Idrus Wakano, Kemenangan Politik yang Indah
Idrus Wakano
Admin
25 Sep 2024 22:22 WIT

Idrus Wakano, Kemenangan Politik yang Indah

Oleh : Ardiman Kelihu
(Alumni Magister Politik & Pemerintahan, FISIPOL UGM)

“Selamat datang, pahlawan muda, lama nian kami rindukan dikau, bertahun-tahun bercerai mata, kini kita dapat berjumpa pula…”. Barangkali potongan lirik lagu karya Ismail Marzuki ini adalah ungkapan tepat untuk menyambut kemenangan Idrus Wakano sebagai anggota legislatif di Kabupaten Seram Bagian Timur. Kemenangannya tidak mudah. Ia tidak memenangkan Pemilu dengan sekali jadi, tetapi melalui jalan yang mendaki. Tapi, bukankah di dalam pertempuran apapun termasuk politik, semakin sulit perlawanan, maka semakin manis juga kemenangan?. 

Saat pertama kali terjun ke dunia politik, Idrus baru berusia 25 tahun, dan masih berstatus mahasiswa. Ia adalah anak kampung dari latar belakang keluarga sederhana, dengan jaringan aktivisme kampus yang hanya terkonsentrasi di Kota Ambon dan bukan termasuk daerah pemilihannya.

Rekam jejak ini meskipun populer, tapi relatif kurang  menjanjikan secara elektoral. Keterbatasan tersebut juga diperparah oleh biaya elektoral yang mahal, kebutuhan membangun jejaring dan manuver politik yang lebih luas, hanyalah sedikit dari banyak modal politik yang wajib dimiliki politisi. Namun, Idrus tampaknya merombak pakem-pakem politik ini dengan bersiasat ditengah keterbatasan. Memotret kemenangan politik Idrus Wakano, seperti mengurut satu persatu jatuh-bangunnya di dunia politik.

Dari Bangku Kuliah

Idrus pertamakali mencalonkan diri di Pemilu 2014 saat masih berstatus mahasiswa. Sayangnya tidak terpilih. Pencalonan keduanya di Pemilu 2019 juga bernasib sama. Pada kali ketiga di Pemilu 2024, ia baru mendulang kemenangan. 

Proses politiknya yang jatuh-bangun itu, tidak membuat siasat politiknya mundur. Tetapi sebaliknya mendorongnya berkali-kali lipat untuk maju. Langkah-langkah politiknya ini serupa lepasan anak panah : agar bisa melesat jauh ke depan, ia harus ditarik mundur ke belakang barang sebentar. 

Semasa mahasiswa Idrus tumbuh dan berproses di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia pernah didapuk memimpin HMI Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Pattimura. Saat mahasiswa, jejak aktivismenya begitu kuat. Bagi mereka yang terlibat dalam gerakan kemahasiswaaan di masa itu, pasti tahu atau setidaknya pernah mendengar namanya.

Jejak-jejak aktivisme Idrus bisa dikenali dari ruang kelas, organisasi mahasiswa, jalanan sebelumnya akhirnya ke panggung politik. Siapa yang tak tahu, bahwa konsolidasi gerakan mahasiswa dan demonstrasi terjadi berkali-kali di Kota Ambon di saat-saat itu dan sesudahnya hampir tak bisa dilepaskan dari keterlibatannya. Nama Idrus Wakano dikenal di kalangan aktivis mahaiswa. Kelak, jejak-jejak itulah yang barangkali membentuknya sebagai politisi yang ujug-ujug lahir, tetapi ditempat melalui proses panjang aktivisme. 

Berlabuh ke Dunia Politik

Pada tahun 2014 Idrus memutuskan masuk ke dunia politik. Ia pertamakali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Kabupaten Seram Bagian Timur. Keputusannya masuk ke dunia politik tentu tidak mudah. 

Pertama, soal kesan yang bakal ditanggungnya sendiri karena dianggap bertolak belakang dengan kerja-kerja aktivisme kampus yang selama ini digelutinya. Hal ini karena dunia aktivisme yang ama digelutinya sering dikontraskan secara hitam putih dengan politik. 

Berpolitik dianggap kotor dan aktivisme dianggap bersih. Dikotomi ini juga sangat menonjol di dunia aktivisme di Maluku—meskipun secara diam-diam, jarak antara kekuasaan dan aktivisme tersebut juga seringkali kabur karena dicampur-baurkan oleh politisi dan aktivis sendiri. 

Kehadiran Idrus ke dunia politik seolah meretas batas-batas aktivisme dan politik. Baginya aktivisme dan politik tidak mesti diposisikan secara konfliktual. Jurang yang dalam antara aktivisme dan politik harus dijembatani. Bila diperiksa lagi, dikotomi ini sebenarnya bukan hal yang baru, tetapi juga terjadi sejak lama di dunia keilmuan. Dimana posisi intelektual dan kekuasaan sering dikontraskan secara diametral, seolah keduanya tak bisa didamaikan.

Dikotomi ini akhirnya terjembatani melalui preposisi klasik Francis Bacon dalam Meditationes Sacrae (1597) bahwa ipsa scientia potestas est,  pengetahuan adalah kekuasaan. 
Kembali ke politik, ditengah jurang yang dalam antara kekuasaan politik dan aktivisme, Idrus mengambil langkah untuk menghubungkan aktivisime dan politik. Baik dalam kerja-kerja social-aktivisme, maupun politik. 

Meretas batas-batas aktivisme dan kekuasaan politik ini setidaknya menyadarkan kita bahwa, dalam pengertian yang jauh lebih luas adalah kerja-kerja yang politis. Selain itu, praktis kerja-kerja aktivisme tidak hanya diperjuangkan dari luar, tetapi juga harus dipastikan dari dalam. 
Kedua,  sebagai politisi muda, Idrus memiliki infrastruktur politik yang relative terbatas. 

Jaringan politiknya belum terbentuk dengan sempurna. Ia masih bertumpu pada jaringan aktivisme. Memosisikan diri sebagai politisi dengan infrastruktur politik adalah persoalan krusial di tengah  pragmatismenya dunia elektoral terkini. Namun Ini adalah pakem politik kesekian yang coba dirombak lagi oleh Idrus. 

Suatu waktu di Pemilu 2014, dengan modal politik terbatas, Idrus melakukan melakukan kampanye ke kampung-kampung. Sejumlah siasat politik juga digalakkan. Ia berhasil menarik simpati masyarakat. 

Di beberapa kampung, masyarakat membantu kerja-kerja politiknya secara sukarela. Mereka  memberi makanan, minum dan tumpangan secara cuma-cuma ketika berkampanye. 

Idrus berhasil membawa konsolidasi politik bukan sebagai miliknya saja, tetapi sebagai kerja kolektif.Ia juga memosisikan warga sebagai subjek politik aktif yang melakukan sendiri mobilisasi politik di Pemilu.Kerja-kerja biasa dari masyarakat desa ini mencerminkan  kuatnya simpati politik dan kesediaan mereka untuk berdiri bersama Idrus.  

Kepiawaian Merawat Basis

Idrus adalah politisi yang pandai merawat basis politik.Ini adalah salah satu modal politik penting yang tidak dimiliki banyak politisi muda di Maluku.Sejak mencalonkan diri di pertama kali Pemilu 2014, basis politiknya selalu bertambah. Meskipun dua kali kalah, perolehan suaranya di setiap Pemilu selalu meningkat. Saat mencalonkan diri di Pemilu 2014, Idrus hanyamemperoleh 512 suara.

Namun Ketika mencalonkan diri di Pemilu 2019, perolehan suaranya justru meningkat drastis menjadi 707.Pada Pemilu ini, ia menjadi pemenang kedua di daerah pemilihannya—Kecamatan Tobo, Batuasa dan Bemo. Hanya saja, dengan jumlah tersebut, secara akumulatif tidak lolos. 

Langkah politiknya untuk mencalonkan diri di Pemilu 2024 semakin tidak mudah. Sebagai politisi yang kalah secara beruntun sejak Pemilu 2014, Idrus hampir tak dihitung di Pemilu 2024.Pemilu 2024 adalah pertaruhan : apakah ia masih bisa meyakinkan publik lagi bahwa ia bisa menang?.

Dengan pengalaman gagal di dua Pemilu sebelumnya, ceruk pemilihnya punya kemungkinkan besar untuk berubah Haluan.  Namun, berkebalikan dengan segala asumsi itu, Idrus justru melenggang sempurna ke parlemen dengan 726 suara. Dari segi elektoral, ini bukan hanya kemenangan, tetapi juga menunjukan kepiawaiannya dalam merawat ceruk dukungan.

Bagi politisi yang telah gagal berulang kali, sulit untuk kembali memenangkan Pemilu.Tapi tampaknya hipotes itu tidak berlaku bagi Idrus. Kemampuan merawat basis masa dalam kondisi tak berkuasa dan daya tahan untuk melalui kegagalan adalah dua modal politik mahal yang jarang dimiliki politisi manapun di Maluku. Tapi tidak dengan Idrus!.

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai