

Kompetensi Wartawan Terus Diasah

AMBON,AT—Wartawan atau jurnalis harus terus belajar. Dengan begitu kompetensinya sebagai pembuat dan pengabar informasi juga kian meningkat.

Anggota PWI Maluku, Mochtar Touwe, mengatakan, peningkatan kualitas dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya lewat kegiatan workshop seperti yang diselenggarakan Ameks Institute bersama Pemerintah Kota Ambon melalui DinasKominfo dan Persandian Kota Ambon, di Manise Hotel, Senin (24/7).

Menurut Mochtar, kegiatan seperti itu penting bagi jurnalis. Sebab, jurnalis dan media massa yang terus bertambah belum tentu dibarengi dengan kualitas yang memadai.

"Seorang wartawan memiliki profesi harus berkompeten. Karena itu wartawan harus mengikuti pelatihan sehingga memiliki keahlian. Kompetensi wartawan didapat melalui pelatihan singkat, pendidikan singkat atau formal,"kata dia.

Dia mengingatkan, jika wartawan memiliki moral, etika dan kompetensi sedarurat apapun tidak akan memilih menjadi wartawan yang menerima imbalan dalam bentuk apapun. Sebaliknya, profesionalisme wartawan akan terlihat saat menolak pemberian imbalan dari narasumber.

“Kebanggan wartawan justru pada penolakannya. Ketika menolak, integritas dan citra wartawan akan terangkat dan kembali bermartabat. Olehnya itu, wartawan perlu diyakinkan, kalau mereka memiliki kemampuan profesional yang diikuti dengan etika, maka mereka memiliki kedudukan yang bermartabat, “ tandasnya.

Sementara itu, Muhammad Yani Kubangun, Direktur Ameks.id, menjelaskan, dalam melaksanakan tugas, seorang jurnalis harus menguasai beberapa prinsip dasar jurnalistik seperti keobjektifan, kredibilitas, dan etika. Selain itu, dua aspek penting yang perlu dikuasai adalah teknik wawancara dan penulisan berita. 

Teknik wawancara membantu jurnalis dalam memperoleh informasi dari narasumber. Sedangkan penulisan berita memungkinkan jurnalis untuk menyusun cerita yang informatif dan menarik bagi pembaca. 

“Persiapan sebelum melakukan teknik wawancara antara lain, riset narasumber dan topik wawancara dengan baik untuk memahami konteks dan pertanyaan yang relevan dan siapkan daftar pertanyaan, namun tetap fleksibel untuk mengikuti alur wawancara, “ jelas Yani. 

Menurut Yani, untuk membangun hubungan dengan narasumber, maka seorang jurnalis harus menyapa narasumber dengan ramah dan beri pengenalan singkat tentang diri dan tujuan wawancara.

“Dengarkan dengan cermat dan tunjukkan minat pada apa yang disampaikan narasumber, “ pesan Yani dalam pemaparan materinya. 

Dikatakan, wartawan harus menyiapkan pertanyaan yang efektif. Dalam proses wawancara, jurnalis menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendorong narasumber memberikan jawaban yang lebih rinci dan mendalam.

Karena itu, lanjut dia, jurnalis atau wartawan harus menghindari pertanyaan yang mengandung asumsi atau mengarahkan narasumber ke jawaban tertentu. 

“Jangan menginterupsi narasumber saat berbicara dan beri kesempatan untuk menyelesaikan pikirannya. Catat poin-poin penting selama wawancara untuk memastikan informasi akurat,“ pesannya. 

Selain itu, untuk membangun kepercayaan, jurnalis harus menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan oleh narasumber serta hindari menilai atau mengkritik narasumber dan tetaplah netral. Sementara untuk mengakhiri wawancara, kata dia, jurnalis harus menanyakan apakah narasumber memiliki informasi tambahan yang ingin mereka sampaikan.

“Ucapkan terima kasih atas waktu dan informasi yang diberikan oleh narasumber, “ ujarnya. 

Dia juga menambahkan, jurnalis harus menggunakan bahsa yang sederhana untuk menghindari penggunaan kata-kata atau frasa yang rumit atau ambigu. 

“Bahasa jurnalistik harus pendek dan padat. Usahakan untuk menghindari kalimat yang terlalu panjang dan mengandung informasi utama yang ingin disampaikan, “ pungkasnya. (AKS)

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai