AMBON,AT--Pemilihan Gubernur (Pilgub) Maluku 2024 diprediksi bakal berlangsung sengit. Salah satu indikatornya ialah kemungkinan terjadinya "perang jenderal".
Meski Pilkada baru akan digelar pada September tahun depan, namun sejumlah nama telah muncul. Bahkan mendeklarasikan diri siap bertarung di perhelatan pesta demokrasi lokal tersebut.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, sejak Juni hingga Juli 2023 telah melakukan survei opini publik terkait Pilgub Maluku 2024. Lembaga survei terkemuka itu memotret 18 nama figur sekaligus.
Dari belasan nama tersebut, ada dua figur yang baru pertama kali tampil di pentas politik lokal Maluku. Keduanya adalah Febri Calvin Tetelepa (FCT), Deputi I Kepala Staf Kepresidenan 2019-2024 Bidang Infrastruktur, Energi dan Investasi, dan Jeffry Apoly Rahawarin (JAR), Deputi Bidang Pengelolaan Infrastruktur Kawasan Perbatasan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).
Simpul FCT telah terbentuk, dan mulai bekerja. Selain lewat baliho dan spanduk, ia juga gencar disosialisasikan di media sosial oleh timnya.
Selain Febry, ada pula nama Jeffry Apoly Rahawarin atau disingkat JAR. Jeffry merupakan seorang purnawirawan TNI-AD, yang menjabat sebagai Deputi Bidang Pengelolaan Infrastruktur Kawasan Perbatasan BNPP sejak 8 Juni 2022 hingga sekarang.
Spanduk dan baliho Jeffry juga telah ada di seluruh kabupaten/kota di Maluku. Pensiunan TNI berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga) itu bahkan telah mendeklarasikan diri secara resmi untuk ikut bertarung di Pilgub Maluku.
Figur terbaru yang dalam beberapa waktu terakhir digadang-gadang juga ikut sebagai penantang petahana Murad Ismail di Pilgub Maluku adalah, Komandan Lantamal IX Ambon Brigadir Jenderal TNI Said Latuconsina. Said telah mengelilingi hampir seluruh kabupaten/kota di Maluku dalam kunjungan kedinasan.
Spanduk dan baliho Said juga tersebar di mana-mana. Hal ini semakin membuktikan rencananya maju di Pilgub Maluku, sebagaimana diakui beberapa orang dekatnya kepada Ambon Ekspres.
Rencana majunya Said Latuconsina, membuka peluang "perang jenderal" pada Pilgub Maluku kali ini. Jika memperoleh dukungan partai politik, maka tiga jenderal, yakni Murad Ismail, Jeffry Apoly Rahawarin, dan Said Latuconsina akan bertarung merebut kursi "Maluku 1".
Terkait hal itu, Pemgamat Politik asal Universitas Pattimura Ambon, Said Lestaluhu menilai, Pilgub Maluku 2024 memiliki keistimewaan tersendiri. Pasalnya, selain dengan latar belakang militer, para figur yang mengemuka saat ini juga merupakan putra asli Maluku yang berkarier di pusat.
Pertama, sebut Said, adalah mantan Komandan Brimob Polri, Murad Ismail (MI) dalam posisi sebagai petahana. Kedua, Jefrry Rahawarin yang juga mantan pejabat tinggi di TNI dan sekarang menduduki jabatan strategis di pusat
“Lalu ada pak FCT, yang merupakan seorang Deputi I Kepala Staf Kepresidenan RI. Kemudian Komandan Lantamal IX Ambon Brigadir Jenderal TNI Said Latuconsina. Komposisi inilah sehingga dapat saya katakan, Pilgub Maluku sangat seksi di mata orang pusat,”kata Said, melalui telepon seluler, Senin (30/10) kemarin.
Dalam bursa Pilgub, kata Said, wajar jika nama JAR dan MI masuk, sebab Jeffry telah pensiun dan Murad merupakan petahana.
“Tapi Said ini kan belum. Beliau masih aktif sebagai salah satu pejabat di TNI AL, berarti harus lakukan pengunduran diri atau pensiun. Dan saya lihat sejauh ini kan belum ada masalah. Kalau hanya sebatas sosialisasi berarti tidak masalah, sepanjang itu tidak membawa nama isntitusi TNI,”paparnya.
Untuk maju sebagai calon kepala daerah merupakan hak semua orang selaku warga negara. Asalkan, lanjut Said, harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang.
“Kalau kita lihat fenomena ini kan, yang pertama kita lihat mereka peduli dengan pembangunan di Maluku,”jelasya.
Tapi yang lebih penting adalah, kata dosen ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu, proses -proses politik ini dilakukan tidak dengan cara-cara seperti menggunakan kekuasaan mereka ketika masih menjabat sebagai pejabat di pusat baik TNI Polri, maupun pemerintahan untuk kepentingan politik masing-masing.
Di sisi lain, muncul para figur 'nasional' ini, lanjut Said, juga menandakan partai politik di daerah kurang maksimal dalam proses kaderisasi.
“Akhirnya membuat orang-orang pusat melihat peluang, yang seolah-olah potensi ini membuat mereka harus turun gunung untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Maluku,”jelasnya.
Tidak sampai situ, Said menjelaskan, ada fenomena juga dimana orang-orang pusat selalu melihat bahwa ketika tidak lagi mendapat jabatan di pemerintah pusat ketika perubahan rezim, maka dengan kedudukan
sekarang mereka berupaya untuk mendapatkan posisi-posisi strategis di daerah melalui mekanisme rekrutmen politik.
“Jadi saya lihat mulai ada regenerasi kepemimpinan paska level Richard Louhenapessy, Zeth Sahuburua, Bito Temmar, dan bebberapa lainnya itu, kita lihat kader-kader yang sekarang itu belum siap untuk melanjutkan kepemimpinan lokal di Maluku,”tandasnya.(M1)
Dapatkan sekarang