IAIN Ambon Gelar Diskusi Publik Nasional, Refleksikan 26 Bina Damai di Maluku
Diskusi publik nasional refleksi 26 tahun bina damai di Maluku, digelar di lantai 2 aula rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Jumat (17/1/2025).

ISTIMEWA
Admin
20 Jan 2025 10:19 WIT

IAIN Ambon Gelar Diskusi Publik Nasional, Refleksikan 26 Bina Damai di Maluku

AMBON, AT.-Maluku telah pulih dari konflik kemanusiaan yang terjadi 26 tahun silam. Meski begitu, kerja-kerja bina damai perlu terus direfleksikan dan diperbaharui agar bisa menjadi perisai bagi ketahanan sosial masyarakat Malulu yang terdiri dari berbagai latar belatar.

Untuk itu, Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon melaksanakan diskusi publik dengan tema Refleksi 26 Tahun Bina Damai Maluku, Jumat (17/1/2025)  di lantai 2 aula Rektorat IAIN Ambon.

Ketua Panitia Diskusi Nasional ini, Dr. Asrul Pattimahu, M.Ag mengatakan, setelah lebih dari dua dekade, Maluku telah melalui berbagai pergulatan sosial-keagamaan yang panjang dan juga penuh ikhtiar untuk biking bae Maluku. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang mudah.

Dalam lintasan waktu ini terdapat berbagai kemunculan kondisi sosial yang memberikan tantangan dalam upaya ini. Misalnya, beberapa hari yang lalu, Ambon kembali dikagetkan dengan bentrokan antarpemuda yang mengganggu upaya dan rasa damai.

"Namun, peristiwa ini juga memperlihatkan satu hal positif, komitmen masyarakat kota Ambon akan perdamaian dan keharmonisan sosial tidak goyah,"kata Asrul dalam laporannya.

Asrul menambahkan, secara sosiologis, fenomena konflik sosial-keagamaan direspon dengan beragam perspektif. Ada ilmuan yang melihat konflik sebagai sesuatu yang alamiah dan penting untuk ada dan ada juga yang berpandangan bahwa hal tersebut disebabkan adanya kebuntuan atau kekakuan struktur yang ada di masyarakat.

Selain itu, ada juga mencoba melihanya melalui pendekatan ekonomi-politik yang ditengarai adanya kepentingan ekonomi-politik di balik berbagai letupan konflik. Apa pun itu pandangannya, untuk konteks Maluku, satu hal yang sangat dominan muncul dalam pola laku orang Maluku saat ini, mereka ingin "biking bae Maluku".

Namun, secara historis, kita juga tidak bisa mengabaikan fakta sejarah Maluku sebagai ruang utama praktik kolonialisme di Indonesia yang telah berlangsung sejak abad ke-16. Fakta sosio-historis segregasi sosial dalam praktik harian masih terus berlangsung dan direproduksi, baik disengaja maupun tidak, secara sadar maupun tidak sadar oleh kita dan juga generasi muda saat ini dalam berbagai ruang sosial.

Olehnya itu, kita mesti terus membuat ‘panas damai’ secara terus-menerus untuk merefleksikan, mengevaluasi, dan memahami berbagai perkembangan sosial-keagamaan saat ini di kota Ambon, dan Maluku secara umum.

Hal ini penting untuk memasikmalkan ikhtiar kita secara Bersama untuk merawat komitmen sosial akan perdamaian di hari ini dan besok.  Olehnya itu, IAIN Ambon menggelar diskusi ini. "Untuk itu, IAIN Ambon, berniat untuk membuat diskusi publik dengan topik “26 Tahun Refleksi Bina Damai di Maluku”,"pungkasnya.

Rektor IAIN Ambon, Dr. Abidin Wakano, M. Ag, dalam sambutan pembukaan menekankan pentingnya peran dan kontribusi kampus dalam perdamaian di Maluku. Kampus tidak boleh jauh dari masyarakat, justru hadir untuk melihat langsung dan mencari beragam persoalan sosial yang ada.

"Karena itu, Pak Menteri Agama  menitipkan IAIN harus menjadi kekuatan perekat sosial, salah satunya itu adalah keberagaman. IAIN harus terus berkontribusi bagi kedamaian yang di bumi Maluku,"ungkap Abidin.

Abidin lantas menyentil konflik 19 Januari 1999, yang merupakan salah satu konflik sipil terbesar abad ini yang memakan korban terbanyak. Baik korban jiwa, material maupun eksodus  ribuan orang dari Ambon ke wilayah lain.

Konflik juga memperak-porandakan perekonomian Maluku kala itu. Bahkan pendapatan daerah ini minus 25 persen.

Salah satu dampak terbesarnya konflik adalah segregasi besar-besaran di Ambon. Namun, dibalik itu, kerja-kerja perdamaian digalakkan sehingga Maluku lebih cepat pulih daripada prediksi beberapa pihak.

"Banyak orang memprediksi Maluklu butuh setengah abad untuk pulih, tapi ternyata Maluku bisa bangkit sejak tahun 2005 sampa saat ini. Bahkan tahun 2018, indeks kerukunan Maluku menjadi yang terbaik di Indonesia menurut Setara Institut dan Kementerian Agama,"bebernya.

Salah satu tokoh "provokator damai" ink berharap, cerita-cerita buruk konflik tidak diwariskan kepada generasi muda. Sebaliknya, cerita-cerita perdamain yang harus terus disebarkan.

Menurut Abidin, tantangan dan musuh bersama adalah narkoba, ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan keterbelakangan serta berbagai persoalan lainnya.

"Ini adalah tantangan semua agama. Mari kita semua bergandengan tangan untuk membangun common good  (kebaikan bersama) dengan menjadikan persoalan-persoalan tersebut menjadi common enemy (musuh bersama),"pungkasnya.

*Revitalisasi Model Kekerabatan Sosial*

Ketum Umum Perseketuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt
Jacky Manuputty melalui tayangan video mengatakan, ada banyak kisah pahit yang direkam oleh lagu dan pantun di Maluku, yang tidak diiniasi oleh agama tapi diiniisasi oleh kekerabatn sosial yang datang dari kearifkan lokal masyarakat Maluku.

Dengan kata lain, kebudayaan lokal menjadi penyangga dan pengaman sosial bagi perjumpaan agama-agama yang masuk kemudian, misalnya Pela dan Gandong merupakan kekerabatan sosial yang melampuai perbedaan agama.

Dengan demikian, kata provokator damai ini, ikatan sosial kedaerahan berdasarkan konstruksi kearifan lokal telah mengakar kuat sejak masa lalu, sekaligus menjadi zona penyangga dan pengaman bagi ketegangan-ketegangan yang muncul di wilayah agama.

Masih ada kebudayaan-kebudayaan lainnya yang saling terintegrasi dan mengkonstruksikan sistem kemasyarakatan Maluku secara utuh. Ada sistem pemerintahan adat, budaya, gotong-royong, kepemilikan tanah adat, dan model berkesenian dan lainnya.

Dikatakan, upaya-upaya penghentian konflik dan pembangunan perdamaian di Maluku melibatkan berbagai pihak, baik lokal, nasional maupun internasional. Beragam strategi dikelola oleh berbagai pihak dalam bentuk intervensi kemanusiaan, hukum maupun kebudayaan.

Pada aspek kebudayaan, kami temukan bahwa sekalipun konflik merobek-robek relasi sosial, namun tidak menghancurkannya sama sekali.  Ikatan-ikatan Pela Ganong di antaranya, masih tetap terjaga sekalipun dilakukan melalui perjumpaan-perjumpaan yang tersembunyi.

"Ini merupakan modal sosial yang kemudian kami dengan cara membawanya keluar secara bertahap, dan memanfaatkannya sebagai instrumen perbaikan sosial. Awalnya, ada banyak penolakan tapi syukur masyarakat semua kubu yang bertikai tiba pada kesadaran bahwa konflik ini menghancurkan mereka secara bersama,"tuturnya.

Pdt Jacky melanjutkan, rekaman bersama mengenai elemen-elemen budaya dan kearifan lokal yang telah membentuk lapisan mental bersama tidak hancur akibat konflik, dan kini mulai dimanfaatkan kembali. Hal ini menyumbangkan energi positif yang sangat besar dalam kerja-kerja perdamaian pasca-konflik di Maluku.

Ada semacam rasa bersalah yang harus ditebus bersama oleh masyarakat Maluku. Hubungan Pela Gandong dan berbagai bentuk kekerabatan lainnya dihidupkan lagi dengan energ yang jauh lebih besar dari situasi sebelum konflik.

Model-model pela yang dulu mengikat dua negeri, kini dikembangkan ke tingkat relasi antarsekolah dan kampus dari dua wilayah yang tersegregasi. Kerja-kerja kebudayaan semakin marak dan sedapat mungkin dikerjakan bersama sebagai kerja lintas agama di Maluku. Musik di antaranya.

"Sebelum konflik, kita mengenal musik dan tarian yang sering ditampilkan berdasarkan tradisi Islam dan Kristen, pascakonflik kita melihat banyak sekali kolaborasi musik yang menggabungkan unsur-unsur agama dalam harmoni yang apik. Kerja sama dalam pembangunan gedung-gedung ibadah atau hari-hari besar agama juga  semarak dilakukan berdasarkan ikatan kekerabatan berbasis kearifan lokal,"ungkapnya.

Namun menurut dia, kekerabatan sosial seperti Pela Gandong ini belum menjadi sistem etika yang mengatur relasi sosial semua orang yang ada di Maluku saat itu. Untuk ini, upaya revitalisasi terus dilakukan sampai menciptakan berbagai model budaya baru yang mengakomodir kemajemukan yang semakin meningkat.

Kesenian dalam hal ini, dipilih sebagai salah satu elemen yang paling kuat untuk mengatasi kendala dimaksud. Di Ambon, berbagai bentuk kesenian dikelola lintasagama, dan biasanya ada embel-embel for peace. Perpaduan rampak musik hadrat yang khas Islam dengan terompet pemuda gereja adalah konsumsi yang sangat serius dalam acara-acara hari besar agama saat ini.

Dia menambahkan, Maluku dan konflik Maluku akhirnya menyisakan pembelajaran yang sangat mahal bagi negeri ini dari berbagai aspek. Termasuk pembelajaran untuk menghargai kearifan lokal dan budaya-budaya luhur bangsa ini yang telah meletakan dasar bagi pembentukan karakter bangsa yang rukun, harmonis, dan bergotong royong.

"Indonesia sangat kaya dari aspek ini, dan dapat menjadi pembelajaran bagi bangsa-bangsa lain. Tugas kita mengawal, menghidupinya dan mengembangkannya, bukan menghancurkannya,"pungkas Jacky.

*Kolaborasi Lintasagama*

Sementara itu, Direktur Pascasarjana UKIM, Pdt. John Ruhulessin menjelaskan secara sosiologis, konflik tetap ada mulai dari kecil hingga besar. Yang perlu dilakukan semua pihak adalah mengendalikan konflik dengan bai supaya tidak membunuh tapi menciptakan perubahan sosial dalam masyarakat.

Pada kondisi ini, agama memilki peran penting. Sebab, secara sosialogis agama punya satu akar yang sama, yakni kedambaan manusia akan hidup yang bermakna.

"Kita boleh mengklaim pemahaman ideologi yang berbeda, tapi akhirnya akan mengarah ke situ. Kita tidak hanya hidup dengan material, tetapi kita perlu sesuatu yang transenden. Di situ kita bicara akan makna hidup,"jelasnya.

Ia mengakui, banyak orang mengatakan konflik Maluku bukan konflik agama. Tetapi, lantas bukan sama sekali berarti bahwa agama lalu cuci tangan.

Olehnya itu, menurut mantan Ketum Sinode GPM dua periode ini, pemahaman tentang kehidupan beragama harus berbasis moral dan etika.

"Semua agama mengajarkan tentang etika. Dan oleh karena itu kita harus memahami kehidupan beragama pada basis etik dan harus kita populerkan,"paparnya.

Ruhulessin juga terus mendorong kolaborasi lntasagama dengan institusi pendidikan. "IAIN Ambon bisa belajar di UKIM, begitu sebaliknya,"pintanya.

Sedangkan Pastor RD. Ignasius S.S. Refo, MA mengingatkan pentingnya kiprah para pendiri bangsa Indonesia yang telah memiliki pengetahuan dan tindakan luar biasa pada masanya, sejak era Sumpah Pemuda 1928 hingga era kemerdekaan. Pemuda masa kini perlu belajar dari mereka dalam merawat perdamaian di Maluku.

"Mereka ini orang-orang yang sangat muda tapi kita bisa belajar dari mereka. Mereka mengimajinasikan Indonesia sebagai sebuah entitas yang nyata, meski waktu itu Indonesia belum ada tahun 1928. Lalu, mereka mampu mewujudkan persatuan dalam keberagaman karena para pemuda berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai suku dan agama,"katanya. (tab)





Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai