AMBON,AT.-Persaingan merebut kursi DPR RI daerah pemilihan Maluku 2024 akan berlangsung ketat. Salah satu faktornya, turunnya empat eks kepala daerah di arena politik limam tahuan ini.
Empat mantan pemimpin daerah, itu adalah Abdullah Tuasikal, Andreas Rentanubun, Ramly Umasugi, dan Herman Adrian Koedoeboen. Tuasikal yang merupakan Bupati Maluku Tengah dua periode 2002–2007 dan 2007–2012, merupakan petahana. Pileg 2019, ia terpilih lewat partai Nasdem.
Di partai besutan Surya Paloh, itu juga ada Andreas Rentanubun. Mantan Bupati Maluku Tenggara dua periode, 2008–2013 dan periode 2013–2018 dan calon wakil gubernur Maluku 2018 itu mencoba peruntungan di Pemilu 2024 sebagai caleg DPR RI, setelah vakum beberapa tahun di pentas politik.
Ramly Umasugi maju dengan Golkar. Bupati Buru periode 2012-2017 dan 2017-2022 yang juga ketua DPD Golkar Maluku itu memperkuat formasi caleg Golkar untuk DPR RI.
Sementara PDI Perjuangan mengusung Herman Koedoeboen, bupati Maluku Tenggara periode 2003–2008, sebagai salah satu calegnya. Ini merupakan kali pertama Herman bertarung di Pileg, setelah dua kali calon wakil gubernur Maluku.
Majunya para eks kepala daerah, tergolong fenomena baru di Maluku. Dengan pengalaman kemenangan di Pilkada dan modal politik yang dimiliki, apakah mereka juga mampu merebut kursi DPR RI dari petahana?
Pengamat politik, Barkah Pattimahu mengatakan, fenomena mantan kepala daerah ikut dalam konstentasi pemilu legislatif DPR dan DPRD sudah bukan hal baru, meski memang tergolong baru di Maluku. Yang sudah terjadi di Maluku adalah kepala daerah meloloskan istri dan anak sebagai wakil di parlemen.
Menurut Barkah, ini merupakan gejala membangun dan menjaga eksistensi keluarga di panggung politik lokal. Meski bagi setiap orang akan memberikan penafsiran berbeda.
“Ada yang menilainya tidak etis namun secara normatif tak ada yang salah mengingat hal ini melalui pemilihan langsung sehingga istilah dinasti tak relevan, seperti yang pertama kali terjadi pada klan keluarga Tuasikal di Maluku Tengah. Hal ini membuat corak baru. Selanjutnya diikuti di SBT, Buru Selatan, pulau Buru,”kata Barkah kepada Ambon Ekspres, Minggu (7/5).
Terkait dengan Pileg 2024 yang diikuti oleh sejumlah eks bupati, kata Barkah, ada muttual interesting (saling menaring kepentingan). Dari sisi partai mencari vote getter (pengambil suara), dan disisi lain tokoh mencari tempat menyalurkan hasrat politiknya.
Dikatakan, Hasrat politik ini dilandasi keinginan untuk merawat eksistensi dalam kancah politik lokal. Hal ini lebih kepada motif politik dan kedua adalah upaya memperkuat ekonomi (motif ekonomi).
“Motif terakhir meski tidak secara eksplisit disebut tetapi fakta bahwa ekonomi menjadi salah satu motif tokoh masuk ke dunia politik. Khususnya eks kepala daerah,”bebernya.
Ia mencontohkan, di Sulawesi ada klan Yasin Limpo, di Banten ada Ratu Atut, sementara di Maluku yang paling populer adalah Tuasikal. Hal ini harus dilihat secara positif karena melalui mekanisme politik sesuai norma hukum di Indonesia.
Tak Mudah Lolos
Namun, menurut Barkah lagi, tidak mudah seorang eks kepala daerah bisa lolos ke Senayan. Ada sejumlah hal yang harus dilihat sebagai faktor pendukung peluang meraup suara.
“Pertama, konsistensi. Apakah setelah menjabat masih menunjukan konsistensi menjaga dan merawat hubungan dengan grassroot. Tidak banyak tokoh memiliki karakter konsistensi politik. Umumnya setelah menjabat kemudian hilang, pola hit and run (tabrak lari),”jelas mantan peneliti senior LSI-Denny JA, itu.
Yang kedua terkait citra, yang berhubungan dengan kinerja selama menjabat dan personality atau pribadi tokoh yang bersangkutan. Ketiga adalah basis pemilih sosiologis.
“Maluku memiliki sekian banyak suku sub etnik berbasis wilayah dan agama. Faktor ini secara teoritik memberikan saham dalam cara pemilih untuk memilih meski ada pula rasionalitas tetapi sedikit prosesntasinya,”papar Direktur Sinergi Data Indonesia (SDI) tersebut.
Keempat adalah modal finansial. Kata dia, popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas adalah hukum besi pilkada langsung. Dan untuk mencapai itu semua butuh pendanaan yang cukup.
Yang paling siap, menurut Barkah, adalah Abdullah Tuasikal. Terlepas dari keempat poin di atas, satu hal yang membuat Tuasikal istimewa adalah karena dia calon petahana.
“Kenapa istimewa? Karena beliau mulai kampanye begitu beliau dilantik sebagai anggota DPR dan memiliki dukungan pendanaan Karena melekat dengan tugas-tugas dewan. Tetapi tentu Abdullah Tuasikal, Ramly Umasugi, Andreas Rentanubun dan Herman Kudubun tidak bisa meloloskan partai tanpa kolaborasi calon lainnya,”pungkasnya.
Analisis politik Universitas Pattimura, Paulus Koritelu mengatakan, majunya bekas kepala daerah sebagai caleg DPR RI patut diapresiasi karena masyarakat disodorkan banyak figur baru untuk dipilih. Hal ini juga menunjukkan gambaran kualitas wakil rakyat Maluku di Senayan nanti jika mereka terpilih.
“Menurut saya, ini bukan sekadar euforia. Justru ini merupakan bentuk selebrasi politik eks kepala daerah yang masih terus bergema. Bukan saja mencari jati diri tetapi untuk memperlihatkan bahwa dinamka saat dia jadi kepala daerah yang diawasi oleh tiga fungsi legislatif, yang merangsang adrenalin politiknya untuk terus maju,”kata pria yang biasa disapa Poly, itu.
Menurut Poly, eks kepala daerah pasti memiliki modal sosial, politik, dan finansial yang tentu mendongkrak popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas mereka. “Tentu, mereka punya relasi sosial dan bisnis yang membuat mereka percaya diri untuk bertarung,”kata dia.
Namun, basis politik mantan kepala daerah di kabupaten/kota masing-masing yang pernah pimpin, kata Poly, belum tentu mendukung mereka secara penuh. Pada konteks inilah, kekuatan finansial sangat berperang penting sebagai pendulang suar
“Apakah eks kepala daerah lainnya memiliki jalan yang sama dengan Abdullah Tuasikal yang terpilih menjadi anggota DPR RI setelah lama tidak menjadi kepala daerah? Saya kira tidak, karena tiga petahan yang lain juga memiliki kesiapan dan pengalaman yang jauh lebih matang. Mereka bukan legislator sembarangan,”jelasnya.
Selain itu, pendatang baru seperti Widya Pratiwi dan Marthin Maspaitella, lanjut Poly, akan mempersempit peluang mantan kepala daerah untuk meraih suara signifikan. Widya merupakan istri Gubernur Maluku Murad Ismail, yang maju lewat PAN
Sedangkan Marthin mantan calon wakil gubernur Maluku 2013 berpasangan dengan Abdullah Vanath, yang memperoleh 383.705 suara kala itu. Kini, dosen UKIM itu mengincar kursi DPR RI lewat PKB.
“Jadi, persaingannya sangat ketat. Tentu, caleg yang memiliki jaringan sosial dan finansial yang berpeluang memenangkan pertarungan dan memperoleh kursi,”ungkapnya.
Di sisi lain, arena Pileg bertabur ‘bintang’ ini, kata jebolan doktor Universitas Indonesia (UI) itu, baik bagi bagi kesehatan demokrasi dan politik Maluku yang semakin berperadaban.
“Calon-calon ini memiliki keunggulan komperatif yang akan dipertaruhkan di gelanggan perpolitikan Pileg yang akan datang. Ini akan menambahkan bobot kecerdasan berpolitik masyarakat Maluku,”katanya.
Selain itu, pemiliih yang baru dan mengambang juga akan memiliki kepastian untuk menentukan pilihan karena figur-figur yang bertarung cukup berkualitas dan berpengalaman.
“Disamping itu, saya menganalisis, akan ada pergeseran pemilih tradisional (traditional voice) ke pemiloih rasional (rational voice) jika melihat komposisi caleg yang memiliki keunggulan komperatif di bidangnya maupun basis wilayah mereka masing-masing,”pungkasnya. (tab)
Dapatkan sekarang