AMBON,AT-Pembinaan mental spiritual di era global, adalah untuk membentuk individu yang memiliki kepribadian terpuji, bertanggung jawab, dan berkarakter mulia.
Pembinaan mental spiritual juga mampu membuat seseorang menghadapi tantangan kehidupan modern dengan ketenangan jiwa, kebijaksanaan, dan rasa kasih sayang.
Hal ini dilakukan melalui pengembangan kecerdasan spiritual dan emosional, yang mendorong individu untuk berbuat baik, berintegritas, dan menjunjung nilai-nilai luhur.
Hal ini lah yang saat ini sedang di lakukan salah satu perguruan tinggi ternama di Maluku yakni Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, dalam dua tahun terakhir.
Rektor Prof.Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, memiliki visi untuk Universitas Pattimura menuju world class university. Salah satu cara mendukung visi itu adalah dengan menggelar kegiatan Pembinaan Mental Spiritual Mahasiswa.
Wakil Rektor IIIUniversitas Pattimura Dr. Nur Aida Kubangun, S.Pd., M.Pd, kepada Ambon Ekspres mengaku, sangat bermanfaat bagi mahasiswa membantu individu mencapai ketenangan, kedamaian jiwa dan kebersihan batin dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurutnya, dalam setiap kegiatan yang dilakukan pihaknya selalu menghadirkan para tokoh-tokoh agama sebagai pembicaranya untuk memberikan kekuatan spiritual terhadap para mahasiswa.
“Sehingga memang kalau dilihat kondisi sekarang ini kan pengaruh handphone, pengaruh global ini sangat kuat. Nah, kekuatan iman untuk anak-anak itu sangat perlu,”jelasnya.
“Sehingga itu memang dibuat sebagai satu pendekatan agama, tujuannya untuk lebih membekali mahasiswa itu kepada Tuhan di era global seperti sekarang,”ujarnya.
Kegiatan pembinaan mental spiritual mahasiswa sangat penting, untuk mencegah adanya tindakan kriminal, pergaulan bebas yang menyebabkan pakai narkoba, seks bebas hingga hal negatif lainnya.
“Apalagi mahasiswa ini banyak dari kampung-kampung nih.Ketika datang, jangan sampai ada ego kultur begitu. Dan tujuannya sebenarnya untuk membekali anak-anak itu sendiri di sisi keagamaan juga mental,”jelasnya.
Prinsipnya, harapan kegiatan tersebut adalah untuk bisa membuat mahasiswa dalam pergaulannya bisa terkendali. “Kita berupaya mencegah mereka dari jalan yang salah,”katanya.
Para pembicara yang didatangkan, lanjut dia, adalah ustad, pastur, pendeta, para biksu yang ada di agama Hindu dari kantor agama. “Tetapi kita juga datangkan tokoh-tokoh psikolog, penyair Injil dan para DAI agar mahasiswa juga tidak jenuh,”tandasnya.
Lebih jelas, dia menegaskan, harapan dari kegiatan itu agar mahasiswa bisa memperbaiki dan memperbaharui tindakan serta tingkah laku, melalui bimbingan mental secara kontinyu agar memiliki kepribadian yang terpuji dan bertanggung jawab.
Kemudian dapat Membentuk akhlak mulia melalui bimbingan spiritual agar mahasiswa dapat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu bisa membangun integritas diri yang kuat dan penuh tanggung jawab dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Itu juga dapat membantu mahasiswa menemukan makna hidup, tujuan, dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan.
Pembinaan mental spiritual pun dapat meningkatkan rasa empati, toleransi, kesetiakawanan, dan kasih sayang antar sesama mahasiswa dan masyarakat.
Kemudian meningkatkan Tanggung Jawab Sosial, Menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat luas.(ZAP)
Dapatkan sekarang