AMBON, AT.--Partai Golkar optimis merebut kembali kursi DPR. Calon anggota legislatif yang disiapkan memiliki peluang meraup suara signifikan.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar secara resmi telah menetapkan empat nama sebagai calon anggota DPR Republik Indonesia daerah pemilihan (Dapil) Maluku untuk Pemilu 2024. Mereka adalah Hamza Sangadji, Azia Samual, Ramly Umasugi dan Marlen Petta.
"Kami sudah tetapkan empat nama. Tiga laki laki, Hamzah Sangadji, Azis Samual, Ramly Umasugi dan satu perempuan ibu Marlin Petta," jelas
Koordinator Bidang (Korbid) Kepartaian DPD Golkar Maluku Ridwan Marasabessy kepada Ambon Ekspres, Jumat (5/5).
Nama Bupati Seram Bagian Timur, Abdul Mukti Keliobas juga masuk dalam daftar caleg DPR RI. Namun, yang bersangkutan akhirnya memilih menyelesaikan sisa masa jabatannya yang kurang lebih satu tahun lagi.
"Kemarin nama Pak Mukti Keliobas juga ada, tapi beliau memutuskan untuk menyelesaikan amanah masyarakat SBT untuk menjadi bupati periode kedua ke dua sampai selesai masa periode," sahut Ridwan.
Menurut Ridwan, semua partai politik memiliki keinginan menang dan memperoleh kursi. Begitu juga dengan Golkar.
Olehnya itu, Golkar tidak main-main menyodorkan caleg DPR. Sebab, partai berlambang pohon beringin itu tidak mampu meloloskan kadernya dari Maluku ke Senayan pada Pileg 2019.
"Sebagai partai tua dan partai yang punya pengalaman, Golkar sangat terpukul saat kehilangan kursi. Saya berkeyakinan DPP memutuskan empat nama ini untuk merebut kembali satu kursi Golkar di DPR RI dapil Maluku yang hilang di Pileg 2019 lalu," tegasnya.
Menurut Ridwan, bila sebelumnya pernyataan Murad Ismail optimis PDIP meraih dua kursi, Golkar sebaliknya, tidak memiliki impian lebih, hanya satu kursi.
Sejauh ini konsolidasi internal terus dilakukan, mulai dari DPD I, DPD II, DPC PAC maupun Ranting partai Golkar.
"Konsolidasi partai terus dilakukan. Dengan formasi ini kami optimis Golkar rebut kembali satu kursi yang diambil saat Pileg 2024," pungkas Ridwan.
BERPELUANG
Pengamat Politik Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Said Lestaluhu menilai, Pileg 2024 banyak saingan bagi empat partai yang memiliki kursi saat ini di DPR RI. Masing-masing PDIP, Gerindra, NasDem dan PKS.
Saingan pertama adalah Golkar. Partai beringin itu sejak orde baru selalu punya keterwakilan di DPR RI daerah pemilihan Maluku.
Kelemahan Golkar di 2019, karena calon pendamping tidak terlalu kuat dalam meraup suara. Selain itu formasi calon di setiap partai juga menjadi penentu kemenangan.
"Untuk Pileg, selain tingkat kesukaan pemilih kepada partai, juga faktor ketokohan figur yang diusung. Bila yang diusung tidak punya potensi, mereka kehilangan suara. Olehnya itu, formasi calon harus yang tepat agar menjadi penentu kemenangan," kata Said.
Empat figur Golkar saat ini cukup kuat, karena merupakan sosok figur yang sudah pernah menjabat pada posisi strategis, termasuk ada yang mantan Bupati dua periode.
Dari kekuatan ini, secara akumulasi bisa bersanding dan berpotensi menggusur salah satu dari empat partai petahana saat ini.
"Kalau dari nama nama yang ada, Golkar punya kekuatan dan patut diperhitungkan," bebernya.
Incumbent juga dinilai tetap berusaha pertahankan posisinya. Dan ini sudah terlihat dari kerja kerja mereka yang menjabat anggota DPR RI. Baik Saadiah Uluputty, Hendrik Lewerissa, Abdullah Tuasikal maupun Mercy Barends terus bekerja ekstra di masyarakat. Namun dari empat partai ini, yang memiliki formasi caleg kuat adalah PDIP.
Bahkan rata rata calon yang lolos sebutnya, selama ini mereka sudah mempunyai basis dan jaringan, serta tim sukses yang profesional sudah terbentuk di semua daerah dan dipercayakan masyarakat.
Selain itu, faktor pendukung kemenangan lainnya adalah, partai yang punya calon Presiden memiliki pengaruh terhadap caleg nya dalam perolehan suara.
"Persoalannya sekarang apakah partai lain punya figur bisa diterima masyarakat tingkat bawah atau tidak. Apalagi sebaran pemilih kita di Maluku kebanyakan di Pulau Pulau, bila caleg tidak kerja ekstra dengan menjangkau semua daerah, maka ini sangat berpengaruh dalam perolehan suara makin kecil. Mereka harus memiliki modal yang kuat. Tim sukses yang baik, serta komunikasi politik yang masif,"ungkap Said. (WHB)
Dapatkan sekarang