Gagal Panen, Harga Cabai di Bursel Sentuh Rp 200 Ribu Per Kilogram
Salah seorang pedagang saat berjualan di Pasar Kai Wait Namrole. --Edy/AT.
FaizalLestaluhu
31 Oct 2023 21:17 WIT

Gagal Panen, Harga Cabai di Bursel Sentuh Rp 200 Ribu Per Kilogram

NAMROLE,AT-Musim kemarau yang masih melanda Buru Selatan membuat sejumlah bahan pokok naik. Salah satunya bumbu dapur di sejumlah pasar tradisional di kabupaten bertajuk Lolik Lalen Fedak Fena tersebut. 

Pantauan media ini hingga akhir bulan Oktober 2023, sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan. Tercatat harga cabai rawit mengalami kenaikan selama dua pekan terakhir yang puncaknya pada 30 Oktober berada pada harga Rp 200 ribu per kilogram.

Selain cabai rawit, harga sayur buncis juga mengalami kenaikan harga hingga mencapai Rp 50  per kilogram (kg). Awalnya Rp 25 per kilo. 

Sejumlah harga bahan pokok tersebut diperkirakan akan terus naik. Sebab, musim kemarau yang menyebabkan petani gagal panen, saat ini masih berlangsung.

Para pedagang maupun pembeli di pasar tradisional mengeluhkan adanya kenaikan sejumlah bahan pokok. Salah satunya cabai rawit yang kini harganya melonjak drastis dalam dua pekan terakhir.

"Sangat kami rasakan memang dalam dua minggu ini. Cabai mahal, sebelumnya harga cabai rawit hanya berada di kisaran harga Rp 50-55 ribu per kg. Kini naik di angka Rp 200 ribu per kilo. Kalau cabai merah keriting harganya turun ke angka Rp 30 ribu per kilo, awalnya Rp 60 ribu per kilo nya, " ungkap Rio Santoso, salah seorang pedagang di Pasar Kai Wait Namrole kepada media ini, kemarin. 

Rio mengaku, jika mahalnya cabai rawit disebabkan oleh gagal panen. 

"Musim kemarau buah cabai tidak berbuah maksimal. Dengan begitu hama juga berkembang lebih banyak, jadinya produksi turun, makanya penjualannya juga terbatas, " beber dia. 

Rio mengatakan, naiknya harga cabai juga karena pasokan  ke Pasar  Unit dan Pasar Kai Wait  di Namrole sangat terbatas.

“Kalau cabai rawit ini sulit untuk dapatkan karena stoknya terbatas.  Kita dapat ini juga dari tangan ke tangan atau sudah dari pihak kedua, otomatis harganya melambung,” akuinya.

Rio berharap, ada langkah yang diambil pemerintah kabupaten  Buru Selatan dalam menompang hasil produksi pertanian.

“Dalam beberapa bulan terkahir cuacanya sangat panas, makanya petani gagal panen,” tutup dia. 

Nani, salah seorang pembeli mengaku, harga sayur maupun cabai meroket dalam beberapa hari ini. 

"Biasanya beli cabai per kilo, sekarang tidak bisa karena harganya sangat mahal. Ya, harus ada solusi terbaik dari Pemkab untuk menyelesaikan masalah ini, " singkatnya. 

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Buru Selatan Dominggus Seleky yang dikonfirmasi mengatakan, naiknya sejumlah komisti masyarakat teruatam cabai dan boluncis karena pasokan yang terbatas.

“Kenaikan itu   karena  pasokannya terbatas. Selama ini, dua komoditi itu dipasok dari Ambon maupun dari unit Kabupaten Buru ,” ungkapnya.

Terkait dengan kondisi ini, Seleky berjanji akan melakukan koordinasi dengan pimpinan  guna mengambil langkah-langkah dalam menekan  kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat.

“Saya akan laporkan ke pimpinan untuk kita ambil langkah-langkah yang diperlukan guna mengatasi permasalahan ini,” tutupnya. (SE) 

Dapatkan sekarang

Ambon Terkini, Ringan dan cepat
0 Disukai