Kasus Kusta di Ambon Terus Meningkat
Admin
05 Dec 2023 11:31 WIT

Kasus Kusta di Ambon Terus Meningkat

Bukan Penyakit Keturunan, Dapat Disembuhkan

AMBON, AT--Penderita kusta di Kota Ambon terus bertambah dalam tiga tahun terakhir. Pemerintah Kota Ambon dan elemen masyarakat sipil serta keluarga diminta berperan menanggulangi dan mencegah penyakit tersebut.

Meningkatnya jumlah kasus atau penderita kusta di Ambon terangkum dari hasil observasi, pemeriksaan, wawancara dan survei yang dilakukan Tim Identifikasi Tanda-Tanda Mata, Ekstremitas Kulit pada Penderita Kusta (KATAMATAKU) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) pada pasien kusta di daerah endemis Kota Ambon, Mei 2023 lalu. Riset ini bertujuan untuk memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah guna memperkuat eliminasi kusta di Kota Ambon.

Berdasarkan data tersebut yang diperoleh Ambon Ekspres dalam format PDF, menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus baru kusta tertinggi di Asia. Terdapat enam provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta di Indonesia, salah satunya adalah Maluku, dengan prevalensi 2,12 per 10.000 penduduk, dan terdapat 388 jumlah kasus kusta yang terdaftar di tahun 2020. 

Dari 11 kabupaten/kota yang terdapat di Maluku, hanya satu kabupaten yang berhasil mencapai eliminasi kusta, dan Ambon termasuk kota yang belum eliminasi. Kecamatan Nusaniwe merupakan wilayah dengan jumlah kasus kusta tertinggi, bahkan tergolong jumlah kasus yang statis sejak tahun 2019. 

Jumlah penderita kusta di Ambon setiap tahunnya masih cenderung naik, termasuk pada kelompok anak usia di bawah 15 tahun. Jumlah penderita sejak tahun 2021 hingga 2023 berturut-turut  sebanyak 80, 72 dan 95 orang.

Program Manajer INKLUSI Yayasan Rumah Generasi, Jemmy Talakua mengatakan, data yang diperoleh  KATAMATAKU UI tersebut tentu memprihatinkan.

"Padahal penyakit ini obatnya sudah ada, dan bisa disembuhkan. Kemampuan menularnya juga sangat sedikit, karena masih inkubasinya cukup lama, lima tahun. Penderita yang telah minum obat, maka dia tidak lagi menular,"kata Jemmy pada suatu kesempatan pertemuan Yayasan Rumah Generasi dan Yayasan BaKTI bersama wartawan di Kota Ambon, pertengahan November 2023 lalu.

Jemmy mengaku, Rumah Generasi tidak terjun langsung pada isu kusta. Namun, karena isu disabilitas lewat progran INKLUSI, juga berkaitan erat dengan kusta sehingga pihaknya bersama Dinas Kesehatan Kota Ambon juga melakukan pemetaan dan skrining, karena jika kusta tidak diobati maka bisa menyebabkan cacat atau difabel.

Olehnya itu, lanjut Jimmy, pihaknya juga membantu KATAMATAKU UI melakukan penelitian kusta di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, dan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

"KATAMATAKU dari Universitas Indonesia (UI) yang fokus pada isu kusta, telah memasukan policy brief kepada Penjabat Walikota Ambon. Dokumen itu berisi apa latar belakang mereka harus melakukan survei dan riset terkait Kusta di Kota Ambon. Kalau didiamkan justru angkanya naik,"ungkapnya.

Mengutip hasil penelitian UI, lanjut Jemmy, di Latuhalat termasuk resistensinya tinggi terhadap kusta. Pihaknya akan melakukan skrining di beberapa lokasi lainnya karena potensi kusta cukup tinggi, termasuk bagi anak-anak muda.

"Perlu upaya serius dari pemerintah daerah untuk menangani kusta. Sebab tak hanya permasalahan medik atau penyakitnya saja, tapi juga soal  perlakuan stigma negatif dan diskriminasi terhadap penderita yang masih cukup tinggi,"pungkasnya.

*Bukan Penyakit Keturunan*

Selain jumlah kasus atau penderita, Policy Brief (Ringkasan Kebijakan) KATAMTAKU UI berjudul "Strategi Penanganan Penyakit Kusta di Kota Ambon", itu juga menyinggung berbagai permasalahan diperoleh saat penelitian.

Penyakit kusta yang terlambat/tidak diobati, akan mengalami disabilitas atau  kecacatan tubuh permanen pada organ tangan, kaki dan mata. Disabilitas akan memperkuat stigmatisasi, bahkan diskriminasi pasien kusta, keluarga, serta lingkungannya.

Kondisi ini cenderung menghambat upaya eliminasi. Dengan kata lain, eliminasi kusta berhadapan dengan isu sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik.

Pada survei terhadap 50 penderita kusta di Kota Ambon didapatkan 42% pasien mengalami stigma (experienced stigma), artinya pasien mengaku mengalami atau mendapat perbedaan perlakuan karena menderita kusta, sehingga mereka menutup diri. 

Sikap tertutup para pasien lebih didasarkan pada upaya mereka untuk menghindar atau lebih tepatnya mengantisipasi risiko yang mereka hadapi, jika orang lain mengetahui akan kondisi sakitnya. Umumnya, penderita kusta cenderung merasa malu, rendah diri, mengalami tekanan batin atas penyakit yang dideritanya.

Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat bahwa kusta merupakan
penyakit kutukan Tuhan, penyakit keturunan, dan lainnya. Kondisi psikologis inilah yang seringkali melatari penderita kusta menutup 
diri, bahkan enggan berobat. 

Meski di sisi lain, para penderita kusta juga merasa takut akan terjadinya 
kecacatan atau disabilitas. Sikap apatis, menarik diri, disertai rendahnya kesadaran diri untuk berobat sejak dini, tentu akan berisiko pada kecacatan atau disabilitas.

Temuan menarik dari survei stigma adalah bahwa 74% responden merupakan satu-satunya anggota keluarga yang menderita kusta. Kondisi ini membuktikan bahwa anggapan masyarakat tentang penyakit kusta merupakan penyakit turunan adalah hal yang salah. 

"Selain itu, sumber penularan tidak hanya dari keluarga saja, tetapi dapat berasal dari lingkungan lain seperti tetangga, sekolah, tempat kerja dan sebagainya. Pada dasarnya kontak erat dengan penderita kusta yang belum diobati dalam jangka waktu lama memungkinkan terjadinya penularan,"demikian kesimpulan laporan tersebut. (tab)

 

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai